BERITA TERKINI :
Berita Terbaru
Berita Terhangat
DPD PKS Samarinda
Fiqh & Syariah
Keluarga Sakinah
Kiprah DPC Samarinda Ulu
DPRD Provinsi KALTIM
Tausiyah dari Ustadz Kita
Opini Kiriman Pembaca
Kolom Kesehatan ( Akh Haris )
Tampilkan postingan dengan label Renungan dan Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan dan Hikmah. Tampilkan semua postingan
11/22/2012
Oleh Herry Nurdi*
Tidak bermaksud sombong, ujub, apalagi takabur jika saya bercerita tentang beberapa kegiatan yang saya lakukan. Tapi hanya merasa gatal, melihat, membaca, mendengar tragedy yang terjadi di Gaza diadu secara simetris dengan berbagai musibah yang ada di Indonesia.
Israel yang memerangi Gaza dan Palestine mengundang dan menyedot perhatian dari seluruh dunia. Banyak bantuan dan dukungan, lalu tiba-tiba di tengah gelombang simpati itu ada yang berkata, kita punya banyak masalah di negeri sendiri yang harus kita selesaikan, sekurang-kurangnya membantu menyelesaikan.
Kenapa mesti harus diadu begitu?
Sepekan sebelum penyerangan Gaza (kembali) oleh Negara Zionis Israel, saya mempersiapkan tetamu dari negeri jiran yang datang melawat ke Indonesia. Beberapa program sedang kami susun, mengunjungi sahabat saya Kang Tatang, tunanetra pejuang, yang mendirikan SLB ABCD di Bandung yang ia biayai sendiri. Rumah warisan orangtuanya, dijadikan SLB yang menampung puluhan anak-anak tak hanya tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunadaksa, bahkan banyak lagi anak-anak yang tak beruntung lainnya. Kadang Kang Tatang membiayai operasional sekolah ini, dengan cara memijat dan mengurut sopir-sopir angkot di beberapa terminal tempat kliennya berada. Saya mengajak tamu-tamu saya datang ke sana, tidak saja untuk berbagi, tapi saling silaturahim dan mendapatkan inspirasi perjuangan.
Masih di Bandung, tepatnya di Kopo Permai saya mengajak para tetamu untuk berkunjung ke Rumah Seribu Malaikat, sebuah rumah biasa saja. Tapi di dalamnya bermukim puluhan anak-anak dengan beragam cerita. Rumah Seribu Malaikat diambil dari judul buku yang ditulis oleh sahabat yang sudah saya anggap seperti ummi sendiri. Namanya Ummi Yuli dan suaminya, Achmad Badawi.
Dua orangtua luar biasa, mengasuh, mendidik, dan membesarkan anak-anak hasil perkosaan, human trafficking, bayi-bayi yang dibuang hasil perzinahan, jumlahnya mungkin total puluhan. Yang dididik seperti anak-anak sendiri. Kami ingin berbagi dengan para tetamu kami, Indonesia adalah negeri yang besar, dan tentu saja dengan masalah yang besar juga, tapi kami juga tidak akan kehabisan cara untuk mengangkat beban dan meringatkan musibah sesama.
Para tetamu juga akan bersilaturahim dengan ibu-ibu penyapu jalanan di wilayah BSD, yang diasuh oleh para aktivis Muslimah dari Yayasan Al Khansa yang bermarkas di Tangerang Selatan sana. Ibu-ibu penyapu ini, bekerja di bawah terik matahari, diguyur hujan besar, demi mencari nafkah yang hanya dalam hitungan ribuan rupiah saja. Para aktivis Muslimah Al Khansa, mendampingi mereka, mengajari ngaji, memberikan santunan, pengobatan dan menjadi sahabat dalam susah dan senang.
Kami ajak para tetamu menuju ke perkampungan pemulung, tempat ratusan kepala keluarga hidup jauh di bawah garis kemiskinan. Kami bekerjasama menyediakan guru mengaji, untuk mengajarkan iman dan aqidah kepada saudara-saudara ini. Bahkan akhir Desember nanti, para aktivis Muslimah Al Khansa akan menyelenggarakan pernikahan massal untuk penduduk yang nyaris tak punya selembar surat keterangan dari negara ini. Yang sudah daftar lebih dari 140 pasangan, jika kalian melihat mata dan wajahnya, pasti kalian akan terharu dan terbayang berhari-hari lamanya melihat kebahagiaan yang mengambang riang.
Saya sendiri, dengan beberapa teman aktivis Teachers Working Group, para guru pejuang melakukan gerilya dan perlawanan atas carut marutnya pendidikan. Menyebarkan virus motivasi kepada guru-guru Mujahid untuk bekerja dan beribadah dengan cara menjadi tugas pewaris para nabi. Sebab Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menjadi pendidik.”
Melakukan edukasi kepada para guru, agar memberikan yang terbaik dalam hal pendidikan. Kami dibayar? Tidak! Kami diberi bantuan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan? Sepeser pun belum pernah! Kami berusaha menetapkan niat, bekerja untuk kebaikan, demi Allah semata.
Tapi, ketika Gaza diserang dan dizalimi, kami segera melakukan sesuatu juga. Sebelumnya, kami membantu Rohingya, sebelumnya lagi kami membantu Muslim Patani, dan ketika saudara Palestina memanggil, kami segera mengangkat tangan melakukan pekerjaan yang mampu kami lakukan, meski ringan.
Tak pernah sedetikpun pernah melintas dalam pikiran kami, untuk mempertentangkan tragedy yang terjadi di Gaza dan Palestina dengan musibah dan bencana yang ada dan sedang memuncak juga di Indonesia. Tidak sekalimat pun pernah kami pikirkan tentang hal ini. Itu karena memang tugas kita adalah khalifah fiil ardh, kita mendapat tanggung jawab besar dari Allah SWT untuk mengurus segala kejadian yang ada di muka bumi.
Ketika tulisan ini saya buat, sudah ada 120 warga Gaza yang meninggal dunia, semoga syahid seluruhnya, insya Allah. Ratusan lagi terluka, berat dan ringan. Ratusan rumah hancur dan rata dengan tanah, 25 masjid dibombardir oleh Zionis Israel karena dituding sebagai tempat Hamas melakukan mobilisasi dan mengumpulkan kekuatannya.
Sementara Amerika Serikat setiap hari memberikan bantuan puluhan juta dolar Amerika kepada Israel untuk kepentingan agresi militer dan pembantaian yang dilakukannya pada rakyat Palestina. Masak diam saja!?
Oh ya, tadi sore saya menolong seorang SPG yang jatuh tak sadar diri di sebuah pusat perbelanjaan, teman-temannya bilang kesurupan. Dan satu-satunya orang jenggotan yang ada di sekitar tempat itu adalah saya, maka otomatis saya harus memberikan pertolongan. Kesimpulan saya, setelah SPG ini sadar dan siuman, dia bukan kesurupan, tapi beban kehidupannya sangat banyak dan berat. Belum sarapan dan belum makan siang, mungkin tak ada uang. Di tengah cuaca dan musim penghujan yang lebat serta dingin AC yang hebat.
Suami dan anaknya diminta datang menjemput dan membawa pulang. Dan memang, nampaknya beliau banyak pikiran dan beban. Kami, saya dan istri, membantunya, mengangkat beban, secepatnya, dan setelah itu saya kembali ngetwit tentang perkembangan Palestina dan me-RT kejadian-kejadian terakhir dari Gaza. Sekurang-kurangnya, itu yang bisa saya lakukan sore tadi.
Tidak perlu mempertentangkan kebaikan-kebaikan yang bisa kita lakukan. Tidak perlu juga membanding-bandingkan berbagai masalah yang terjadi di sekitar kita dengan musibah-musibah yang jauh di pelupuk mata. Tidak perlu!
Lakukan sebisanya. Lakukan semampunya. Lakukan sebaiknya-baiknya. Insya Allah, nanti kita janjian bertemu di tempat yang mulia, tempat yang dijanjikan Allah pada hamba-hamba-Nya yang melakukan sesuatu dengan niat sempurna. Salam rahmat untuk antum semua. (@herrynurdi)
*http://herrynurdi.com/2012/11/20/mengapa-menolong-gaza/
Mengapa Menolong Gaza? Sementara di negeri sendiri banyak masalah... | catatan seorang relawan
22/11/12
Oleh Herry Nurdi*
Tidak bermaksud sombong, ujub, apalagi takabur jika saya bercerita tentang beberapa kegiatan yang saya lakukan. Tapi hanya merasa gatal, melihat, membaca, mendengar tragedy yang terjadi di Gaza diadu secara simetris dengan berbagai musibah yang ada di Indonesia.
Israel yang memerangi Gaza dan Palestine mengundang dan menyedot perhatian dari seluruh dunia. Banyak bantuan dan dukungan, lalu tiba-tiba di tengah gelombang simpati itu ada yang berkata, kita punya banyak masalah di negeri sendiri yang harus kita selesaikan, sekurang-kurangnya membantu menyelesaikan.
Kenapa mesti harus diadu begitu?
Sepekan sebelum penyerangan Gaza (kembali) oleh Negara Zionis Israel, saya mempersiapkan tetamu dari negeri jiran yang datang melawat ke Indonesia. Beberapa program sedang kami susun, mengunjungi sahabat saya Kang Tatang, tunanetra pejuang, yang mendirikan SLB ABCD di Bandung yang ia biayai sendiri. Rumah warisan orangtuanya, dijadikan SLB yang menampung puluhan anak-anak tak hanya tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunadaksa, bahkan banyak lagi anak-anak yang tak beruntung lainnya. Kadang Kang Tatang membiayai operasional sekolah ini, dengan cara memijat dan mengurut sopir-sopir angkot di beberapa terminal tempat kliennya berada. Saya mengajak tamu-tamu saya datang ke sana, tidak saja untuk berbagi, tapi saling silaturahim dan mendapatkan inspirasi perjuangan.
Masih di Bandung, tepatnya di Kopo Permai saya mengajak para tetamu untuk berkunjung ke Rumah Seribu Malaikat, sebuah rumah biasa saja. Tapi di dalamnya bermukim puluhan anak-anak dengan beragam cerita. Rumah Seribu Malaikat diambil dari judul buku yang ditulis oleh sahabat yang sudah saya anggap seperti ummi sendiri. Namanya Ummi Yuli dan suaminya, Achmad Badawi.
Dua orangtua luar biasa, mengasuh, mendidik, dan membesarkan anak-anak hasil perkosaan, human trafficking, bayi-bayi yang dibuang hasil perzinahan, jumlahnya mungkin total puluhan. Yang dididik seperti anak-anak sendiri. Kami ingin berbagi dengan para tetamu kami, Indonesia adalah negeri yang besar, dan tentu saja dengan masalah yang besar juga, tapi kami juga tidak akan kehabisan cara untuk mengangkat beban dan meringatkan musibah sesama.
Para tetamu juga akan bersilaturahim dengan ibu-ibu penyapu jalanan di wilayah BSD, yang diasuh oleh para aktivis Muslimah dari Yayasan Al Khansa yang bermarkas di Tangerang Selatan sana. Ibu-ibu penyapu ini, bekerja di bawah terik matahari, diguyur hujan besar, demi mencari nafkah yang hanya dalam hitungan ribuan rupiah saja. Para aktivis Muslimah Al Khansa, mendampingi mereka, mengajari ngaji, memberikan santunan, pengobatan dan menjadi sahabat dalam susah dan senang.
Kami ajak para tetamu menuju ke perkampungan pemulung, tempat ratusan kepala keluarga hidup jauh di bawah garis kemiskinan. Kami bekerjasama menyediakan guru mengaji, untuk mengajarkan iman dan aqidah kepada saudara-saudara ini. Bahkan akhir Desember nanti, para aktivis Muslimah Al Khansa akan menyelenggarakan pernikahan massal untuk penduduk yang nyaris tak punya selembar surat keterangan dari negara ini. Yang sudah daftar lebih dari 140 pasangan, jika kalian melihat mata dan wajahnya, pasti kalian akan terharu dan terbayang berhari-hari lamanya melihat kebahagiaan yang mengambang riang.
Saya sendiri, dengan beberapa teman aktivis Teachers Working Group, para guru pejuang melakukan gerilya dan perlawanan atas carut marutnya pendidikan. Menyebarkan virus motivasi kepada guru-guru Mujahid untuk bekerja dan beribadah dengan cara menjadi tugas pewaris para nabi. Sebab Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menjadi pendidik.”
Melakukan edukasi kepada para guru, agar memberikan yang terbaik dalam hal pendidikan. Kami dibayar? Tidak! Kami diberi bantuan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan? Sepeser pun belum pernah! Kami berusaha menetapkan niat, bekerja untuk kebaikan, demi Allah semata.
Tapi, ketika Gaza diserang dan dizalimi, kami segera melakukan sesuatu juga. Sebelumnya, kami membantu Rohingya, sebelumnya lagi kami membantu Muslim Patani, dan ketika saudara Palestina memanggil, kami segera mengangkat tangan melakukan pekerjaan yang mampu kami lakukan, meski ringan.
Tak pernah sedetikpun pernah melintas dalam pikiran kami, untuk mempertentangkan tragedy yang terjadi di Gaza dan Palestina dengan musibah dan bencana yang ada dan sedang memuncak juga di Indonesia. Tidak sekalimat pun pernah kami pikirkan tentang hal ini. Itu karena memang tugas kita adalah khalifah fiil ardh, kita mendapat tanggung jawab besar dari Allah SWT untuk mengurus segala kejadian yang ada di muka bumi.
Ketika tulisan ini saya buat, sudah ada 120 warga Gaza yang meninggal dunia, semoga syahid seluruhnya, insya Allah. Ratusan lagi terluka, berat dan ringan. Ratusan rumah hancur dan rata dengan tanah, 25 masjid dibombardir oleh Zionis Israel karena dituding sebagai tempat Hamas melakukan mobilisasi dan mengumpulkan kekuatannya.
Sementara Amerika Serikat setiap hari memberikan bantuan puluhan juta dolar Amerika kepada Israel untuk kepentingan agresi militer dan pembantaian yang dilakukannya pada rakyat Palestina. Masak diam saja!?
Oh ya, tadi sore saya menolong seorang SPG yang jatuh tak sadar diri di sebuah pusat perbelanjaan, teman-temannya bilang kesurupan. Dan satu-satunya orang jenggotan yang ada di sekitar tempat itu adalah saya, maka otomatis saya harus memberikan pertolongan. Kesimpulan saya, setelah SPG ini sadar dan siuman, dia bukan kesurupan, tapi beban kehidupannya sangat banyak dan berat. Belum sarapan dan belum makan siang, mungkin tak ada uang. Di tengah cuaca dan musim penghujan yang lebat serta dingin AC yang hebat.
Suami dan anaknya diminta datang menjemput dan membawa pulang. Dan memang, nampaknya beliau banyak pikiran dan beban. Kami, saya dan istri, membantunya, mengangkat beban, secepatnya, dan setelah itu saya kembali ngetwit tentang perkembangan Palestina dan me-RT kejadian-kejadian terakhir dari Gaza. Sekurang-kurangnya, itu yang bisa saya lakukan sore tadi.
Tidak perlu mempertentangkan kebaikan-kebaikan yang bisa kita lakukan. Tidak perlu juga membanding-bandingkan berbagai masalah yang terjadi di sekitar kita dengan musibah-musibah yang jauh di pelupuk mata. Tidak perlu!
Lakukan sebisanya. Lakukan semampunya. Lakukan sebaiknya-baiknya. Insya Allah, nanti kita janjian bertemu di tempat yang mulia, tempat yang dijanjikan Allah pada hamba-hamba-Nya yang melakukan sesuatu dengan niat sempurna. Salam rahmat untuk antum semua. (@herrynurdi)
*http://herrynurdi.com/2012/11/20/mengapa-menolong-gaza/
5/07/2012
Rumah nan asri di dusun Mertosanan, Bantul, Yogyakarta tadi malam (Senin, 7/5/12) ramai selepas isya. Para ikhwah dari beberapa dusun tetangga berkumpul memenuhi undangan sohibul bait, ustadz Cahyadi Takariawan, salah satu sesepuh dan muasis dakwah Yogyakarta.
Ini memang bukan acara formal. Pak Cah hanya ingin ngobrol santai dengan ikhwah-ikhwah yang tinggal disekitarnya memanfaatkan waktu mumpung Pak Cah ada di rumah. Beliau yang saat ini diamanahi sebagai Sekretaris MPP PKS hari kerjanya Selasa-Rabu-Kamis di DPP, Jum'at balik Jogja, Sabtu-Ahad 'ngamen' keliling memenuhi undangan seminar, bedah buku, dauroh, dll baik dalam maupun luar negeri, lalu Senin balik lagi ke Jogja. Kata 'ngamen' memang asli istilah yang diucapkan Pak Cah tadi malam sambil guyonan. Dan sebagaimana Jogja yang berhati nyaman, setiap ikhwah berkumpul gak bakal lepas dari guyonan yang menyegarkan.
Acara berlangsung dalam suasana penuh kehangatan dan keakraban. Begitu datang, para ikhwah langsung dipersilakan tuan rumah untuk menikmati hidangan mie godog yang sudah disediakan.
Setelah itu, acara "30 Tahun Refleksi Perjalanan Jama'ah Tarbiyah" dimulai dengan dipandu oleh pak @setiya_jogja.
Ustadz Cahyadi sepanjang rangkain kata menuturkan sejarah tarbiyah, dari mana dia bermula, bagaimana dia terus berjalan, hingga 30 tahun kemudian biidznillah atas karuniaNya pohon itu sudah bercabang dan berbuah dimana-mana yang para muasis saja tidak mengira.
30 tahun? Ya. Bermula dari empat orang di tahun 1982 yang berjanji setia sesama mereka untuk mengusung dakwah ini. Ustadz Hilmi, ustadz Salim, usatdz Baharmus, dan yang satu almarhum. Mereka menyemai dakwah tanpa kenal lelah, hanya bermodal tsiqoh billah.
Jalan mereka adalah tarbiyah. Senjata mereka adalah akhlak. Benteng mereka tsabat. Nafas mereka kesabaran. Dengan itu mereka menaklukan jutaan hati yang berpadu dan bergabung hanya karena satu ikatan: ikatan cinta di jalan Allah.
Keinginan mereka hanya satu: menyemai kebaikan di bumi pertiwi. Karena mereka hanyalah penerus risalah yang tidak merobah tujuan asasi:
َูู َุง ุฃَุฑْุณََْููุงَู ุฅَِّูุง ุฑَุญْู َุฉً ِّْููุนَุงَูู َِูู
"Betapa inginnya kami agar umat ini mengetahui bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri. Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur sebagai penebus bagi kehormatan mereka, jika memang tebusan itu yang diperlukan. Atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan, dan terwujudnya cita-cita mereka, jika memang itu harga yang harus dibayar. Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti itu selain rasa cinta yang telah mengharu biru hati kami, menguasai perasaan kami, memeras habis air mata kami. Betapa berat rasa di hati ketika kami menyaksikan bencana yang mencabik-cabik umat ini, sementara kita hanya pasrah oleh keputusasaan."
"Sungguh, kami berbuat di jalan Allah untuk kemaslahatan seluruh manusia, lebih banyak dari apa yang kami lakukan untuk kepentingan diri kami. Kami adalah milik kalian wahai saudara-saudara tercinta. Sesaat pun kami tak akan pernah menjadi musuh kalian." [Hasan Al-Banna]
Begitulah dakwah ini akan terus berjalan, di atas misi itu, misi cinta bukan permusuhan. Sebab, kata Anis Matta, cinta membuat kita menikmati hidup dalam perjuangan dan benci membuat orang lelah bahkan dalam kenikmatan. Dalam sejarah manusia kebencian tidak pernah bisa mengalahkan cinta, sebab cinta memberi kita energi positif dan membuat kita nyaman hadapi tantangan. Kita menang bukan karena kita berkuasa tapi karena kebenaran jadi nyata dalam kehidupan manusia, itu hanya mungkin karena cinta.
ุฑَุจََّูุง ุงุบِْูุฑْ ََููุง َِููุฅِุฎَْูุงَِููุง ุงَّูุฐَِูู ุณَุจََُูููุง ุจِุงْูุฅِูู َุงِู ََููุง ุชَุฌْุนَْู ِูู ُُูููุจَِูุง ุบًِّูุง َِّّููุฐَِูู ุขู َُููุง ุฑَุจََّูุง ุฅََِّูู ุฑَุกٌُูู ุฑَّุญِูู ٌ
"Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang".
Sumber : WWW.PKSPIYUNGAN.ORG
Lesehan Bersama Pak Cah, "Refleksi 30 Tahun Perjalanan Tarbiyah" (1982-2012)
07/05/12
Rumah nan asri di dusun Mertosanan, Bantul, Yogyakarta tadi malam (Senin, 7/5/12) ramai selepas isya. Para ikhwah dari beberapa dusun tetangga berkumpul memenuhi undangan sohibul bait, ustadz Cahyadi Takariawan, salah satu sesepuh dan muasis dakwah Yogyakarta.
Ini memang bukan acara formal. Pak Cah hanya ingin ngobrol santai dengan ikhwah-ikhwah yang tinggal disekitarnya memanfaatkan waktu mumpung Pak Cah ada di rumah. Beliau yang saat ini diamanahi sebagai Sekretaris MPP PKS hari kerjanya Selasa-Rabu-Kamis di DPP, Jum'at balik Jogja, Sabtu-Ahad 'ngamen' keliling memenuhi undangan seminar, bedah buku, dauroh, dll baik dalam maupun luar negeri, lalu Senin balik lagi ke Jogja. Kata 'ngamen' memang asli istilah yang diucapkan Pak Cah tadi malam sambil guyonan. Dan sebagaimana Jogja yang berhati nyaman, setiap ikhwah berkumpul gak bakal lepas dari guyonan yang menyegarkan.
Acara berlangsung dalam suasana penuh kehangatan dan keakraban. Begitu datang, para ikhwah langsung dipersilakan tuan rumah untuk menikmati hidangan mie godog yang sudah disediakan.
Setelah itu, acara "30 Tahun Refleksi Perjalanan Jama'ah Tarbiyah" dimulai dengan dipandu oleh pak @setiya_jogja.
Ustadz Cahyadi sepanjang rangkain kata menuturkan sejarah tarbiyah, dari mana dia bermula, bagaimana dia terus berjalan, hingga 30 tahun kemudian biidznillah atas karuniaNya pohon itu sudah bercabang dan berbuah dimana-mana yang para muasis saja tidak mengira.
30 tahun? Ya. Bermula dari empat orang di tahun 1982 yang berjanji setia sesama mereka untuk mengusung dakwah ini. Ustadz Hilmi, ustadz Salim, usatdz Baharmus, dan yang satu almarhum. Mereka menyemai dakwah tanpa kenal lelah, hanya bermodal tsiqoh billah.
Jalan mereka adalah tarbiyah. Senjata mereka adalah akhlak. Benteng mereka tsabat. Nafas mereka kesabaran. Dengan itu mereka menaklukan jutaan hati yang berpadu dan bergabung hanya karena satu ikatan: ikatan cinta di jalan Allah.
Keinginan mereka hanya satu: menyemai kebaikan di bumi pertiwi. Karena mereka hanyalah penerus risalah yang tidak merobah tujuan asasi:
َูู َุง ุฃَุฑْุณََْููุงَู ุฅَِّูุง ุฑَุญْู َุฉً ِّْููุนَุงَูู َِูู
"Betapa inginnya kami agar umat ini mengetahui bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri. Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur sebagai penebus bagi kehormatan mereka, jika memang tebusan itu yang diperlukan. Atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan, dan terwujudnya cita-cita mereka, jika memang itu harga yang harus dibayar. Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti itu selain rasa cinta yang telah mengharu biru hati kami, menguasai perasaan kami, memeras habis air mata kami. Betapa berat rasa di hati ketika kami menyaksikan bencana yang mencabik-cabik umat ini, sementara kita hanya pasrah oleh keputusasaan."
"Sungguh, kami berbuat di jalan Allah untuk kemaslahatan seluruh manusia, lebih banyak dari apa yang kami lakukan untuk kepentingan diri kami. Kami adalah milik kalian wahai saudara-saudara tercinta. Sesaat pun kami tak akan pernah menjadi musuh kalian." [Hasan Al-Banna]
Begitulah dakwah ini akan terus berjalan, di atas misi itu, misi cinta bukan permusuhan. Sebab, kata Anis Matta, cinta membuat kita menikmati hidup dalam perjuangan dan benci membuat orang lelah bahkan dalam kenikmatan. Dalam sejarah manusia kebencian tidak pernah bisa mengalahkan cinta, sebab cinta memberi kita energi positif dan membuat kita nyaman hadapi tantangan. Kita menang bukan karena kita berkuasa tapi karena kebenaran jadi nyata dalam kehidupan manusia, itu hanya mungkin karena cinta.
ุฑَุจََّูุง ุงุบِْูุฑْ ََููุง َِููุฅِุฎَْูุงَِููุง ุงَّูุฐَِูู ุณَุจََُูููุง ุจِุงْูุฅِูู َุงِู ََููุง ุชَุฌْุนَْู ِูู ُُูููุจَِูุง ุบًِّูุง َِّّููุฐَِูู ุขู َُููุง ุฑَุจََّูุง ุฅََِّูู ุฑَุกٌُูู ุฑَّุญِูู ٌ
"Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang".
Sumber : WWW.PKSPIYUNGAN.ORG
4/29/2012
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Devi Anggraini Oktavika
Sikap kritisnya terhadap logika keberadaan Tuhan membawanyanya pada atheisme di usia remaja. Namun, kekalahan logikanya oleh Alquran sepuluh tahun kemudian membimbing profesor Matematika ini pada Islam, agama yang pernah hadir dalam mimpinya.
***
"Ayah, apakah surga itu benar-benar ada?" Jeffrey Lang kecil bertanya kepada ayahnya saat berjalan-jalan bersama anjing peliharaannya di pantai, sekitar 50 tahun lalu.
Kini, Jeffrey adalah seorang profesor Matematika yang memperoleh gelar master dan doktor dari Purdue University, West Lafayette, Indiana pada 1981. Pertanyaan yang pernah dilontarkannya saat masih kanak-kanak itu kini terjawab sudah. Dosen dan peneliti di Universitas Kansas Amerika Serikat ini menemukannya dalam Islam, 32 tahun lalu.
Lahir pada 30 Januari 1954 di Bridgeport, Connecticut, Jeffrey dibesarkan di tengah keluarga dan lingkungan Katolik Roma. Selama 18 tahun pertama dalam hidupnya, ia belajar di sekolah-sekolah Katolik, di mana ia bertemu pendeta dan teman-teman dari latar belakang agama yang sama.
Hidup di lingkungan Katolik tak begitu saja menjadikan Jeffrey seorang pemeluk agama yang taat. Sikap kritis yang dimilikinya sejak kecil justru menjauhkannya dari agama keluarganya itu. Diskusi-diskusi yang dibangunnya dengan orang tua, pendeta sekolah, dan teman-teman sekolahnya tak pernah berhasil menjawab pertanyaannya tentang keberadaan Tuhan.
“Pada masa itu, aku sudah mulai banyak bertanya tentang nilai-nilai kehidupan, baik secara politik, sosial, maupun keagamaan. Aku bahkan sering bertengkar dengan banyak kalangan untuk memperdebatkan hal itu, termasuk dengan pemuka gereja Katolik,’’ tulisnya dalam salah satu buku tentang perjalanannya menemukan Islam.
Menjelang kelulusannya dari sekolah Notre Dam Boys High, saat usianya 18 tahun, Jeffrey merasa kebuntuan logika tentang Tuhan hanya menyisakan satu pilihan baginya; menjadi atheis. Sang ayah yang marah dengan pilihan Jeffrey berkata, "Tuhan akan membuatmu tertunduk, Jeffrey."
Ucapan ayahnya benar-benar terjadi. Jeffrey tertunduk dan bersimpuh di hadapan Tuhan pada suatu malam, dalam sebuah mimpi.
Dalam mimpinya, Jeffrey berada di dalam sebuah ruangan kecil yang tenang dan hening. “Tak ada perabot apapun, tidak juga hiasan apapun di dindingnya yang berwarna putih keabuan. Hanya ada karpet bermotif dengan warna dominan merah dan putih menutupi lantai ruangan,” katanya.
Jeffrey menambahkan, dirinya tak sendiri di dalam ruangan itu. Ia dan beberapa orang lainnya berada dalam beberapa barisan. “Aku ada di barisan ketiga. Tak ada perempuan di sana, hanya laki-laki. Kami semua duduk di atas tumit-tumit kami, menghadap sebuah jendela kecil yang membawa cahaya yang terang benderang ke dalam ruangan.”
Jeffrey merasa asing karena tak mengenal siapapun, namun melakukan gerakan ruku’ dan sujud bersama dan seirama. “Tenang sekali, seolah seluruh suara dimatikan,” katanya. Masih dalam mimpinya, di tengah keheningan itu, Jeffrey tersadar bahwa mereka dipimpin seseorang yang berdiri paling depan di bagian tengah ruangan. “Ia berada di sisi kiriku, tepat di tengah ruangan, terpisah dari barisan.”
“Aku hanya sempat melihatnya sekilas, pria itu memakai jubah panjang putih. Di kepalanya terdapat sebuah kain putih dengan motif merah. Saat itulah aku terbangun dari mimpiku.”
Mimpi itu berulang kali menghampiri Jeffrey di sepanjang 10 tahun kehidupan tanpa Tuhan yang dijalaninya. Karena sama sekali tak mengerti, Jeffrey mengabaikannya. Hanya saja, satu hal yang tak dilupakan Jeffrey, “Aku selalu merasa nyaman setiap terbangun dari mimpi aneh itu.”
***
Sepuluh tahun kemudian, di hari pertamanya mengajar di University of San Fransisco, Jeffrey bertemu seorang mahasiswa Muslim di kelas Matematika yang diampunya. Dalam rentang waktu yang cukup singkat, Jeffrey telah menjalin pertemanan dengan mahasiswa Muslim itu, juga keluarganya. Keduanya sering berbincang dan berdiskusi, namun tak pernah membahas soal agama.
Hingga pada suatu waktu, salah seorang keluarga mahasiswa Muslim itu memberi Jeffrey sebuah salinan Alquran. Karena tak sedang mencari agama, dan sebagai seorang ateis, Jeffrey membacanya dengan berbagai prasangka di otaknya.
Jeffrey pun segera terlibat dalam apa yang disebutnya pergulatan. “Alquran menyerangku secara langsung dan personal, mengkritik, mempermalukan, dan menantangku. Sejak awal, kitab itu menorehkan garis peperangan, dan aku berada di wilayah yang berseberangan,” katanya.
“Anda tidak bisa hanya membaca Alquran. Tidak akan bisa jika Anda melakukannya dengan serius. Pilihannya (ketika Anda membaca Alquran) adalah, pertama, Anda telah menyerah padanya atau, kedua, Anda menantangnya.”
Jeffrey kewalahan. Ia kebingungan. “Aku menderita kekalahan parah. Karena saat membacanya, sangat jelas kurasakan bahwa Penulisnya (Allah SWT) mengetahui tentangku lebih baik daripada aku mengenal diriku sendiri,” ujarnya takjub.
Ketakjuban itu bertambah. Ketika Jeffrey memunculkan pertanyaan dan sanggahan baru dalam otaknya setiap selesai membaca Alquran hingga bagian tertentu, ia segera memperoleh jawabannya saat meneruskan bacaannya. “Seolah Penulis kitab itu membaca pikiranku.”
“Alquran selalu berada jauh di depan pemikiranku. Ia menghapus rintangan yang telah kubangun bertahun-tahun lalu dan menjawab semua pertanyaanku,” katanya. Semakin keras ia mencoba melawan dengan sanggahan dan pertanyaan, semakin jelas ia memperoleh kekalahan dalam pergulatan itu. “Aku dituntun ke sebuah sudut di mana hanya ada satu pilihan.”
***
Tahun 1982, Jeffrey mendapati sejumlah kecil mahasiswa Muslim memanfaatkan sebuah ruangan kecil di basement gereja untuk shalat. Ia memberanikan diri mengunjungi tempat itu pada suatu hari. Setelah beberapa jam di ruangan kecil itu, Jeffrey keluar dengan sebuah identitas baru; Muslim.
Ia telah bersyahadat di sana, beberapa saat menjelang tengah hari. Memasuki waktu Dzuhur ia berbaur dan berdiri dalam barisan bersama para mahasiswa, dipimpin seorang bernama Ghassan. Jeffrey menunaikan shalat pertamanya.
Jeffrey terlarut dalam setiap gerakan shalat yang diikutinya. Saat menyelesaikan gerakan sujud dan melakukan duduk iftirasy, Jeffrey melihat ke arah depan dan melihat Ghassan. “Ia berada di sisi kiriku, di tengah-tengah di depan sana, di bawah jendela yang menghujani ruangan dengan cahaya. Ia terpisah dari barisan, mengenakan jubah putih, dengan selendang putih bermotif merah di kepalanya.”
“Mimpi itu!,” teriaknya dalam hati. Setelah berhasil meyakinkan dirinya bahwa ia tak sedang bermimpi, Jeffrey disergap rasa hangat yang mendamaikan hatinya.
Ia berlutut dengan kening menyentuh lantai. Bagian tertinggi raganya yang penuh dengan berbagai pengetahuan dan intelektualitas berada di titik terendah, dalam sebuah penyerahan total kepada Allah SWT. Pipi Jeffrey basah oleh air mata
Sumber : http://WWW.REPUBLIKA.CO.ID
Jeffrey Lang: Takjub dengan Alquran, Profesor Matematika itu Memeluk Islam
29/04/12
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Devi Anggraini Oktavika
Sikap kritisnya terhadap logika keberadaan Tuhan membawanyanya pada atheisme di usia remaja. Namun, kekalahan logikanya oleh Alquran sepuluh tahun kemudian membimbing profesor Matematika ini pada Islam, agama yang pernah hadir dalam mimpinya.
***
"Ayah, apakah surga itu benar-benar ada?" Jeffrey Lang kecil bertanya kepada ayahnya saat berjalan-jalan bersama anjing peliharaannya di pantai, sekitar 50 tahun lalu.
Kini, Jeffrey adalah seorang profesor Matematika yang memperoleh gelar master dan doktor dari Purdue University, West Lafayette, Indiana pada 1981. Pertanyaan yang pernah dilontarkannya saat masih kanak-kanak itu kini terjawab sudah. Dosen dan peneliti di Universitas Kansas Amerika Serikat ini menemukannya dalam Islam, 32 tahun lalu.
Lahir pada 30 Januari 1954 di Bridgeport, Connecticut, Jeffrey dibesarkan di tengah keluarga dan lingkungan Katolik Roma. Selama 18 tahun pertama dalam hidupnya, ia belajar di sekolah-sekolah Katolik, di mana ia bertemu pendeta dan teman-teman dari latar belakang agama yang sama.
Hidup di lingkungan Katolik tak begitu saja menjadikan Jeffrey seorang pemeluk agama yang taat. Sikap kritis yang dimilikinya sejak kecil justru menjauhkannya dari agama keluarganya itu. Diskusi-diskusi yang dibangunnya dengan orang tua, pendeta sekolah, dan teman-teman sekolahnya tak pernah berhasil menjawab pertanyaannya tentang keberadaan Tuhan.
“Pada masa itu, aku sudah mulai banyak bertanya tentang nilai-nilai kehidupan, baik secara politik, sosial, maupun keagamaan. Aku bahkan sering bertengkar dengan banyak kalangan untuk memperdebatkan hal itu, termasuk dengan pemuka gereja Katolik,’’ tulisnya dalam salah satu buku tentang perjalanannya menemukan Islam.
Menjelang kelulusannya dari sekolah Notre Dam Boys High, saat usianya 18 tahun, Jeffrey merasa kebuntuan logika tentang Tuhan hanya menyisakan satu pilihan baginya; menjadi atheis. Sang ayah yang marah dengan pilihan Jeffrey berkata, "Tuhan akan membuatmu tertunduk, Jeffrey."
Ucapan ayahnya benar-benar terjadi. Jeffrey tertunduk dan bersimpuh di hadapan Tuhan pada suatu malam, dalam sebuah mimpi.
Dalam mimpinya, Jeffrey berada di dalam sebuah ruangan kecil yang tenang dan hening. “Tak ada perabot apapun, tidak juga hiasan apapun di dindingnya yang berwarna putih keabuan. Hanya ada karpet bermotif dengan warna dominan merah dan putih menutupi lantai ruangan,” katanya.
Jeffrey menambahkan, dirinya tak sendiri di dalam ruangan itu. Ia dan beberapa orang lainnya berada dalam beberapa barisan. “Aku ada di barisan ketiga. Tak ada perempuan di sana, hanya laki-laki. Kami semua duduk di atas tumit-tumit kami, menghadap sebuah jendela kecil yang membawa cahaya yang terang benderang ke dalam ruangan.”
Jeffrey merasa asing karena tak mengenal siapapun, namun melakukan gerakan ruku’ dan sujud bersama dan seirama. “Tenang sekali, seolah seluruh suara dimatikan,” katanya. Masih dalam mimpinya, di tengah keheningan itu, Jeffrey tersadar bahwa mereka dipimpin seseorang yang berdiri paling depan di bagian tengah ruangan. “Ia berada di sisi kiriku, tepat di tengah ruangan, terpisah dari barisan.”
“Aku hanya sempat melihatnya sekilas, pria itu memakai jubah panjang putih. Di kepalanya terdapat sebuah kain putih dengan motif merah. Saat itulah aku terbangun dari mimpiku.”
Mimpi itu berulang kali menghampiri Jeffrey di sepanjang 10 tahun kehidupan tanpa Tuhan yang dijalaninya. Karena sama sekali tak mengerti, Jeffrey mengabaikannya. Hanya saja, satu hal yang tak dilupakan Jeffrey, “Aku selalu merasa nyaman setiap terbangun dari mimpi aneh itu.”
***
Sepuluh tahun kemudian, di hari pertamanya mengajar di University of San Fransisco, Jeffrey bertemu seorang mahasiswa Muslim di kelas Matematika yang diampunya. Dalam rentang waktu yang cukup singkat, Jeffrey telah menjalin pertemanan dengan mahasiswa Muslim itu, juga keluarganya. Keduanya sering berbincang dan berdiskusi, namun tak pernah membahas soal agama.
Hingga pada suatu waktu, salah seorang keluarga mahasiswa Muslim itu memberi Jeffrey sebuah salinan Alquran. Karena tak sedang mencari agama, dan sebagai seorang ateis, Jeffrey membacanya dengan berbagai prasangka di otaknya.
Jeffrey pun segera terlibat dalam apa yang disebutnya pergulatan. “Alquran menyerangku secara langsung dan personal, mengkritik, mempermalukan, dan menantangku. Sejak awal, kitab itu menorehkan garis peperangan, dan aku berada di wilayah yang berseberangan,” katanya.
“Anda tidak bisa hanya membaca Alquran. Tidak akan bisa jika Anda melakukannya dengan serius. Pilihannya (ketika Anda membaca Alquran) adalah, pertama, Anda telah menyerah padanya atau, kedua, Anda menantangnya.”
Jeffrey kewalahan. Ia kebingungan. “Aku menderita kekalahan parah. Karena saat membacanya, sangat jelas kurasakan bahwa Penulisnya (Allah SWT) mengetahui tentangku lebih baik daripada aku mengenal diriku sendiri,” ujarnya takjub.
Ketakjuban itu bertambah. Ketika Jeffrey memunculkan pertanyaan dan sanggahan baru dalam otaknya setiap selesai membaca Alquran hingga bagian tertentu, ia segera memperoleh jawabannya saat meneruskan bacaannya. “Seolah Penulis kitab itu membaca pikiranku.”
“Alquran selalu berada jauh di depan pemikiranku. Ia menghapus rintangan yang telah kubangun bertahun-tahun lalu dan menjawab semua pertanyaanku,” katanya. Semakin keras ia mencoba melawan dengan sanggahan dan pertanyaan, semakin jelas ia memperoleh kekalahan dalam pergulatan itu. “Aku dituntun ke sebuah sudut di mana hanya ada satu pilihan.”
***
Tahun 1982, Jeffrey mendapati sejumlah kecil mahasiswa Muslim memanfaatkan sebuah ruangan kecil di basement gereja untuk shalat. Ia memberanikan diri mengunjungi tempat itu pada suatu hari. Setelah beberapa jam di ruangan kecil itu, Jeffrey keluar dengan sebuah identitas baru; Muslim.
Ia telah bersyahadat di sana, beberapa saat menjelang tengah hari. Memasuki waktu Dzuhur ia berbaur dan berdiri dalam barisan bersama para mahasiswa, dipimpin seorang bernama Ghassan. Jeffrey menunaikan shalat pertamanya.
Jeffrey terlarut dalam setiap gerakan shalat yang diikutinya. Saat menyelesaikan gerakan sujud dan melakukan duduk iftirasy, Jeffrey melihat ke arah depan dan melihat Ghassan. “Ia berada di sisi kiriku, di tengah-tengah di depan sana, di bawah jendela yang menghujani ruangan dengan cahaya. Ia terpisah dari barisan, mengenakan jubah putih, dengan selendang putih bermotif merah di kepalanya.”
“Mimpi itu!,” teriaknya dalam hati. Setelah berhasil meyakinkan dirinya bahwa ia tak sedang bermimpi, Jeffrey disergap rasa hangat yang mendamaikan hatinya.
Ia berlutut dengan kening menyentuh lantai. Bagian tertinggi raganya yang penuh dengan berbagai pengetahuan dan intelektualitas berada di titik terendah, dalam sebuah penyerahan total kepada Allah SWT. Pipi Jeffrey basah oleh air mata
Sumber : http://WWW.REPUBLIKA.CO.ID
4/16/2012
Lupakan! Lupakan cinta jiwa yang tidak akan sampai di pelaminan. Tidak ada cinta jiwa tanpa sentuhan fisik. Semua cinta dari jenis yang tidak berujung dengan penyatuan fisik hanya akan mewariskan penderitaan bagi jiwa. Misalnya yang dialami Nasr bin Hajjaj di masa Umar bin Khattab.
Ia pemuda paling ganteng yang ada di Madinah. Shalih dan kalem. Secara diam-diam gadis-gadis Madinah mengidolakannya. Sampai suatu saat Umar mendengar seorang perempuan menyebut namanya dalam bait-bait puisi yang dilantunkan di malam hari. Umar pun mencari Nasr. Begitu melihatnya, Umar terpana dan mengatakan, ketampanannya telah menjadi fitnah bagi gadis-gadis Madinah. Akhirnya Umar pun memutuskan untuk mengirimnya ke Basra.
Disini ia bermukim pada sebuah keluarga yang hidup bahagia. Celakanya, Nasr justru cinta pada istri tuan rumah. Wanita itu juga membalas cintanya. Suatu saat mereka duduk bertiga bersama sang suami. Nasr menulis sesuatu dengan tangannya di atas tanah yang lalu dijawab oleh sang istri tuan rumah. Karena buta huruf, suami yang sudah curiga itu pun memanggil sahabatnya untuk membaca tulisan itu. Hasilnya: aku cinta padamu!
Nasr tentu saja malu kerena ketahuan. Akhirnya ia meninggalkan keluarga itu dan hidup sendiri. Tapi cintanya tak hilang. Dia menderita karenanya. Sampai ia jatuh sakit dan badannya kurus kering. Suami perempuan itu pun kasihan dan menyuruh istrinya untuk mengobati Nasr. Betapa gembiranya Nasr ketika perempuan itu datang. Tapi cinta tak mungkin tersambung ke pelaminan. Mereka tidak melakukan dosa, memang. Tapi mereka menderita. Dan Nasr meninggal setelah itu.
Itu derita panjang dari sebuah cinta yang tumbuh di lahan yang salah. Tragis memang. Tapi ia tak kuasa menahan cintanya. Dan ia membayarnya dengan penderitaan hingga akhir hayat. Pastilah cinta yang begitu akan menjadi penyakit. Sebab cinta yang ini justru menemukan kekuatannya dengan sentuhan fisik. Makin intens sentuhan fisiknya, makin kuat dua jiwa saling tersambung. Maka ketika sentuhan fisik jadi mustahil, cinta yang ini hanya akan berkembang jadi penyakit.
Itu sebabnya Islam memudahkan seluruh jalan menuju pelaminan. Semua ditata sesederhana mungkin. Mulai dari proses perkenalan, pelamaran, hingga mahar dan pesta pernikahan. Jangan ada tradisi yang menghalangi cinta dari jenis yang ini untuk sampai ke pelaminan. Tapi mungkin halangannya bukan tradisi. Juga mungkin tidak selalu sama dengan kasus Nasr. Kadang-kadang misalnya, karena cinta tertolak atau tidak cukup memiliki alasan yang kuat untuk dilanjutkan dalam sebuah hubungan jangka panjang yang kokoh.
Apapun situasinya, begitu peluang menuju pelaminan tertutup, semua cinta yang ini harus diakhiri. Hanya di sana cinta yang ini absah untuk tumbuh bersemi: di singgasana pelaminan.
Sumber : Buku Serial Cinta
Cinta Bersemi Di Pelaminan
16/04/12
Lupakan! Lupakan cinta jiwa yang tidak akan sampai di pelaminan. Tidak ada cinta jiwa tanpa sentuhan fisik. Semua cinta dari jenis yang tidak berujung dengan penyatuan fisik hanya akan mewariskan penderitaan bagi jiwa. Misalnya yang dialami Nasr bin Hajjaj di masa Umar bin Khattab.
Ia pemuda paling ganteng yang ada di Madinah. Shalih dan kalem. Secara diam-diam gadis-gadis Madinah mengidolakannya. Sampai suatu saat Umar mendengar seorang perempuan menyebut namanya dalam bait-bait puisi yang dilantunkan di malam hari. Umar pun mencari Nasr. Begitu melihatnya, Umar terpana dan mengatakan, ketampanannya telah menjadi fitnah bagi gadis-gadis Madinah. Akhirnya Umar pun memutuskan untuk mengirimnya ke Basra.
Disini ia bermukim pada sebuah keluarga yang hidup bahagia. Celakanya, Nasr justru cinta pada istri tuan rumah. Wanita itu juga membalas cintanya. Suatu saat mereka duduk bertiga bersama sang suami. Nasr menulis sesuatu dengan tangannya di atas tanah yang lalu dijawab oleh sang istri tuan rumah. Karena buta huruf, suami yang sudah curiga itu pun memanggil sahabatnya untuk membaca tulisan itu. Hasilnya: aku cinta padamu!
Nasr tentu saja malu kerena ketahuan. Akhirnya ia meninggalkan keluarga itu dan hidup sendiri. Tapi cintanya tak hilang. Dia menderita karenanya. Sampai ia jatuh sakit dan badannya kurus kering. Suami perempuan itu pun kasihan dan menyuruh istrinya untuk mengobati Nasr. Betapa gembiranya Nasr ketika perempuan itu datang. Tapi cinta tak mungkin tersambung ke pelaminan. Mereka tidak melakukan dosa, memang. Tapi mereka menderita. Dan Nasr meninggal setelah itu.
Itu derita panjang dari sebuah cinta yang tumbuh di lahan yang salah. Tragis memang. Tapi ia tak kuasa menahan cintanya. Dan ia membayarnya dengan penderitaan hingga akhir hayat. Pastilah cinta yang begitu akan menjadi penyakit. Sebab cinta yang ini justru menemukan kekuatannya dengan sentuhan fisik. Makin intens sentuhan fisiknya, makin kuat dua jiwa saling tersambung. Maka ketika sentuhan fisik jadi mustahil, cinta yang ini hanya akan berkembang jadi penyakit.
Itu sebabnya Islam memudahkan seluruh jalan menuju pelaminan. Semua ditata sesederhana mungkin. Mulai dari proses perkenalan, pelamaran, hingga mahar dan pesta pernikahan. Jangan ada tradisi yang menghalangi cinta dari jenis yang ini untuk sampai ke pelaminan. Tapi mungkin halangannya bukan tradisi. Juga mungkin tidak selalu sama dengan kasus Nasr. Kadang-kadang misalnya, karena cinta tertolak atau tidak cukup memiliki alasan yang kuat untuk dilanjutkan dalam sebuah hubungan jangka panjang yang kokoh.
Apapun situasinya, begitu peluang menuju pelaminan tertutup, semua cinta yang ini harus diakhiri. Hanya di sana cinta yang ini absah untuk tumbuh bersemi: di singgasana pelaminan.
Sumber : Buku Serial Cinta
3/24/2012
Dalam Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthb menafsir ayat ini dengan menuliskan, “Allah memuliakan para penyeru kebenaran”. Ya, Allah memberikan pujian kepada para penyeru kebenaran, kepada sesiapa yang berani mengambil ‘tugas berat’ yang bahkan bila ‘tugas’ ini diberikan kepada sebuah gunung maka robohlah gunung tersebut menjadi serpihan-serpihan. Seperti yang tertulis dalam surah Al Hasyr ayat 21.
“Kalau sekiranya Kami turunkan al-Quran ini ke atas sebuah gunung, niscaya akan engkau lihatlah gunung itu tunduk terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah; dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami perbuat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (Al Hasyr : 21)
Ya, tugas berat itulah dakwah, menjadi seorang penyeru kebenaran. Seorang warasatul anbiya’, pewaris nabi. Jika kita ingati, bahwa Ali Ibn Abi Thalib pernah berpesan bahwa para nabi tidak meninggalkan waris berupa dinar dan dirham tetapi warisan para nabi dan rasul adalah ilmu. Kita ingati juga bahwa Abu Hurairah pernah menghardik beberapa orang lebih tersibukkan di pasar-pasar, sementara warisan nabi tengah dibagi-bagi di masjid. Namun mereka tetap abai.
“Kami tidak melihat adanya pembagian apapun, kecuali beberapa orang tengah mengkaji Al Qur’an dan Hadits serta diskusi tentang halal haram” tutur salah seorang dari mereka.
“Bodoh kalian! Itulah warisan Rasulullah!” hardik Abu Hurairah. Bukan sekedar mengilmui, namun ada sebuah tanggung jawab untuk mendakwahkan, menyebarkannya. Karena ilmu nan tertimbun dan tidak pernah di dakwahkan, hanya akan membuat pemiliknya menjadi fasiq tanpa sadar dan terkemudian keraslah hatinya seperti yang diungkapkan oleh Muhammad bin Idris Asy Syafi’i.
Mengingat beratnya tugas sebagai seorang penyeru. Sebagai seorang da’i. Maka setelah bi’tsah nubuwah, wahyu pertama yang diterima sang nabi, hingga beliau menggigil. Malaikat jibril atas titah Tuhannya, kembali menyampaikan wahyu kepada beliau, “ Wahai orang yang berselimut, bangunlah pada malam hari (untuk shalat)….” (Al Muzzamil 1-2).
Syaikh Munir Muhammad Al Ghadban, menjelaskan dalam kitabnya Manhaj Haraki, shalat malam atau qiyyamul lail diwajibkan ketika itu –awal periode dakwah terbuka dengan merahasiakan struktur gerakan, jahri’atud da’wah wa sirriyatu at tanzhim-, sebagai sebuah daurah tadribiyah ‘anifah pelatihan intensif yang keras untuk komitmen dan taat kepada Allah. Hikmahnya adalah ketika pada masa itu, dakwah mulai masuk pada periode terbuka dan mulai mendapatkan gesekan-gesekan horizontal juga tekanan dari masyarakat musyrikin Quraisy. Maka diperlukanlah “asupan energi” yang mampu meneguhkan mereka ketika itu, dan energi itu tidak lain adalah energi spiritual, keterhubungan dengan Dzat nan Maha Kuat.
“Sesungguhnya kami akan menurunkan sebuah ‘qaulan tsaqila’ perkataan yang berat kepadamu. Sungguh, bangun malam itu lebih kuat mengisi jiwa dan bacaan pada waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya pada suang hari engakau sangat sibuk dengan urusan-urusan yang panjang.” (Al Muzzamil 5-7)
Dakwah: Fardhu ‘Ain atau Fardhu Kifayah?
Perkataan yang berat, tanggung jawab yang besar namun tetap saja tidak boleh di tinggalkan. “ Dan Hendaklah ada diantara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imran :104).
Kata “ummat” dalam kamus Al Munawwir bermakna arrajulu aljami’u lil khair ( laki-laki yang ada pada panya terhimpun kebajikan), man huwa ‘alal haq (orang yang menapaki kebenaran), asy-sya’bu wal jumhur (rakyat, masyarkat atau bangsa). Atau sekelompok orang yang memiliki karakteristik senantiasa melakukan dakwah ( yad’u ilal khair, menyeru kepada kebaikan) amar ma’ruf dan mencegah kemungkaran.
Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir “min” dalam frasa “waltakun minkum” bermakna sebagai min bayaniyah yakni sebagai penjelasan bukan tab’idhiyyah atau batasan. Maka tentang ayat ini menjelaskan bahwa dakwah adalah tanggung jawab yang merupakan kewajiban setiap individu muslim. Sementara Ar Razi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna “min” pada frase diatas adalah sebagai sebuah bentuk pembatasan ( Tab’idhiyyah) alasan ini dikuatkan dengan adanya sekelompok ummat yang tidak mampu-mampu menegakkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Maka perintah berdakwah ini hanya berlaku kepada golongan ulama yang mengetahui yang baik ( al khair). Jika demikian hukum berdakwah menjadi fardhu kifayah. Bila telah ada sekelompok orang yang melakukannya maka gugur kewajiban kita. Mana yang lebih baik? Saya cenderung kepada yang pertama yaitu pendapat Ibnu Katsir. Sepertinya halnya mengucap salam atau shalat jenazah yang dihukumi fardhu kifayah, tentulah seorang yang mempelopori terlebih dahulu akan beroleh pahala yang lebih besar daripada yang mengikuti. Karena hidup adalah perlombaan kebajikan, fastabiqul khairat, maka mengambil kesempatan untuk menjadi yang pertama pasti menjadi sebuah keniscayaan. Terlebih ini adalah dakwah, penyeru kebenaran. Dan Allah memuji para pelaku-pelaku dakwah dengan “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah?” (Fushshilat : 33).
Tafaqquh fi Din, Nutrisi Dakwah
Jika dipuji manusia saja sudah mampu membuat bangga, apalagi jika pujian itu datang dari Pencipta Manusia. Tentulah sebuah prestasi yang tak ternilai dan sangat membanggakan. Lalu sekarang jika dakwah adalah sebuah kewajiban, dan setiap kita wajib untuk menyampaikan. Logikanya adalah bila seseorang tidak mempunyai sesuatu maka dia tidak akan mampu memberikan sesuatu. Maka jika kita telah mengambil dakwah sebagai sebuah pilihan hidup yang harus ditempuh maka mau tidak mau dia membutuhkan asupan-asupan materi untuk dikeluarkan. Asupan-asupan ilmu untuk didakwahkan. Dan disinilah peran tafaqquh fiid diin. Memperdalam pengetahuan agama, bahakan kedudukan taffaquh fid din disejajarkan dengan wajibnya berjihad. Bahkan termasuk ke dalam bentuk jihad.
“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya ( ke medan perang ). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan tentang agama dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At Taubah : 122)
Ibnu katsir meriwayatkan dari Ikrimah, perihal asbabun nuzul ayat ini. Yaitu setelah turun, “Jika kamu tidak berangkat untuk berperang , niscaya Allah akan menyiksa kamu dengan siksa yang pedih,” ( QS At Taubah : 39), yang berkenaan dengan perang tabuk. Lalu orang-orang munafiq berkomentar tentang beberapa shabat nabi yang tetap tinggal di kampung untuk mengajari kaumnya tentang perkara-perkara agama, “Sungguh binasa orang-orang yang tidak turut dan berangkat perang bersama Muhammad.” Lalu turunlah ayat ini. (Ibnu Katsir III/65)
Berdakwah dengan Cara Sedehana
Terkadang yang namanya manusia, meski telah diberitakan tentang keutamaan-keutamaan sebuah perkara. Tetap saja ada keengganan dan kemalasan untuk mengambil perkara tersebut dengan ribuan bahkan jutaan alasan. Terlebih jika perkara itu adalah menyangkut tentang dakwah yang kemudian harus mensyaratkan tafaqquh fid din sebagai penyuplai asupan ilmu dan materi dakwah. Tidak memiliki waktu luang yang cukup untuk belajar, merasa masih belum berilmu, dan ribuan alasan sebagai pengalih tanggung jawab. Namun sebuah nasihat bijak yang layak kita perhatikan, sukses seseorang mampu terrengkuh meski dihadapnya terhadang sejuta aral, namun gagal seseorang bisa tergenggam hanya dengan sebuah alasan. Maka ada pepatah arab yang “Man Jadda wa jada”, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkannya. Ini adalah sunnatullah yang berlaku bagi manusia.
“Walladzinna jahaadu fiina lanahdiyannahum subulana, barang siapa yang bersungguh-sungguh mencari keridhoan KAMI niscaya akan KAMI tunjuki jalan-jalan kami.” ( QS. Al Ankabut : 69 )
Sebuah hikmah mengapa kisah para nabi terdahulu yang terrekam dalam Al Quran adalah kebanyakan kisah tentang nabi Musa ketika berhadapan dengan Fir’aun. Ini adalah sebuah motivasi robbani kepada Rasulullah agar tetap teguh dan istiqamah. Jika dibandingkan Nabi Muhammad memiliki keunggulan-keunggulan dari berbagai hal diatas Nabi Musa. Rasulullah berasal dari kabilah yang terbaik dan cukup disegani di dalam suku Quraisy, Bani Hasyim yang di pandegani sebagai pengurus makanan jam’ah haji. Beliau pernah tinggal di perkampunagn Bani Sa’adah bersama ibu susunya , Halimah. Bani Sa’adah adalah kabilah yang memiliki Bahasa Arab paling fasih dan paling halus, beliau juga di gelari Al Amin yang terpercaya sebelum bi’tsah nubuwah nya, tidak memiliki catatan buruk di masyarakat Quraisy.
Sementara Nabi Musa, beliau harus merelakan dihanyutkan agar terhindar dari pembunuhan Fir’aun, sehingga tidak mengetahui nasabnya, beliau dalah seorang lisannya kurang fasih karen cadel – dalam sebuah riwayat, Nabi Musa pernah diuji oleh Fir’aun untuk memilih bara api atau intan, bila ia seorang nabi tentulah memilih intan dan harus terbunuh saat itu. Atas ijin Allah, beliau memilih bara api dan memasukkanny dalam mulut, sehingg lidahnya menjadi luka dan bicaranya menjadi cadel- maka beliau mengajarkan doa, “Rabbisy rahli shadri wa yasirli amri wahlul uqdatan min lisaani, Rabb lapangkanlah dadaku, mudahkan urusanku, dan bukalah simpul di lisanku..”,
Beliau juga pernah memiliki catatan kriminal –secara tidak sengaja memukul seorang lelaki Mesir hingga tewas dalam perkelahian-. Maka dari berbagai keunggulan yang dimiliki Rasulullah juga keunggulan yang kita miliki, agar termotivasi untuk tidak mudah menyerah oleh keadaan. Bahwa Nabi Musa yang diuji dengan keadaan yang sangat pahit pun mampu melalui tugas kenabiannya dengan sukses. Maka tugas da’i yang yang hanya mewarisi para nabi tidaklah sesukar tugas nabawi. Maka bila kita menyerah, tentulah kualitas diri kita sebagai ummat terbaik dipertanyakan.
“Walladzinna jahaadu fiina lanahdiyannahum subulana, barang siapa yang bersungguh-sungguh mencari keridhoan KAMI niscaya akan KAMI tunjuki jalan-jalan kami.” ( QS. Al Ankabut : 69)
Baiklah sekarang kita kembali ke pokok bahasan. Tentang berdakwah, terkadang bisa dilakukan juga dengan cara yang sangat mudah. Silakan membuka mushaf, pada surah Yasin ayat ke 20. Di sana terdapat kisah tentang seorang lelaki yang datang dari ujung kota yang berkata “yaaa qaumittaabi’ul mursaliin, wahai kaumku, ikutilah para utusan-utusan itu.”
Para muffasirin berpendapat, pria ini bernama Habib An Najjar. Hanya dengan ajakan untuk mengikuti para rasul, hanya dengan kalimat yang singkat, Habib An Najjar beroleh sebuah sanjung puji dari Allah.
“Katakanlah (kepadanya) ‘masuklah ke surga’ Dia ( laki-laki itu –Habib An Najjar-) berkata ‘Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahuinya.’” (QS Yasin : 25)
Belajar dari kisah Habib An Najjar, menunjukkan bahwa berdakwah pun bisa dilakukan dengan cara yang sangat sederhana dan mudah. Hanya dengan mengajak.
Maka berdakwah tak perlu harus menanti diri setenar ustadz solmed, bahkan bisa juga menjadi ustadz SosMed ( Sosial Media), berdakwah dengan media blog, Twitter, Facebook, dsb. Yang terpenting adalah ketika sesuatu itu dikeluarkan dari hati maka akan bertempat di hati dan bila hanya manis kata retorika hanya berhenti pada telinga kemudian terlupa, ma kharaja minnal qalbi mahalluhul qulub wa ma kharaja minnal lisaan mahalluhul adzan, seperti yang diungkapkan oleh imam Hasan Al Bashri.. Wallahua’alam bishawab.
Oleh : Ardhianto Murcahya, S.Psi. Solo
http://www.fimadani.com/saudaraku-sudahkah-kita-berdakwah/
Saudaraku Sudahkah Kita Berdakwah?
24/03/12
“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah?” firman Allah dalam surah Fushshilat ayat ke 33.
Dalam Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthb menafsir ayat ini dengan menuliskan, “Allah memuliakan para penyeru kebenaran”. Ya, Allah memberikan pujian kepada para penyeru kebenaran, kepada sesiapa yang berani mengambil ‘tugas berat’ yang bahkan bila ‘tugas’ ini diberikan kepada sebuah gunung maka robohlah gunung tersebut menjadi serpihan-serpihan. Seperti yang tertulis dalam surah Al Hasyr ayat 21.
“Kalau sekiranya Kami turunkan al-Quran ini ke atas sebuah gunung, niscaya akan engkau lihatlah gunung itu tunduk terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah; dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami perbuat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (Al Hasyr : 21)
Ya, tugas berat itulah dakwah, menjadi seorang penyeru kebenaran. Seorang warasatul anbiya’, pewaris nabi. Jika kita ingati, bahwa Ali Ibn Abi Thalib pernah berpesan bahwa para nabi tidak meninggalkan waris berupa dinar dan dirham tetapi warisan para nabi dan rasul adalah ilmu. Kita ingati juga bahwa Abu Hurairah pernah menghardik beberapa orang lebih tersibukkan di pasar-pasar, sementara warisan nabi tengah dibagi-bagi di masjid. Namun mereka tetap abai.
“Kami tidak melihat adanya pembagian apapun, kecuali beberapa orang tengah mengkaji Al Qur’an dan Hadits serta diskusi tentang halal haram” tutur salah seorang dari mereka.
“Bodoh kalian! Itulah warisan Rasulullah!” hardik Abu Hurairah. Bukan sekedar mengilmui, namun ada sebuah tanggung jawab untuk mendakwahkan, menyebarkannya. Karena ilmu nan tertimbun dan tidak pernah di dakwahkan, hanya akan membuat pemiliknya menjadi fasiq tanpa sadar dan terkemudian keraslah hatinya seperti yang diungkapkan oleh Muhammad bin Idris Asy Syafi’i.
Mengingat beratnya tugas sebagai seorang penyeru. Sebagai seorang da’i. Maka setelah bi’tsah nubuwah, wahyu pertama yang diterima sang nabi, hingga beliau menggigil. Malaikat jibril atas titah Tuhannya, kembali menyampaikan wahyu kepada beliau, “ Wahai orang yang berselimut, bangunlah pada malam hari (untuk shalat)….” (Al Muzzamil 1-2).
Syaikh Munir Muhammad Al Ghadban, menjelaskan dalam kitabnya Manhaj Haraki, shalat malam atau qiyyamul lail diwajibkan ketika itu –awal periode dakwah terbuka dengan merahasiakan struktur gerakan, jahri’atud da’wah wa sirriyatu at tanzhim-, sebagai sebuah daurah tadribiyah ‘anifah pelatihan intensif yang keras untuk komitmen dan taat kepada Allah. Hikmahnya adalah ketika pada masa itu, dakwah mulai masuk pada periode terbuka dan mulai mendapatkan gesekan-gesekan horizontal juga tekanan dari masyarakat musyrikin Quraisy. Maka diperlukanlah “asupan energi” yang mampu meneguhkan mereka ketika itu, dan energi itu tidak lain adalah energi spiritual, keterhubungan dengan Dzat nan Maha Kuat.
“Sesungguhnya kami akan menurunkan sebuah ‘qaulan tsaqila’ perkataan yang berat kepadamu. Sungguh, bangun malam itu lebih kuat mengisi jiwa dan bacaan pada waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya pada suang hari engakau sangat sibuk dengan urusan-urusan yang panjang.” (Al Muzzamil 5-7)
Dakwah: Fardhu ‘Ain atau Fardhu Kifayah?
Perkataan yang berat, tanggung jawab yang besar namun tetap saja tidak boleh di tinggalkan. “ Dan Hendaklah ada diantara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imran :104).
Kata “ummat” dalam kamus Al Munawwir bermakna arrajulu aljami’u lil khair ( laki-laki yang ada pada panya terhimpun kebajikan), man huwa ‘alal haq (orang yang menapaki kebenaran), asy-sya’bu wal jumhur (rakyat, masyarkat atau bangsa). Atau sekelompok orang yang memiliki karakteristik senantiasa melakukan dakwah ( yad’u ilal khair, menyeru kepada kebaikan) amar ma’ruf dan mencegah kemungkaran.
Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir “min” dalam frasa “waltakun minkum” bermakna sebagai min bayaniyah yakni sebagai penjelasan bukan tab’idhiyyah atau batasan. Maka tentang ayat ini menjelaskan bahwa dakwah adalah tanggung jawab yang merupakan kewajiban setiap individu muslim. Sementara Ar Razi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna “min” pada frase diatas adalah sebagai sebuah bentuk pembatasan ( Tab’idhiyyah) alasan ini dikuatkan dengan adanya sekelompok ummat yang tidak mampu-mampu menegakkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Maka perintah berdakwah ini hanya berlaku kepada golongan ulama yang mengetahui yang baik ( al khair). Jika demikian hukum berdakwah menjadi fardhu kifayah. Bila telah ada sekelompok orang yang melakukannya maka gugur kewajiban kita. Mana yang lebih baik? Saya cenderung kepada yang pertama yaitu pendapat Ibnu Katsir. Sepertinya halnya mengucap salam atau shalat jenazah yang dihukumi fardhu kifayah, tentulah seorang yang mempelopori terlebih dahulu akan beroleh pahala yang lebih besar daripada yang mengikuti. Karena hidup adalah perlombaan kebajikan, fastabiqul khairat, maka mengambil kesempatan untuk menjadi yang pertama pasti menjadi sebuah keniscayaan. Terlebih ini adalah dakwah, penyeru kebenaran. Dan Allah memuji para pelaku-pelaku dakwah dengan “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah?” (Fushshilat : 33).
Tafaqquh fi Din, Nutrisi Dakwah
Jika dipuji manusia saja sudah mampu membuat bangga, apalagi jika pujian itu datang dari Pencipta Manusia. Tentulah sebuah prestasi yang tak ternilai dan sangat membanggakan. Lalu sekarang jika dakwah adalah sebuah kewajiban, dan setiap kita wajib untuk menyampaikan. Logikanya adalah bila seseorang tidak mempunyai sesuatu maka dia tidak akan mampu memberikan sesuatu. Maka jika kita telah mengambil dakwah sebagai sebuah pilihan hidup yang harus ditempuh maka mau tidak mau dia membutuhkan asupan-asupan materi untuk dikeluarkan. Asupan-asupan ilmu untuk didakwahkan. Dan disinilah peran tafaqquh fiid diin. Memperdalam pengetahuan agama, bahakan kedudukan taffaquh fid din disejajarkan dengan wajibnya berjihad. Bahkan termasuk ke dalam bentuk jihad.
“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya ( ke medan perang ). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan tentang agama dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At Taubah : 122)
Ibnu katsir meriwayatkan dari Ikrimah, perihal asbabun nuzul ayat ini. Yaitu setelah turun, “Jika kamu tidak berangkat untuk berperang , niscaya Allah akan menyiksa kamu dengan siksa yang pedih,” ( QS At Taubah : 39), yang berkenaan dengan perang tabuk. Lalu orang-orang munafiq berkomentar tentang beberapa shabat nabi yang tetap tinggal di kampung untuk mengajari kaumnya tentang perkara-perkara agama, “Sungguh binasa orang-orang yang tidak turut dan berangkat perang bersama Muhammad.” Lalu turunlah ayat ini. (Ibnu Katsir III/65)
Berdakwah dengan Cara Sedehana
Terkadang yang namanya manusia, meski telah diberitakan tentang keutamaan-keutamaan sebuah perkara. Tetap saja ada keengganan dan kemalasan untuk mengambil perkara tersebut dengan ribuan bahkan jutaan alasan. Terlebih jika perkara itu adalah menyangkut tentang dakwah yang kemudian harus mensyaratkan tafaqquh fid din sebagai penyuplai asupan ilmu dan materi dakwah. Tidak memiliki waktu luang yang cukup untuk belajar, merasa masih belum berilmu, dan ribuan alasan sebagai pengalih tanggung jawab. Namun sebuah nasihat bijak yang layak kita perhatikan, sukses seseorang mampu terrengkuh meski dihadapnya terhadang sejuta aral, namun gagal seseorang bisa tergenggam hanya dengan sebuah alasan. Maka ada pepatah arab yang “Man Jadda wa jada”, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkannya. Ini adalah sunnatullah yang berlaku bagi manusia.
“Walladzinna jahaadu fiina lanahdiyannahum subulana, barang siapa yang bersungguh-sungguh mencari keridhoan KAMI niscaya akan KAMI tunjuki jalan-jalan kami.” ( QS. Al Ankabut : 69 )
Sebuah hikmah mengapa kisah para nabi terdahulu yang terrekam dalam Al Quran adalah kebanyakan kisah tentang nabi Musa ketika berhadapan dengan Fir’aun. Ini adalah sebuah motivasi robbani kepada Rasulullah agar tetap teguh dan istiqamah. Jika dibandingkan Nabi Muhammad memiliki keunggulan-keunggulan dari berbagai hal diatas Nabi Musa. Rasulullah berasal dari kabilah yang terbaik dan cukup disegani di dalam suku Quraisy, Bani Hasyim yang di pandegani sebagai pengurus makanan jam’ah haji. Beliau pernah tinggal di perkampunagn Bani Sa’adah bersama ibu susunya , Halimah. Bani Sa’adah adalah kabilah yang memiliki Bahasa Arab paling fasih dan paling halus, beliau juga di gelari Al Amin yang terpercaya sebelum bi’tsah nubuwah nya, tidak memiliki catatan buruk di masyarakat Quraisy.
Sementara Nabi Musa, beliau harus merelakan dihanyutkan agar terhindar dari pembunuhan Fir’aun, sehingga tidak mengetahui nasabnya, beliau dalah seorang lisannya kurang fasih karen cadel – dalam sebuah riwayat, Nabi Musa pernah diuji oleh Fir’aun untuk memilih bara api atau intan, bila ia seorang nabi tentulah memilih intan dan harus terbunuh saat itu. Atas ijin Allah, beliau memilih bara api dan memasukkanny dalam mulut, sehingg lidahnya menjadi luka dan bicaranya menjadi cadel- maka beliau mengajarkan doa, “Rabbisy rahli shadri wa yasirli amri wahlul uqdatan min lisaani, Rabb lapangkanlah dadaku, mudahkan urusanku, dan bukalah simpul di lisanku..”,
Beliau juga pernah memiliki catatan kriminal –secara tidak sengaja memukul seorang lelaki Mesir hingga tewas dalam perkelahian-. Maka dari berbagai keunggulan yang dimiliki Rasulullah juga keunggulan yang kita miliki, agar termotivasi untuk tidak mudah menyerah oleh keadaan. Bahwa Nabi Musa yang diuji dengan keadaan yang sangat pahit pun mampu melalui tugas kenabiannya dengan sukses. Maka tugas da’i yang yang hanya mewarisi para nabi tidaklah sesukar tugas nabawi. Maka bila kita menyerah, tentulah kualitas diri kita sebagai ummat terbaik dipertanyakan.
“Walladzinna jahaadu fiina lanahdiyannahum subulana, barang siapa yang bersungguh-sungguh mencari keridhoan KAMI niscaya akan KAMI tunjuki jalan-jalan kami.” ( QS. Al Ankabut : 69)
Baiklah sekarang kita kembali ke pokok bahasan. Tentang berdakwah, terkadang bisa dilakukan juga dengan cara yang sangat mudah. Silakan membuka mushaf, pada surah Yasin ayat ke 20. Di sana terdapat kisah tentang seorang lelaki yang datang dari ujung kota yang berkata “yaaa qaumittaabi’ul mursaliin, wahai kaumku, ikutilah para utusan-utusan itu.”
Para muffasirin berpendapat, pria ini bernama Habib An Najjar. Hanya dengan ajakan untuk mengikuti para rasul, hanya dengan kalimat yang singkat, Habib An Najjar beroleh sebuah sanjung puji dari Allah.
“Katakanlah (kepadanya) ‘masuklah ke surga’ Dia ( laki-laki itu –Habib An Najjar-) berkata ‘Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahuinya.’” (QS Yasin : 25)
Belajar dari kisah Habib An Najjar, menunjukkan bahwa berdakwah pun bisa dilakukan dengan cara yang sangat sederhana dan mudah. Hanya dengan mengajak.
“Yuk, ikut kajian !”
“Yuk, berangkat mentoring!”
“Yuk, shalat dhuha!”
“ Yuk, shalat! Udah adzan Zhuhur.”
Serta berbagai ajakan kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar.
Maka berdakwah tak perlu harus menanti diri setenar ustadz solmed, bahkan bisa juga menjadi ustadz SosMed ( Sosial Media), berdakwah dengan media blog, Twitter, Facebook, dsb. Yang terpenting adalah ketika sesuatu itu dikeluarkan dari hati maka akan bertempat di hati dan bila hanya manis kata retorika hanya berhenti pada telinga kemudian terlupa, ma kharaja minnal qalbi mahalluhul qulub wa ma kharaja minnal lisaan mahalluhul adzan, seperti yang diungkapkan oleh imam Hasan Al Bashri.. Wallahua’alam bishawab.
Oleh : Ardhianto Murcahya, S.Psi. Solo
http://www.fimadani.com/saudaraku-sudahkah-kita-berdakwah/
3/23/2012
Saat melihat teduh wajahnya dalam jasadnya yang terbujur kaku, mataku pun membasah. Betapa aku iri melihatnya, meskipun aku tak mengenalnya dengan baik. Hanya lewat cerita sekilas-sekilas dari kakaknya, Yuli, yang setiap pekan datang mengaji ke rumahku. Abduh yang juga sering mengantarkan Yuli kesana kemari, cukup kuhafal wajahnya, meski aku belum pernah berbicara dengannya. Tapi aku tahu, dia, Abduh, adalah orang yang baik.
Maka, tak salah jika salah satu sahabatnya pun, bercerita dengan pilu, tentang kesehaerian Abduh, juga tentang detik-detik terakhirnya. Pak Lutfi, tetangga Abduh, yang juga sesama orang tua murid dari anak-anak kami, bercerita:
* * *
20 Maret 2012 pukul 03.30 dini hari. Saat itu aku sudah terjaga, dan sedang mengerjakan sesuatu yang sementara ini menjadi jalan ma’isyahku di depan laptopku. Sebelumnya aku menyempatkan diri untuk shalat malam beberapa rakaat saja. Aku bekerja di atas tempat tidur ditemani isteriku yg sedang berbaring di sebelahku sambil menjaga anak bungsuku dari ‘serangan’ nyamuk.
Tiba-tiba terdengar dering esia istriku. Isteriku meraih esia-nya dan menjawab salam dari seberang telepon. Mendengar permulaan dialog, aku segera mengenali bahwa yang menelepon adalah mbak Yuli. Aku memang selalu memanggil akhwat yang sudah dewasa, yang sebaya dan dibawah usiaku, dengan menambahkan panggilan ‘mbak’ di depan namanya, tidak lain untuk rasa hormat dan penghargaan kepada seorang perempuan. Isteriku memanggil mbak Yuli dengan sebutan ‘teteh’ tanpa nama di depannya – jadi seperti adik memanggil kepada kakaknya. Sementara mbak Yuli memanggil isteriku dengan sebutan Bunda, panggilan anak-anakku pada isteriku. Usianya sebaya dengan isteriku, tetapi karena ikatan persaudaraan yang sangat erat, mereka saling memanggil dengan panggilan keakraban dan kasih sayang.
Tiba-tiba isteriku sedikit terkejut, “Kenapa Abduh teh..?”
Aku tidak lagi mendengar sahutan dari mbak Yuli di seberang telepon, tetapi yang jelas setelahnya isteriku meminta tolong untuk segera diantarkan berangkat ke rumah Yuli dan keluarganya. Aku segera bergegas, menghentikan pekerjaanku dan membawa apa yg kuingat untuk dibawa.
Aku dan isteri segera berkendara menuju rumah Yuli di Villa Pamulang. Sambil bertanya-tanya dalam hati.. “Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi dengan Abduh?”
Aku karena panik malah sempat lupa mengarahkan motor kemana arah rumah mbak Yuli.
Sedang dalam perjalanan, esia-pun berdering lagi. Isteriku menjawab sambil memandu memberi pertolongan pertama sebatas pengetahuan isteriku. Kebetulan, isteriku pernah bekerja di sebuah klinik kesehatan alternatif, jadi sedikit banyak tahu beberapa hal tentang tindakan pertolongan pertama. Lalu berdering lagi, mbak Yuli menanyakan, “Sudah sampai dimana?”
“Sudah dekat”, jawab isteriku, “Sudah di mesjid teh..” lanjutnya.
Sedikit panik, aku pun mempercepat laju motor dan saat tiba, mbak Yuli sudah menunggu di mulut blok Villa di mana rumahnya berada.
Aku dan isteri segera masuk ke kamar di mana Abduh tidur. Terlihat dia sedang (seperti) tidur. Isteriku langsung memeriksa denyut nadi di pergelangan tangannya. Kemudian memeriksa denyut di lehernya. Tiba-tiba isteriku menangis.
“Bagaimana Bunda..?”, tanyaku.
“Denyut nadinya tidak teraba ayah..”
Aku pun memegang badannya, masih terasa hangat dan berkeringat.
Berharap masih bernyawa dan mendapat pertolongan, segera dini hari itu aku meminta pada Iqbal, adik mbak Yuli, kakaknya Abduh, untuk segera membawa ke rumah sakit terdekat. Yang paling dekat adalah RS Sari Asih. Dengan motor aku mendahului mereka menuju RS Sari Asih. Meminta pada security perumahan membuka portal. Dan sesampai di rumah sakit segera meminta pada petugas mempersiapkan kamar darurat. Semua keluarga, mbak Yuli, Iqbal dan Mama bersama ke rumah sakit. Isteriku tinggal di rumah menjaga dua anak kecil mbak Yuli yang masih terlelap.
Sesampainya dalam kamar di ruang darurat (IGD), dilakukan tindakan dengan membuat nafas bantuan dan menekan rongga dadanya. Dan ternyata Abduh memang sudah meninggal sejak di rumah, di tempat tidurnya. Innalillahi wainna ilaihi rooji’un.
Menurut Iqbal, sekitar lewat jam tiga itu, dia terbangun oleh deringan jam. Dan ketika terbangun sekonyong-konyong melihat Abduh sedikit kejang. Bola matanya mengarah ke atas sebentar lalu ke arah bawah kembali. Iqbal dan mbak Yuli segera mencoba membangunkan, tapi tidak bangun juga, hingga akhirnya menghubungi kami.
Baru setelahnya kami menyadari, bahwa saat itu-lah Izrail sebenarnya sedang mencabut nyawanya. Mencabutnya adalah pada saat-saat Abduh terbiasa bangun pada jam itu untuk shalat malam.
Dan memang ketika malam itu Abduh pulang ke rumah hampir jam 12 malam, sebelum beranjak istirahat, terlebih dahulu sempat berpesan pada Ibunya untuk dibangunkan jam tiga guna shalat malam. Sang ibu-pun mengiyakan. Karena kasih sayang ibu, sang ibu berniat membangunkan sedikit lewat dari jam tiga untuk memberi waktu agak lama untuk Abduh beristirahat, karena pulangnya juga sudah larut.
Ternyata Allah SWT menentukan lain. Jam dimana Abduh terbiasa terbangun untuk shalat malam menghadap Rabb-nya, saat itu ternyata menjadi saat di mana dia menghadap Rabb-nya lebih dekat.. lebih dekat dari biasanya.
Mbak Yuli memang tegar. Walaupun ada kesedihan di hati, tidak terdengar tangisnya. Bicaranya pun terlihat sangat tenang. Aku tahu, hal itu karena dia harus menenangkan ibunya setelah sebelumnya memberitahu tentang meninggalnya Abduh. Setelah berkoordinasi secara kilat tentang dipulangkan kemana jenazah almarhum, akhirnya diambil keputusan untuk disemayamkan di komplek Peruri, tempat tinggal saudaranya. Tempat yang juga sudah menjadi tempat tinggal bagi mereka.
Saat itu baru saja subuh. Dengan sisa sedikit pulsa, aku memberitahu isteri dan meminta pada isteriku untuk menghubungi dua orang teman di markas untuk datang di rumah duka di Peruri, agar bisa mempersiapkan segala sesuatunya bersama keluarga di Peruri.
Pak Kusnadi menunggu kedatangan jenazah, berkoordinasi dengan keluarga sambil memberitakan duka ini kepada lainnya. Pak Mukhlis segera menghubungi Amil dan membeli bahan-bahan yang diperlukan dalam penyelenggaraan jenazah. Aku sendiri kembali ke rumah mbak Yuli di Villa Pamulang untuk menjemput isteriku dan anak-anak mbak Yuli. Menyiapkan pakaian ganti dan semua perlengkapan yang kira-kira diperlukan untuk mbak Yuli, Iqbal, anak-anak dan ibunya untuk dibawa ke Peruri.
Bersamaan dengan kedatanganku di rumah mbak Yuli, saat itu datang juga Eka, seorang teman dari markas juga. Eka memang diminta datang oleh isteriku subuh itu juga, karena isteriku mengira aku langsung ke Peruri dan tidak menjemputnya.
Sesampainya dekat rumah sakit, ternyata mbak Yuli dan keluarga masih berada di sana. Akhirnya kami tidak langsung ke Peruri, dan segera masuk ke halaman rumah sakit. Akhirnya ambulance yang membawa jenazah almarhum-pun siap berangkat. Anak-anak bersama ibu, Iqbal dan Eka bersama mobil menuju Peruri. Mbak Yuli dan isteriku ke Peruri dengan Ambulance. Aku sendiri pergi dengan motor. Karena kunci motor terbawa isteri, aku berkendara dengan motor Eka. Untungnya, kunci motornya belum kuserahkan padanya saat tiba di rumah sakit, karena untuk naik angkutan umum, sepeser uang-pun tidak terbawa olehku karena begitu bergegasnya, sehingga terlupakan.
Tiba di Peruri, aku menunggu bersama pak Kusnadi. Ketika jenazah almarhum tiba, pecahlah tangis sanak saudara. Tetangga dan teman yang berdatangan-pun terlihat berduka, nampak terkejut dan tidak percaya. Usianya baru 27 tahun. Tidak sakit apapun. Tidak ada riwayat sakit jantung, bahkan dari riwayat keluarganya sekalipun. Bahkan malam itu, sebelum tiba di Villa pamulang, Abduh menyempatkan diri ke Peruri, karena memang juga sudah menjadi tempat tinggalnya sejak lama. Sempat berbincang-bincang dan shalat Isya’ berjamaah di masjid Al-Ikhwan di depan rumahnya. Sampai jam 23 malam masih menyempatkan diri membantu salah seorang ikhwah menyelesaikan sebuah tugas, sebelum akhirnya pergi pulang.
Silih berganti warga dan kerabat berdatangan untuk takziah. Aku melihat kedatangan mereka sambil mengenalinya di hati. Tentu saja, sangat banyak dari mereka yang merasa ditinggal. Abduh yang dikenalinya selama ini adalah orang yang mudah dimintai tolong. Hampir tidak pernah mengelak ketika diminta bantuan. Selalu bersikap baik dengan semua orang. Tidak pernah membicarakan aib orang lain. Ketika bercanda, hanya seperlunya dan sewajarnya. Tidak pernah melibatkan diri dalam perdebatan yg dapat menimbulkan permusuhan. Kami-pun di markas, juga mengenali beliau sebagai kader yang selalu siaga ditempatkan dimana saja. Mungkin Abduh bukan siapa-siapa dalam struktur jamaah dakwah ini. Tetapi tanpa keterlibatannya, bisa jadi agak terasa kesulitan dalam merealisasikan agenda. Oleh karenanya, biasanya dalam kepanitiaan biasa dimasukkan dalam seksi pembantu umum ataupun akomodasi dan transportasi.
Aku dan keluarga seringkali juga meminta beliau mendampingi dan mengantar kami menjenguk anak pertama kami di sebuah boarding school di Subang. Sehingga, kami memiliki kesan yang mendalam tentangnya.
Bila waktunya mengantar kami ke Subang, selalu dia menyempatkan berhenti di rest area. Aku tahu, hal itu tidak dilakukan untuk semata-mata mengisi bahan bakar, tetapi alasan sebenarnya adalah agar bisa terlebih dulu menjalankan shalat dhuha. Aku memang selalu meminta diantar pagi-pagi hari, agar masih terbilang pagi saat sampai di Subang. Saat-saat menunggu kami sekeluarga-pun, tidak terlepas dengan mushaf yang selalu dibawanya.
Sepanjang pengetahuanku, aku mengenalinya sebagai orang yang selalu menjaga dhuha, shalat malam, al-ma’tsurat dan tilawahnya. Kami juga mengenalinya sebagai orang yang sayang dan hormat dengan kakak dan saudara-saudaranya. Selalu mengiyakan nasehat kakaknya. Terlebih kepada ibunya. Bahkan suatu ketika, ketika terasa sakit dan tidak merasa kuat untuk meneruskan puasa ayyamul bidh-nya, Abduh masih menyempatkan diri menghubungi ibunya meminta ijin lebih dulu untuk berbuka dan membatalkan puasanya.
Sambil mengenali satu-persatu kerabat yang datang takziah, begitulan kesan dan kabar kebaikan Abduh ‘bercerita’ dalam pikiran dan hatiku. Sampai akhirnya mataku teralihkan oleh kedatangan akhwat. Berdua. Yang satu berusia paruh baya. Yang satu masih muda dan cantik. Akhwat ini menangis. Sempat tidak kuasa melangkah mendekati jenazah almarhum. Akhwat yang satu yang rupanya adalah murabbinya, mengajaknya untuk mendekat dan melihat. Semakin pecah tangisnya. Aku bertanya-tanya, “Ini siapa..? Kenapa terlihat begitu sedih dan terpukul..?”
Sedari tadi, kesedihan di hati hanya membuat mataku sesekali berkaca-kaca. Kaca itu semakin menebal ketika kemudian aku mengetahui bahwa akhwat ini adalah calon yang rencananya menjadi pendamping hidup almarhum. Dan akhirnya, bendungan itu tidak bisa kutahan lagi. Air mataku mulai menyudut dan mengalir, saat melihat drama sang akhwat menangis tersedu-sedu sambil berpelukan dengan mbak Yuli, kakak Abduh. Berpelukan sangat erat dan lama. Erat dan lama. Eratt sekali. Lamma sekali.
Dan aku memandangi adegan itu. Rupanya, almarhum sedang menjalani proses ta’aruf dengan akhwat tersebut, dan sedang berlanjut dalam proses khitbah.
Dari Murabbinya Abduh, aku mengetahui ternyata Abduh sudah yang ke empat kalinya menjalani proses ta’aruf. Bahkan dari kakaknya, mbak Yuli, kami mengetahui dan pernah diminta bantuannya saat beranjak akan berangkat meminang dan akhirnya tiba-tiba batal justru sehari dari rencana datang meminang akhwat tersebut (pada proses sebelumnya). Sampai saat ini aku belum mengerti alasan akhwat itu tiba-tiba membatalkannya. Dan dengan akhwat yang sekarang, adalah proses ta’aruf yang keempat, setelah tiga sebelumnya gagal.
Sekilas, mengenal akhwat yang sebelumnya tidak saya kenali tersebut, memang terlihat pantas sebenarnya jika pada akhirnya berjodoh. Kecantikan yang sempurna dan terlihat shalihah.
Tapi rupanya Allah SWT lebih menyukai almarhum. Semoga akhwat ini mendapat ganti yang sepadan atau bahkan mungkin yang lebih baik, dan mudah-mudahan menjadi hikmah yang sangat besar baginya bahwa jodoh hanya di tangan Yang Maha Kuasa, bukan di tangan kita. Dan semoga menjadi ujian yang kesabaran dan keikhlasannya menjadikan akhwat ini menjadi penghuni surga.
(Ya, sempat kujabat dan kupeluk akhwat itu. Mengajaknya bicara pelan-pelan, meski kami baru kenal. Sangat kupahami rasa terpukul dan sedihnya, karena proses pernikahan, ah, tepatnya proses khitbah yang sebentar lagi, harus batal, bukan karena digagalkan, tapi karena calon mempelai laki-laki mendadak meninggal. Rabbi.. terbayang perih rasanya. Kuusap bahunya pelan, dan kusarankan agar ia membaca Qur’an dengan perlahan, agar hatinya lebih tenang-red)
Saat aku mengantarkan jenazah dari rumah sakit menuju rumah duka, mbak Yuli sempat bercerita kepada isteriku hikmah di balik gagalnya proses ta’aruf adiknya. Mbak Yuli merasa, mungkin ini adalah hikmah di balik semua kegagalan itu. Dan dalam tangisnya yang akhirnya pecah saat di ambulance bersama isteriku, mbak Yuli mengakhiri curahan hatinya dengan harapan dan merasa yakin sekali bahwa memang Abduh hanya untuk bidadari di surga, bukan untuk yang lainnya.
Aku sendiri berdoa di akhir tulisan ini, walaupun Abduh terpaut cukup jauh usianya di bawahku. Aku memohon kepada Allah SWT agar diberi kemampuan dan kesempatan meneladani seluruh kebaikan Abduh. Bagaimana mungkin aku tidak butuh meminta seperti itu, sedangkan bidadari di surga-pun cemburu karenanya..?
* * *
Dan aku selalu cemburu, pada orang sukses sepertimu, dek.
Yang senantiasa menabung amal sholeh, hingga pancaran wajah saat akhir hayatmu..
Begitu tenang, begitu damai, seperti tidur..
Selamat jalan dek Abduh, kami semua menyaksikan bahwa kau lelaki sholeh.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.
Ya Rabb, mampukan kami agar dapat menjadi orang sukses saat menghadapMu, seperti saudaraku ini.
Pamulang & Ciputat, 22 Maret 2012. Tulisan kolaborasi dengan pak Lutfi
Sumber : http://www.fimadani.com/bahkan-bidadari-pun-cemburu-karenanya/
Bahkan Bidadaripun Cemburu Karenanya
23/03/12
Dia yang tak pernah lepas dari sholat malam, tilawah, dan ma’tsurat pagi petang, lalu sangat mendadak dipanggil tanpa tanda, dengan ucapan akhir ketauhidan.
Dia yang menghabiskan hari-harinya untuk dakwah, hingga semalam jam 23.00 masih di luar rumah untuk dakwah.
Dia yang hampir tidak pernah menolak jika dimintai bantuan, selalu ringan tangan membantu sesiapa.
Dia yang di akhir-akhir hidupnya selalu berdoa sangat panjang di tiap usai sholat, hingga pernah ditanya kawan,”Kenapa?’
Dia yang setiap pergi kemana pun menyempatkan berhenti sejenak, hatta untuk sholat dhuha, “berhenti dulu ya teh,.. kita dhuha dulu”
Dia yang sebentar lagi akan meminang seorang muslimah, ternyata memilih menjemput bidadari surga.
Saat melihat teduh wajahnya dalam jasadnya yang terbujur kaku, mataku pun membasah. Betapa aku iri melihatnya, meskipun aku tak mengenalnya dengan baik. Hanya lewat cerita sekilas-sekilas dari kakaknya, Yuli, yang setiap pekan datang mengaji ke rumahku. Abduh yang juga sering mengantarkan Yuli kesana kemari, cukup kuhafal wajahnya, meski aku belum pernah berbicara dengannya. Tapi aku tahu, dia, Abduh, adalah orang yang baik.
Maka, tak salah jika salah satu sahabatnya pun, bercerita dengan pilu, tentang kesehaerian Abduh, juga tentang detik-detik terakhirnya. Pak Lutfi, tetangga Abduh, yang juga sesama orang tua murid dari anak-anak kami, bercerita:
* * *
20 Maret 2012 pukul 03.30 dini hari. Saat itu aku sudah terjaga, dan sedang mengerjakan sesuatu yang sementara ini menjadi jalan ma’isyahku di depan laptopku. Sebelumnya aku menyempatkan diri untuk shalat malam beberapa rakaat saja. Aku bekerja di atas tempat tidur ditemani isteriku yg sedang berbaring di sebelahku sambil menjaga anak bungsuku dari ‘serangan’ nyamuk.
Tiba-tiba terdengar dering esia istriku. Isteriku meraih esia-nya dan menjawab salam dari seberang telepon. Mendengar permulaan dialog, aku segera mengenali bahwa yang menelepon adalah mbak Yuli. Aku memang selalu memanggil akhwat yang sudah dewasa, yang sebaya dan dibawah usiaku, dengan menambahkan panggilan ‘mbak’ di depan namanya, tidak lain untuk rasa hormat dan penghargaan kepada seorang perempuan. Isteriku memanggil mbak Yuli dengan sebutan ‘teteh’ tanpa nama di depannya – jadi seperti adik memanggil kepada kakaknya. Sementara mbak Yuli memanggil isteriku dengan sebutan Bunda, panggilan anak-anakku pada isteriku. Usianya sebaya dengan isteriku, tetapi karena ikatan persaudaraan yang sangat erat, mereka saling memanggil dengan panggilan keakraban dan kasih sayang.
Tiba-tiba isteriku sedikit terkejut, “Kenapa Abduh teh..?”
Aku tidak lagi mendengar sahutan dari mbak Yuli di seberang telepon, tetapi yang jelas setelahnya isteriku meminta tolong untuk segera diantarkan berangkat ke rumah Yuli dan keluarganya. Aku segera bergegas, menghentikan pekerjaanku dan membawa apa yg kuingat untuk dibawa.
Aku dan isteri segera berkendara menuju rumah Yuli di Villa Pamulang. Sambil bertanya-tanya dalam hati.. “Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi dengan Abduh?”
Aku karena panik malah sempat lupa mengarahkan motor kemana arah rumah mbak Yuli.
Sedang dalam perjalanan, esia-pun berdering lagi. Isteriku menjawab sambil memandu memberi pertolongan pertama sebatas pengetahuan isteriku. Kebetulan, isteriku pernah bekerja di sebuah klinik kesehatan alternatif, jadi sedikit banyak tahu beberapa hal tentang tindakan pertolongan pertama. Lalu berdering lagi, mbak Yuli menanyakan, “Sudah sampai dimana?”
“Sudah dekat”, jawab isteriku, “Sudah di mesjid teh..” lanjutnya.
Sedikit panik, aku pun mempercepat laju motor dan saat tiba, mbak Yuli sudah menunggu di mulut blok Villa di mana rumahnya berada.
Aku dan isteri segera masuk ke kamar di mana Abduh tidur. Terlihat dia sedang (seperti) tidur. Isteriku langsung memeriksa denyut nadi di pergelangan tangannya. Kemudian memeriksa denyut di lehernya. Tiba-tiba isteriku menangis.
“Bagaimana Bunda..?”, tanyaku.
“Denyut nadinya tidak teraba ayah..”
Aku pun memegang badannya, masih terasa hangat dan berkeringat.
Berharap masih bernyawa dan mendapat pertolongan, segera dini hari itu aku meminta pada Iqbal, adik mbak Yuli, kakaknya Abduh, untuk segera membawa ke rumah sakit terdekat. Yang paling dekat adalah RS Sari Asih. Dengan motor aku mendahului mereka menuju RS Sari Asih. Meminta pada security perumahan membuka portal. Dan sesampai di rumah sakit segera meminta pada petugas mempersiapkan kamar darurat. Semua keluarga, mbak Yuli, Iqbal dan Mama bersama ke rumah sakit. Isteriku tinggal di rumah menjaga dua anak kecil mbak Yuli yang masih terlelap.
Sesampainya dalam kamar di ruang darurat (IGD), dilakukan tindakan dengan membuat nafas bantuan dan menekan rongga dadanya. Dan ternyata Abduh memang sudah meninggal sejak di rumah, di tempat tidurnya. Innalillahi wainna ilaihi rooji’un.
Menurut Iqbal, sekitar lewat jam tiga itu, dia terbangun oleh deringan jam. Dan ketika terbangun sekonyong-konyong melihat Abduh sedikit kejang. Bola matanya mengarah ke atas sebentar lalu ke arah bawah kembali. Iqbal dan mbak Yuli segera mencoba membangunkan, tapi tidak bangun juga, hingga akhirnya menghubungi kami.
Baru setelahnya kami menyadari, bahwa saat itu-lah Izrail sebenarnya sedang mencabut nyawanya. Mencabutnya adalah pada saat-saat Abduh terbiasa bangun pada jam itu untuk shalat malam.
Dan memang ketika malam itu Abduh pulang ke rumah hampir jam 12 malam, sebelum beranjak istirahat, terlebih dahulu sempat berpesan pada Ibunya untuk dibangunkan jam tiga guna shalat malam. Sang ibu-pun mengiyakan. Karena kasih sayang ibu, sang ibu berniat membangunkan sedikit lewat dari jam tiga untuk memberi waktu agak lama untuk Abduh beristirahat, karena pulangnya juga sudah larut.
Ternyata Allah SWT menentukan lain. Jam dimana Abduh terbiasa terbangun untuk shalat malam menghadap Rabb-nya, saat itu ternyata menjadi saat di mana dia menghadap Rabb-nya lebih dekat.. lebih dekat dari biasanya.
Mbak Yuli memang tegar. Walaupun ada kesedihan di hati, tidak terdengar tangisnya. Bicaranya pun terlihat sangat tenang. Aku tahu, hal itu karena dia harus menenangkan ibunya setelah sebelumnya memberitahu tentang meninggalnya Abduh. Setelah berkoordinasi secara kilat tentang dipulangkan kemana jenazah almarhum, akhirnya diambil keputusan untuk disemayamkan di komplek Peruri, tempat tinggal saudaranya. Tempat yang juga sudah menjadi tempat tinggal bagi mereka.
Saat itu baru saja subuh. Dengan sisa sedikit pulsa, aku memberitahu isteri dan meminta pada isteriku untuk menghubungi dua orang teman di markas untuk datang di rumah duka di Peruri, agar bisa mempersiapkan segala sesuatunya bersama keluarga di Peruri.
Pak Kusnadi menunggu kedatangan jenazah, berkoordinasi dengan keluarga sambil memberitakan duka ini kepada lainnya. Pak Mukhlis segera menghubungi Amil dan membeli bahan-bahan yang diperlukan dalam penyelenggaraan jenazah. Aku sendiri kembali ke rumah mbak Yuli di Villa Pamulang untuk menjemput isteriku dan anak-anak mbak Yuli. Menyiapkan pakaian ganti dan semua perlengkapan yang kira-kira diperlukan untuk mbak Yuli, Iqbal, anak-anak dan ibunya untuk dibawa ke Peruri.
Bersamaan dengan kedatanganku di rumah mbak Yuli, saat itu datang juga Eka, seorang teman dari markas juga. Eka memang diminta datang oleh isteriku subuh itu juga, karena isteriku mengira aku langsung ke Peruri dan tidak menjemputnya.
Sesampainya dekat rumah sakit, ternyata mbak Yuli dan keluarga masih berada di sana. Akhirnya kami tidak langsung ke Peruri, dan segera masuk ke halaman rumah sakit. Akhirnya ambulance yang membawa jenazah almarhum-pun siap berangkat. Anak-anak bersama ibu, Iqbal dan Eka bersama mobil menuju Peruri. Mbak Yuli dan isteriku ke Peruri dengan Ambulance. Aku sendiri pergi dengan motor. Karena kunci motor terbawa isteri, aku berkendara dengan motor Eka. Untungnya, kunci motornya belum kuserahkan padanya saat tiba di rumah sakit, karena untuk naik angkutan umum, sepeser uang-pun tidak terbawa olehku karena begitu bergegasnya, sehingga terlupakan.
Tiba di Peruri, aku menunggu bersama pak Kusnadi. Ketika jenazah almarhum tiba, pecahlah tangis sanak saudara. Tetangga dan teman yang berdatangan-pun terlihat berduka, nampak terkejut dan tidak percaya. Usianya baru 27 tahun. Tidak sakit apapun. Tidak ada riwayat sakit jantung, bahkan dari riwayat keluarganya sekalipun. Bahkan malam itu, sebelum tiba di Villa pamulang, Abduh menyempatkan diri ke Peruri, karena memang juga sudah menjadi tempat tinggalnya sejak lama. Sempat berbincang-bincang dan shalat Isya’ berjamaah di masjid Al-Ikhwan di depan rumahnya. Sampai jam 23 malam masih menyempatkan diri membantu salah seorang ikhwah menyelesaikan sebuah tugas, sebelum akhirnya pergi pulang.
Silih berganti warga dan kerabat berdatangan untuk takziah. Aku melihat kedatangan mereka sambil mengenalinya di hati. Tentu saja, sangat banyak dari mereka yang merasa ditinggal. Abduh yang dikenalinya selama ini adalah orang yang mudah dimintai tolong. Hampir tidak pernah mengelak ketika diminta bantuan. Selalu bersikap baik dengan semua orang. Tidak pernah membicarakan aib orang lain. Ketika bercanda, hanya seperlunya dan sewajarnya. Tidak pernah melibatkan diri dalam perdebatan yg dapat menimbulkan permusuhan. Kami-pun di markas, juga mengenali beliau sebagai kader yang selalu siaga ditempatkan dimana saja. Mungkin Abduh bukan siapa-siapa dalam struktur jamaah dakwah ini. Tetapi tanpa keterlibatannya, bisa jadi agak terasa kesulitan dalam merealisasikan agenda. Oleh karenanya, biasanya dalam kepanitiaan biasa dimasukkan dalam seksi pembantu umum ataupun akomodasi dan transportasi.
Aku dan keluarga seringkali juga meminta beliau mendampingi dan mengantar kami menjenguk anak pertama kami di sebuah boarding school di Subang. Sehingga, kami memiliki kesan yang mendalam tentangnya.
Bila waktunya mengantar kami ke Subang, selalu dia menyempatkan berhenti di rest area. Aku tahu, hal itu tidak dilakukan untuk semata-mata mengisi bahan bakar, tetapi alasan sebenarnya adalah agar bisa terlebih dulu menjalankan shalat dhuha. Aku memang selalu meminta diantar pagi-pagi hari, agar masih terbilang pagi saat sampai di Subang. Saat-saat menunggu kami sekeluarga-pun, tidak terlepas dengan mushaf yang selalu dibawanya.
Sepanjang pengetahuanku, aku mengenalinya sebagai orang yang selalu menjaga dhuha, shalat malam, al-ma’tsurat dan tilawahnya. Kami juga mengenalinya sebagai orang yang sayang dan hormat dengan kakak dan saudara-saudaranya. Selalu mengiyakan nasehat kakaknya. Terlebih kepada ibunya. Bahkan suatu ketika, ketika terasa sakit dan tidak merasa kuat untuk meneruskan puasa ayyamul bidh-nya, Abduh masih menyempatkan diri menghubungi ibunya meminta ijin lebih dulu untuk berbuka dan membatalkan puasanya.
Sambil mengenali satu-persatu kerabat yang datang takziah, begitulan kesan dan kabar kebaikan Abduh ‘bercerita’ dalam pikiran dan hatiku. Sampai akhirnya mataku teralihkan oleh kedatangan akhwat. Berdua. Yang satu berusia paruh baya. Yang satu masih muda dan cantik. Akhwat ini menangis. Sempat tidak kuasa melangkah mendekati jenazah almarhum. Akhwat yang satu yang rupanya adalah murabbinya, mengajaknya untuk mendekat dan melihat. Semakin pecah tangisnya. Aku bertanya-tanya, “Ini siapa..? Kenapa terlihat begitu sedih dan terpukul..?”
Sedari tadi, kesedihan di hati hanya membuat mataku sesekali berkaca-kaca. Kaca itu semakin menebal ketika kemudian aku mengetahui bahwa akhwat ini adalah calon yang rencananya menjadi pendamping hidup almarhum. Dan akhirnya, bendungan itu tidak bisa kutahan lagi. Air mataku mulai menyudut dan mengalir, saat melihat drama sang akhwat menangis tersedu-sedu sambil berpelukan dengan mbak Yuli, kakak Abduh. Berpelukan sangat erat dan lama. Erat dan lama. Eratt sekali. Lamma sekali.
Dan aku memandangi adegan itu. Rupanya, almarhum sedang menjalani proses ta’aruf dengan akhwat tersebut, dan sedang berlanjut dalam proses khitbah.
Dari Murabbinya Abduh, aku mengetahui ternyata Abduh sudah yang ke empat kalinya menjalani proses ta’aruf. Bahkan dari kakaknya, mbak Yuli, kami mengetahui dan pernah diminta bantuannya saat beranjak akan berangkat meminang dan akhirnya tiba-tiba batal justru sehari dari rencana datang meminang akhwat tersebut (pada proses sebelumnya). Sampai saat ini aku belum mengerti alasan akhwat itu tiba-tiba membatalkannya. Dan dengan akhwat yang sekarang, adalah proses ta’aruf yang keempat, setelah tiga sebelumnya gagal.
Sekilas, mengenal akhwat yang sebelumnya tidak saya kenali tersebut, memang terlihat pantas sebenarnya jika pada akhirnya berjodoh. Kecantikan yang sempurna dan terlihat shalihah.
Tapi rupanya Allah SWT lebih menyukai almarhum. Semoga akhwat ini mendapat ganti yang sepadan atau bahkan mungkin yang lebih baik, dan mudah-mudahan menjadi hikmah yang sangat besar baginya bahwa jodoh hanya di tangan Yang Maha Kuasa, bukan di tangan kita. Dan semoga menjadi ujian yang kesabaran dan keikhlasannya menjadikan akhwat ini menjadi penghuni surga.
(Ya, sempat kujabat dan kupeluk akhwat itu. Mengajaknya bicara pelan-pelan, meski kami baru kenal. Sangat kupahami rasa terpukul dan sedihnya, karena proses pernikahan, ah, tepatnya proses khitbah yang sebentar lagi, harus batal, bukan karena digagalkan, tapi karena calon mempelai laki-laki mendadak meninggal. Rabbi.. terbayang perih rasanya. Kuusap bahunya pelan, dan kusarankan agar ia membaca Qur’an dengan perlahan, agar hatinya lebih tenang-red)
Saat aku mengantarkan jenazah dari rumah sakit menuju rumah duka, mbak Yuli sempat bercerita kepada isteriku hikmah di balik gagalnya proses ta’aruf adiknya. Mbak Yuli merasa, mungkin ini adalah hikmah di balik semua kegagalan itu. Dan dalam tangisnya yang akhirnya pecah saat di ambulance bersama isteriku, mbak Yuli mengakhiri curahan hatinya dengan harapan dan merasa yakin sekali bahwa memang Abduh hanya untuk bidadari di surga, bukan untuk yang lainnya.
Aku sendiri berdoa di akhir tulisan ini, walaupun Abduh terpaut cukup jauh usianya di bawahku. Aku memohon kepada Allah SWT agar diberi kemampuan dan kesempatan meneladani seluruh kebaikan Abduh. Bagaimana mungkin aku tidak butuh meminta seperti itu, sedangkan bidadari di surga-pun cemburu karenanya..?
* * *
Dan aku selalu cemburu, pada orang sukses sepertimu, dek.
Yang senantiasa menabung amal sholeh, hingga pancaran wajah saat akhir hayatmu..
Begitu tenang, begitu damai, seperti tidur..
Selamat jalan dek Abduh, kami semua menyaksikan bahwa kau lelaki sholeh.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.
Ya Rabb, mampukan kami agar dapat menjadi orang sukses saat menghadapMu, seperti saudaraku ini.
Pamulang & Ciputat, 22 Maret 2012. Tulisan kolaborasi dengan pak Lutfi
Sumber : http://www.fimadani.com/bahkan-bidadari-pun-cemburu-karenanya/
3/22/2012
“Saat senyuman tak terbalas, maka Allah telah menghitung manis senyummu. Saat sapamu tidak terjawab, Allah takkan lupa atas apa yang kau katakan. Saat ajakanmu dalam kebaikan tidak terpenuhi, lelahmu akan menjadi hiasan di tamanNya."
Nada dering Handphoneku berbunyi. Sebuah SMS dari seorang sahabat.
“Saat senyuman tak terbalas, maka Allah telah menghitung manis senyummu. Saat sapamu tidak terjawab, Allah takkan lupa atas apa yang kau katakan. Saat ajakanmu dalam kebaikan tidak terpenuhi, lelahmu akan menjadi hiasan di tamanNya. Saat engkau menangis atas perihnya perjuanganmu, Allah tak lalai menghitung setiap tetes air matamu. Saat mereka meninggalkanmu, Allah akan selalu ada bersamamu! Jangan hanya mengharapkan perubahan dalam dakwah ini, Akh! Fikirkanlah tentang KONTRIBUSI yang dapat kita berikan. Semoga Allah senantiasa mencintaimu.”
Subhanallah. Hatiku bergetar membacanya. Memang, jalan dakwah adalah panjang, berliku, menanjak, dan penuh onak duri. Seperti itulah dakwah. Namun ketika kita ikhlas menjalaninya, dakwah itu akan menjadi indah. Meminjam ucapan Ustadz Rahmat Abdullah, “Seperti itulah dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan menarik seluruh potensi yang ada pada dirimu. Mulai dari tidurmu, sadarmu, mimpimu, gerakmu, jalanmu, bahkan diammu untuknya.”
Meniti langkah di jalan dakwah tidaklah mudah. Tidak juga sulit. Tidak mudah, karena jalan dakwah ini hanya sedikit orang yang memilihnya. Sehingga kita haruslah benar-benar ikhlas mengharapkan pertolongan serta ridha Allah dalam meniti jalan dakwah ini.
Sampaikanlah walau satu ayat. Perintah dakwah ini tentu sudah sangat sering kita dengar. Tentu saja, dakwah adalah hal yang sangat penting dalam regenerasi para muslim kita ini. Bisa dibayangkan kalau saja para sahabat enggan berdakwah setelah Rasulullah wafat, entah bagaimana kondisi kita saat ini. Nikmat islam belum tentu bisa kita rasakan seperti hembusan yang kita dapatkan ini.
Tersenyumlah menghadapi jalan dakwah ini, Saudaraku!
Ringankan bebanmu dengan senyuman. Tatap optimis masa depan dengan senyuman. Jemputlah kebahagiaan dengan senyuman. Tinggalkan kesedihan dengan senyuman. Sambut saudaramu dengan senyuman. Buat mereka bahagia dengan senyumanmu.
“Janganlah sekali-kali engkau meremehkan suatu perbuatan baik walaupun hanya menyambut saudaramu dengan SENYUMAN” (HR Muslim)
Ketika kehidupan memberi kita seribu alasan untuk menangis, tunjukkan bahwa kita memiliki sejuta alasan untuk tersenyum. Nikmati setiap detik waktu dan akhiri kelelahan di jalan dakwah ini dengan kata keikhlasan. Indahnya hidup bukanlah dari seberapa banyak orang mengenal kita. Namun seberapa bahagia orang-orang telah mengenal kita!
Buatlah saudara kita tersenyum telah mengenal kita. Ketika mereka tengah dalam risau gundah, senyummu-lah yang mengangkat mereka kembali dari keterpurukan. Ketika rekan kita di jalan panjang dakwah ini mengalami letih, senyummu-lah yang mengobatinya. Ketika rekan dakwah kita tengah goyah, senyummu-lah yang menguatkan. Betapa indah senyum itu.
Itulah mengapa Allah SWT memerintahkan kita untuk saling berwasiat dalam kebaikan dan saling berwasiat dalam kesabaran. Mengapa sabar? Karena istiqamah dalam jalan dakwah bagaikan memegang bara api. Menyakitkan dan sangat berat. Perlu penguat sesama kader dakwah untuk tetap istiqamah di jalan dakwah ini.
Tersenyumlah di jalan dakwah ini! :)
(Fathan)
Tersenyumlah di Jalan Dakwah Ini!
22/03/12
“Saat senyuman tak terbalas, maka Allah telah menghitung manis senyummu. Saat sapamu tidak terjawab, Allah takkan lupa atas apa yang kau katakan. Saat ajakanmu dalam kebaikan tidak terpenuhi, lelahmu akan menjadi hiasan di tamanNya."
Nada dering Handphoneku berbunyi. Sebuah SMS dari seorang sahabat.
“Saat senyuman tak terbalas, maka Allah telah menghitung manis senyummu. Saat sapamu tidak terjawab, Allah takkan lupa atas apa yang kau katakan. Saat ajakanmu dalam kebaikan tidak terpenuhi, lelahmu akan menjadi hiasan di tamanNya. Saat engkau menangis atas perihnya perjuanganmu, Allah tak lalai menghitung setiap tetes air matamu. Saat mereka meninggalkanmu, Allah akan selalu ada bersamamu! Jangan hanya mengharapkan perubahan dalam dakwah ini, Akh! Fikirkanlah tentang KONTRIBUSI yang dapat kita berikan. Semoga Allah senantiasa mencintaimu.”
Subhanallah. Hatiku bergetar membacanya. Memang, jalan dakwah adalah panjang, berliku, menanjak, dan penuh onak duri. Seperti itulah dakwah. Namun ketika kita ikhlas menjalaninya, dakwah itu akan menjadi indah. Meminjam ucapan Ustadz Rahmat Abdullah, “Seperti itulah dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan menarik seluruh potensi yang ada pada dirimu. Mulai dari tidurmu, sadarmu, mimpimu, gerakmu, jalanmu, bahkan diammu untuknya.”
Meniti langkah di jalan dakwah tidaklah mudah. Tidak juga sulit. Tidak mudah, karena jalan dakwah ini hanya sedikit orang yang memilihnya. Sehingga kita haruslah benar-benar ikhlas mengharapkan pertolongan serta ridha Allah dalam meniti jalan dakwah ini.
Sampaikanlah walau satu ayat. Perintah dakwah ini tentu sudah sangat sering kita dengar. Tentu saja, dakwah adalah hal yang sangat penting dalam regenerasi para muslim kita ini. Bisa dibayangkan kalau saja para sahabat enggan berdakwah setelah Rasulullah wafat, entah bagaimana kondisi kita saat ini. Nikmat islam belum tentu bisa kita rasakan seperti hembusan yang kita dapatkan ini.
Tersenyumlah menghadapi jalan dakwah ini, Saudaraku!
Ringankan bebanmu dengan senyuman. Tatap optimis masa depan dengan senyuman. Jemputlah kebahagiaan dengan senyuman. Tinggalkan kesedihan dengan senyuman. Sambut saudaramu dengan senyuman. Buat mereka bahagia dengan senyumanmu.
“Janganlah sekali-kali engkau meremehkan suatu perbuatan baik walaupun hanya menyambut saudaramu dengan SENYUMAN” (HR Muslim)
Ketika kehidupan memberi kita seribu alasan untuk menangis, tunjukkan bahwa kita memiliki sejuta alasan untuk tersenyum. Nikmati setiap detik waktu dan akhiri kelelahan di jalan dakwah ini dengan kata keikhlasan. Indahnya hidup bukanlah dari seberapa banyak orang mengenal kita. Namun seberapa bahagia orang-orang telah mengenal kita!
Buatlah saudara kita tersenyum telah mengenal kita. Ketika mereka tengah dalam risau gundah, senyummu-lah yang mengangkat mereka kembali dari keterpurukan. Ketika rekan kita di jalan panjang dakwah ini mengalami letih, senyummu-lah yang mengobatinya. Ketika rekan dakwah kita tengah goyah, senyummu-lah yang menguatkan. Betapa indah senyum itu.
Itulah mengapa Allah SWT memerintahkan kita untuk saling berwasiat dalam kebaikan dan saling berwasiat dalam kesabaran. Mengapa sabar? Karena istiqamah dalam jalan dakwah bagaikan memegang bara api. Menyakitkan dan sangat berat. Perlu penguat sesama kader dakwah untuk tetap istiqamah di jalan dakwah ini.
Tersenyumlah di jalan dakwah ini! :)
(Fathan)
3/21/2012
Oleh Cahyadi Takariawan
Masyarakat boleh berkata apa saja tentang proses Pilkada DKI Jakarta. Media sudah banyak memberitakannya. Kader sudah melek dan senang membaca berita. Ada cermin bening, sangat bening, dalam proses yang menyertainya. Sangat banyak mutiara hikmah yang harus kita ambil darinya.
Adalah Triwisaksana, kader dakwah yang mendapatkan amanah untuk dimajukan dalam Pilkada. Kerja keras sudah dilakukannya, pagi, siang, sore hingga malam tiba. Keringat mengucur dengan deras, membasahi sekujur tubuhnya. Mencoba merangkai harapan masa depan, merenda cita-cita kemenangan, membayangkan Jakarta diliputi pribadi mulia.
Namun apa hendak dikata. Realitas politik sangat sulit diduga. Bang Sani menerima keputusan pimpinan, ia tidak jadi dimajukan dalam proses Pilkada. Pilihan yang sulit bagi para pimpinan partainya, karena sangat banyak kendala untuk tetap memajukan Triwisaksana. Pilihan telah ditetapkan, keputusan telah dikeluarkan, Hidayat Nurwahid tidak pernah menyangka. Ya, ustadz Hidayat mendapatkan amanah maju dalam Pilkada DKI Jakarta.
Coba lihat bagaimana sikap keduanya. Akhuna Triwisaksana bersikap sangat dewasa. Ustadzuna Hidayat bersikap sangat bijaksana. Baca saja media, berikut cuplikannya.
Kutipan Media – 1
Hidayat mengatakan, siap sepenuhnya mendukung Triwisaksana atau yang akrab dipanggil Sani, yang sebelumnya dicalonkan dalam pemilukada DKI Jakarta. “Jika Bang Sani maju, saya akan legowo untuk tim sukses pemilu,” lanjutnya.
Pada prinsipnya, kata Hidayat, Sani lebih berkompeten menjadi calon Gubernur. “Saya percaya partai akan memutuskan calon terbaik bagi DKI dan Indonesia. Secara prinsip, Sani cocok dan berkompeten,” kata dia.
Kutipan Media – 2
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Triwisaksana meski sebelumnya dideklarasikan sebagai bakal calon gubernur Jakarta mengaku tidak kecewa atas keputusan partainya yang mengusung Hidayat Nur Wahid sebagai calon resmi Partai Keadilan Sejahtera.
“Tidak kecewa dengan keputusan partai, memang pak Hidayat adalah tokoh yang lebih baik dari saya,” kata Triwisaksana yang turut mendampingi pendaftaran pasangan Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini sebagai cagub-cawagub PKS di KPUD Jakarta, Senin malam (19/3/2012).
Kutipan Media – 3
Bakal calon gubernur DKI Jakarta Triwisaksana mengaku tidak sakit hati atas kegagalannya maju sebagai DKI 1. Sani, salah seorang politisi muda PKS ini bahkan secara terbuka menyatakan dukungannya kepada pasangan Hidayat Nurwahid – Didik J. Rachbini.
“Tidak ada sakit hati sama sekali. Saya malah diminta untuk menjadi timses (tim sukses) kedua pasangan,” kata Bang Sani panggilan akrab Triwisaksana di Kantor KPUD DKI Jakarta, Senin (19/3/2012).
Menurut Bang Sani, pencalonan Hidayat Nurwahid sebagai calon gubernur DKI Jakarta dari PKS tidak perlu dipermasalahkan. Bang Sani menganggap Hidayat Nur Wahid merupakan kader terbaik PKS. “Itu proses yang biasa saja,” imbuhnya. Lalu apa alasan PKS tidak memilihnya maju sebagai calon DKI 1? “Pak Hidayat Miliki kapasitas ketimbang saya,” tukasnya.
Kutipan Media – 4
Triwisaksana yang sebelumnya dideklarasikan PKS sebagai calon gubernur, kini berharap pasangan yang diusung partainya akan menang dalam persaingan menuju Balaikota. Presiden PKS Lutfi Hasan Ishaq yang juga mendampingi pencalonan Hidayat – Rachbini mengatakan deklarasi pencalonan Triwisaksana sebelumnya merupakan ‘pemanasan’.
Demikian media menuturkannya.
--------------------------------------------------------
Cermin Bening : Dari Sani ke Wahid
Subhanallah, lihatlah kedua kader terbaik kita. Demikian tinggi etika mereka jaga. Mereka saling melempar pujian kepada lainnya. Hidayat mengatakan siap mendukung Sani jika partai memilih Sani untuk maju dalam Pilkada. Hidayat menganggap Sani cocok dan memiliki kapasitas untuk memimpin Jakarta. Sebaliknya Sani menyatakan Hidayat lebih baik darinya. Subhanallah, betapa mulia mereka berdua.
Keduanya menyatakan siap menjadi Tim Sukses bagi yang lainnya, apabila dirinya tidak jadi dimajukan dalam Pilkada. Subhanallah, betapa mulia hati mereka. Presiden Partai menyatakan, Bang Sani telah melakukan pemanasan, bagi jalan yang akan dilalui oleh Hidayat Nurwahid untuk memimpin Jakarta.
Cermin bening itu, menjadi isyarat kebersihan niat dalam mengikuti proses Pilkada. Kebesaran jiwa Bang Sani, kebersahajaan ustadz Hidayat, menjadi modal utama memenangkan kontestasi politik menuju pemimpin DKI Jakarta.
Dari Sani ke Wahid, keduanya kader dakwah yang setia. Dari Sani ke Wahid, keduanya simbol perjuangan yang menggelora. Dari Sani ke Wahid, lihatlah tidak ada yang perlu terluka dan kecewa. Dari Sani ke Wahid, keduanya memang istimewa.
*http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=2257
Cahyadi Takariawan : Dari Sani ke Wahid, Cermin teramat bening.
21/03/12
Oleh Cahyadi Takariawan
Masyarakat boleh berkata apa saja tentang proses Pilkada DKI Jakarta. Media sudah banyak memberitakannya. Kader sudah melek dan senang membaca berita. Ada cermin bening, sangat bening, dalam proses yang menyertainya. Sangat banyak mutiara hikmah yang harus kita ambil darinya.
Adalah Triwisaksana, kader dakwah yang mendapatkan amanah untuk dimajukan dalam Pilkada. Kerja keras sudah dilakukannya, pagi, siang, sore hingga malam tiba. Keringat mengucur dengan deras, membasahi sekujur tubuhnya. Mencoba merangkai harapan masa depan, merenda cita-cita kemenangan, membayangkan Jakarta diliputi pribadi mulia.
Namun apa hendak dikata. Realitas politik sangat sulit diduga. Bang Sani menerima keputusan pimpinan, ia tidak jadi dimajukan dalam proses Pilkada. Pilihan yang sulit bagi para pimpinan partainya, karena sangat banyak kendala untuk tetap memajukan Triwisaksana. Pilihan telah ditetapkan, keputusan telah dikeluarkan, Hidayat Nurwahid tidak pernah menyangka. Ya, ustadz Hidayat mendapatkan amanah maju dalam Pilkada DKI Jakarta.
Coba lihat bagaimana sikap keduanya. Akhuna Triwisaksana bersikap sangat dewasa. Ustadzuna Hidayat bersikap sangat bijaksana. Baca saja media, berikut cuplikannya.
Kutipan Media – 1
Hidayat mengatakan, siap sepenuhnya mendukung Triwisaksana atau yang akrab dipanggil Sani, yang sebelumnya dicalonkan dalam pemilukada DKI Jakarta. “Jika Bang Sani maju, saya akan legowo untuk tim sukses pemilu,” lanjutnya.
Pada prinsipnya, kata Hidayat, Sani lebih berkompeten menjadi calon Gubernur. “Saya percaya partai akan memutuskan calon terbaik bagi DKI dan Indonesia. Secara prinsip, Sani cocok dan berkompeten,” kata dia.
Kutipan Media – 2
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Triwisaksana meski sebelumnya dideklarasikan sebagai bakal calon gubernur Jakarta mengaku tidak kecewa atas keputusan partainya yang mengusung Hidayat Nur Wahid sebagai calon resmi Partai Keadilan Sejahtera.
“Tidak kecewa dengan keputusan partai, memang pak Hidayat adalah tokoh yang lebih baik dari saya,” kata Triwisaksana yang turut mendampingi pendaftaran pasangan Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini sebagai cagub-cawagub PKS di KPUD Jakarta, Senin malam (19/3/2012).
Kutipan Media – 3
Bakal calon gubernur DKI Jakarta Triwisaksana mengaku tidak sakit hati atas kegagalannya maju sebagai DKI 1. Sani, salah seorang politisi muda PKS ini bahkan secara terbuka menyatakan dukungannya kepada pasangan Hidayat Nurwahid – Didik J. Rachbini.
“Tidak ada sakit hati sama sekali. Saya malah diminta untuk menjadi timses (tim sukses) kedua pasangan,” kata Bang Sani panggilan akrab Triwisaksana di Kantor KPUD DKI Jakarta, Senin (19/3/2012).
Menurut Bang Sani, pencalonan Hidayat Nurwahid sebagai calon gubernur DKI Jakarta dari PKS tidak perlu dipermasalahkan. Bang Sani menganggap Hidayat Nur Wahid merupakan kader terbaik PKS. “Itu proses yang biasa saja,” imbuhnya. Lalu apa alasan PKS tidak memilihnya maju sebagai calon DKI 1? “Pak Hidayat Miliki kapasitas ketimbang saya,” tukasnya.
Kutipan Media – 4
Triwisaksana yang sebelumnya dideklarasikan PKS sebagai calon gubernur, kini berharap pasangan yang diusung partainya akan menang dalam persaingan menuju Balaikota. Presiden PKS Lutfi Hasan Ishaq yang juga mendampingi pencalonan Hidayat – Rachbini mengatakan deklarasi pencalonan Triwisaksana sebelumnya merupakan ‘pemanasan’.
Demikian media menuturkannya.
--------------------------------------------------------
Cermin Bening : Dari Sani ke Wahid
Subhanallah, lihatlah kedua kader terbaik kita. Demikian tinggi etika mereka jaga. Mereka saling melempar pujian kepada lainnya. Hidayat mengatakan siap mendukung Sani jika partai memilih Sani untuk maju dalam Pilkada. Hidayat menganggap Sani cocok dan memiliki kapasitas untuk memimpin Jakarta. Sebaliknya Sani menyatakan Hidayat lebih baik darinya. Subhanallah, betapa mulia mereka berdua.
Keduanya menyatakan siap menjadi Tim Sukses bagi yang lainnya, apabila dirinya tidak jadi dimajukan dalam Pilkada. Subhanallah, betapa mulia hati mereka. Presiden Partai menyatakan, Bang Sani telah melakukan pemanasan, bagi jalan yang akan dilalui oleh Hidayat Nurwahid untuk memimpin Jakarta.
Cermin bening itu, menjadi isyarat kebersihan niat dalam mengikuti proses Pilkada. Kebesaran jiwa Bang Sani, kebersahajaan ustadz Hidayat, menjadi modal utama memenangkan kontestasi politik menuju pemimpin DKI Jakarta.
Dari Sani ke Wahid, keduanya kader dakwah yang setia. Dari Sani ke Wahid, keduanya simbol perjuangan yang menggelora. Dari Sani ke Wahid, lihatlah tidak ada yang perlu terluka dan kecewa. Dari Sani ke Wahid, keduanya memang istimewa.
*http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=2257
3/16/2012
Oleh: Cahyadi Takariawan
"Salah satu penyakit yang berbahaya dalam pergerakan dakwah adalah Miopi Dakwah. Penyakit ini dapat menyebabkan gerakan dakwah kehilangan arah, karena hanya disibukkan oleh hal-hal yang bersifat praktis dan kekinian. Aktivis dakwah sangat sibuk, menyita seluruh waktu dan perhatian, namun seluruhnya hanya terkait dengan menjawab persoalan dan target sesaat, karena tidak mampu melihat jarak jauh."
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Menurut Wikipedia, miopi (dari bahasa Yunani : myopia, penglihatan-dekat) atau rabun jauh adalah sebuah kerusakan refraktif mata dimana citra yang dihasilkan berada di depan retina ketika akomodasi dalam keadaan santai. Penyakit ini menyebabkan seseorang hanya mampu melihat obyek dalam jarak dekat, dan tidak dapat melihat dalam jarak jauh.
Penyebab miopi dapat bersifat keturunan (herediter), ketegangan visual atau faktor lingkungan. Faktor herediter pada miopi pengaruhnya lebih kecil dari faktor ketegangan visual. Terjadinya miopi lebih dipengaruhi oleh bagaimana seseorang menggunakan penglihatannya, seperti seseorang yang lebih banyak menghabiskan waktu di depan komputer atau televisi, atau seseorang yang menghabiskan banyak waktunya dengan melihat obyek dekat tanpa istirahat.
Faktor lingkungan juga dapat memengaruhi misalnya pada rabun malam yang disebabkan oleh kesulitan mata untuk memfokuskan cahaya dan membesarnya pupil, keduanya karena kurangnya cahaya, menyebabkan cahaya yang masuk ke dalam mata tidak difokuskan dengan baik.
Dapat juga terjadi keadaan pseudo-miopi atau miopi palsu disebabkan ketegangan mata karena melakukan kerja jarak dekat dalam waktu yang lama. Penglihatan mata akan pulih setelah mata diistirahatkan.
Miopi bisa disembuhkan dengan beberapa model terapi. Pemakaian lensa kontak kacamata dengan lensa sferis negatif merupakan pilihan utama untuk mengembalikan penglihatan. Beberapa tindakan bedah juga dapat dilakukan seperti photorefractive keratectomy (PRK) atau laser assisted in-situ keratomileusis (LASIK). Dapat juga dilakukan orthokeratologi atau terapi penglihatan (vision therapy).
Miopi Dakwah
Salah satu penyakit yang berbahaya dalam pergerakan dakwah adalah Miopi Dakwah. Penyakit ini dapat menyebabkan gerakan dakwah kehilangan arah, karena hanya disibukkan oleh hal-hal yang bersifat praktis dan kekinian. Aktivis dakwah sangat sibuk, menyita seluruh waktu dan perhatian, namun seluruhnya hanya terkait dengan menjawab persoalan dan target sesaat, karena tidak mampu melihat jarak jauh.
Angka-angka, hitungan bilangan, posisi dan kedudukan, memang penting dan diperlukan dalam perjalanan dakwah. Seperti misalnya menetapkan target peningkatan jumlah kader, “bertambahnya satu juta kader pada tahun 2012”. Atau menetapkan target politik, “menjadi tiga besar pemenang Pemilu nasional”. Atau menetapkan target dalam Pilkada, “memenangkan Pilkada provinsi”. Semua target itu penting, dan harus diusahakan dengan sekuat kemampuan untuk mencapainya.
Ada pula yang hanya bercorak lima tahunan, sesuai ritme dan ritual demokrasi. Mereka hanya berbicara apa target 2014, menghitung hari menuju rivalitas politik di tahun 2014, menghitung resources yang diperlukan untuk memenangkan pertempuran politik di 2014. Tentu saja ini sebuah keharusan untuk menang, namun tidak boleh terjebak hanya berhitung pada waktu yang sangat pendek, 2014 saja. Seakan itu adalah segalanya, tanpa melihat ada hal yang di balik angka dan target kemenangan politik tersebut.
Jangan sampai gerakan dakwah hanya berhenti pada pencapaian target-target bilangan dan posisi “sesaat” tersebut. Karena ada hal yang sangat penting, untuk apa satu juta kader baru tersebut ? Akan diarahkan kemana potensi mereka ? Bagaimana pula dengan penataan kader-kader lama? Bagaimana mengoptimalkan potensi kader yang sangat beragam jenis dan kondisinya?
Menjadi pemenang Pemilu dan Pilkada tentu sangat penting, namun ada hal yang sangat penting, bagaimana mengelola kemenangan Pemilu? Bagaimana mengelola kemenangan Pilkada? Apa korelasi kemenangan Pemilu dengan penguatan dakwah? Apa korelasi kemenangan Pilkada dengan pengokohan kader dan struktur dakwah? Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang harus dijawab, setelah target-target angka dan kedudukan tersebut tercapai.
Gejala Miopi Dakwah
Ketika saya menulis tentang bahaya miopi dakwah ini, bukan berarti bahwa kita sudah terkena atau terjangkiti. Ini adalah sebuah peringatan dini dan sebuah upaya menjaga orisinalitas dakwah yang sangat kita cintai, agar tidak terjatuh ke dalam penyakit miopi yang bisa menghancurkan dakwah. Jadi, ini lebih merupakan sebuah tindakan pencegahan sebelum terjadinya hal yang tidk diinginkan.
Para pemimpin gerakan dakwah dan para aktivis harus mewaspadai berjangkitnya penyakit miopi dalam menjalankan agenda dakwah. Di antara gejala Miopi Dakwah adalah:
1. Kehilangan Visi
Visi (vision) merupakan ungkapan yang menyatakan cita-cita atau impian (want to be) yang ingin dicapai di masa depan. Visi memberikan pernyataan tentang tujuan akhir dari perjalanan kehidupan pribadi atau organisasi. Visi adalah pernyataan luhur tentang cita-cita yang hendak dicapai. Bisa dalam bentuk visi pribadi, visi keluarga, visi organisasi, bahkan visi negara. Visi menjadi penunjuk arah yang pasti, ke mana langkah mesti diarahkan. Visi menjadi pemandu perjalanan dalam kehidupan pribadi, keluarga, organisasi dan negara.
Maka, gerakan dakwah harus memiliki visi yang jelas dalam sepanjang perjalanannya. Semakin jelas dan kuat visi yang dimiliki gerakan dakwah, akan semakin jelas dan kuat pula pilihan jalan yang harus dilalui. Semakin jelas pula gerakan dakwah memandang dan mendefinisikan penyimpangan yang terjadi. Semakin lemah visi, semakin kabur pula pandangan tentang tujuan, sehingga memudahkan terjatuh ke dalam penyimpangan.
Organisasi yang tidak memiliki visi, atau kehilangan visi, akan membuat perjalanannya mengalir begitu saja, terbang bersama angin yang berhembus. Menuju apapun, dimanapun, entah namanya apapun. Lalu kapan dakwah akan sampai tujuan, sementara tidak pernah mendefinisikan tujuan akhir ? Gerakan dakwah melakukan pemborosan potensi, karena kegiatan yang dilakukan tidak mengarah kepada suatu visi yang jelas.
Dalam pergerakan dakwah, pada awalnya visi telah ditetapkan dengan sangat kuat. Namun saat berada dalam perjalanan, bertemulah dengan berbagai macam jenis godaan. Tidak seluruh godaan itu pahit, bahkan sebagian dari godaan itu bercorak sangat menarik. Jika gerakan dakwah tergoda untuk mengejar target-target sesaat semata, akan menyebabkan pelemahan visi, bahkan dalam jangka waktu lama, bisa terjatuh ke dalam kehilangan visi.
Begitu terjadi pelemahan visi, maka semua pandangan dan perhatian hanya akan terfokus menatap jarak dekat. Gerakan dakwah jatuh dalam penyakit rabun jauh yang sangat membahayakan. Seluruh aktivitas yang dilakukan, terlepas dari bingkai visi yang telah dicanangkan dari awal. Miopi bisa menghinggapi gerakan dakwah, sehingga tidak mampu menatap visi yang sesungguhnya sudah ditetapkan dengan jelas.
2. Tidak Memiliki Rencana Strategis (Renstra)
Rencana Strategis (Renstra) dibuat oleh organisasi dan lembaga untuk menyongsong visi masa depan seperti yang dicita-citakan. Ada profil ideal yang jelas, kondisi seperti apa yang ingin diwujudkan duapuluh tahun ke depan, atau limapuluh tahun ke depan, atau bahkan seratus tahun ke depan. Dari profil ideal tersebut, pergerakan dakwah kemudian menterjemahkan ke dalam sejumlah rencana strategis jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek.
Ada sangat banyak metodologi untuk membuat dan menetapkan renstra. Ilmu manajemen organisasi sudah sangat berkembang, sehingga banyak pilihan teori dan metodologi pembuatan renstra. Tentu saja semua pilihan itu bersifat ijtihad yang perlu diuji kesahihannya di lapangan, dan tidak ada satupun yang terbebas dari kekurangan. Namun, menggunakan sebuah metodologi tertentu akan memudahkan gerakan dakwah membuat, menetapkan, mengimplementasikan serta mengevaluasi renstra.
Mungkin bagi sebagian kalangan aktivis, membuat renstra itu pekerjaan “berat” yang tidak menyenangkan. Karena harus mengumpulkan berbagai data, harus “melukis” gambaran ideal masa depan, pada kurun waktu duapuluh tahun ke atas. Beberapa kalangan aktivis bahkan menganggap renstra sebagai momok yang harus dihindari, karena membuat kepala pusing saat membuat. Gejala ini menandakan miopi sudah menghinggapi mereka, karena terlalu lama menatap obyek dekat yang memikat.
Saya sangat miris melihat gerakan dakwah yang berjalan tanpa renstra. Karena jika berjalan tanpa renstra, pasti hanya melaksanakan agenda-agenda rutin yang menjebak, dan melaksanakan rencana sesaat sebagai reaksi atas situasi dan kondisi sekitar. Untuk sekedar menang pada tahun 2014 memang tidak memerlukan renstra, karena program yang bercorak praktis saja bisa membuahkan kemenangan. Namun kemenangan dakwah bukan hanya tahunan, yang diinginkan adalah tertanamnya nilai kebaikan secara kokoh pada berbagai sisi kehidupan.
3. Tidak Memiliki Program Jangka Panjang
Visi dakwah direalisasikan dengan pembuatan rencana strategis, sedangkan renstra diwujudkan secara lebih membumi dalam bentuk Program Jangka Panjang (PJP). Jika sudah kehilangan visi, menyebabkan gerakan dakwah gagal menyusun renstra, dan akhirnya tidak memiliki PJP. Ini adalah konsekuensi logis yang sambung menyambung, karena PJP diturunkan dari renstra dan renstra diturunkan dari visi.
Merekrut kader dalam jangka waktu tertentu dan jumlah tertentu adalah program jangka pendek. Memenangkan Pemilu 2014 adalah program jangka pendek. Memenangkan pilkada adalah program jangka pendek. Karena terbatas oleh waktu yang sangat pendek, dan sering memaksa mengeluarkan resources yang luar biasa besarnya.
Di antara program jangka panjang adalah pendidikan dan pembinaan kader sesuai potensi yang dimilikinya, serta menyiapkan lahan aktivitas bagi para kader sesuai dengan kepentingan dakwah dalam jangka panjang. Mengelola negara memerlukan banyak potensi, keahlian, dan harus menyiapkan sejumlah persyaratan formal sesuai ketentuan. Untuk sukses mengelola negara dan pemerintahan, tidak cukup dicapai dengan memenangkan pemilu dan pilkada.
Kadang program jangka panjang ini kurang menarik dan dianggap kurang menantang. Lebih menarik dan lebih menantang sesuatu yang jelas di depan mata, seperti pertempuran politik dalam pemilu dan pilkada. Adapun penyiapan berbagai potensi untuk menyongsong kemenangan jangka panjang, dianggap sebagai sesuatu yang “ngawang-awang” atau utopis. Minimalnya dianggap sebagai “bisa ditunda” dan berkategori “tidak mendesak”, dengan alasan “kita berjamaah masih lama”.
4. Gerakan Dakwah Menyempit pada Satu Sektor
Salah satu gejala miopi adalah menyempitnya perhatian gerakan dakwah kepada satu sektor saja dengan mengabaikan sektor lainnya. Sebagai contoh gerakan dakwah disempitkan hanya pada sektor tarbiyah atau pembinaan saja, seakan-akan dakwah hanya mengurus pembinaan sumber daya manusia. Seakan-akan dakwah hanya urusan mengaji dan membina diri menjadi pribadi salih. Padahal dakwah itu adalah upaya menebarkan nilai-nilai kebajikan dalam seluruh sisi dan dimensi kehidupan, bukan hanya pribadi, tapi juga keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Bukan hanya individu, namun juga sistem.
Contoh lainnya, gerakan dakwah diseret mengikuti ritme politik praktis, sehingga menyempitkan pandangan hanya pada urusan politik saja. Seakan-akan harus menang mutlak sekarang, harus menguasai kemenangan pilkada di berbagai propinsi, kabupaten dan kota sekarang, harus unggul dalam pemilihan umum legislatif sekarang, dan seterusnya. Seakan-akan kalau tidak menang dalam rivalitas politik sekarang, dakwah akan hancur selama-lamanya. Inilah gejala miopi dakwah yang membahayakan, karena hanya mengurus politik saja dengan mengabaikan sisi-sisi strategis lainnya.
Jika gerakan dakwah menyempit hanya fokus pada satu sisi saja, berarti telah melawan fitrah dakwah yang bersifat utuh menyeluruh. Doktrin pemahaman dakwah yang dibangun selama ini bisa runtuh, karena dakwah tidak menyentuh seluruh sisi kehidupan, namun hanya satu sisi saja dengan meninggalkan lainnya.
5. Mengabaikan Aset Masa Depan Gerakan
Jika gerakan dakwah hanya fokus kepada satu sisi saja, berdampak mengabaikan banyak aset masa depan. Kader-kader dakwah yang tersebar di berbagai wilayah dan pelosok-pelosok daerah, memiliki potensi yang sangat beragam. Mereka adalah aset masa depan pergerakan yang tidak ternilai harganya. Kesetiaan, pengorbanan, perjuangan yang telah mereka lakukan setiap hari setiap saat, sungguh tidak dapat dinilai dengan materi.
Sebagai contoh, jika dakwah hanya fokus pada sisi tarbiyah, maka sekian banyak potensi akan termubadzirkan karena tidak memiliki saluran berkegiatan. Hanya para ustadz dan para kader yang berlatar belakang pendidikan serta pembinaan akan terserap dalam program-program tarbiyah, sementara kader yang memiliki potensi ekonomi, politik, budaya dan lain sebagainya akan terabaikan.
Demikian pula jika dakwah menyempit hanya fokus mengurus politik, akan menyebabkan sekian banyak kader yang tidak memiliki minat dan peluang politik menjadi terbengkelai. Mereka terdiri dari kader yang berpotensi dan berdedikasi tinggi, namun tidak bisa terlibat dalam kancah politik praktis dengan berbagai alasan. Akhirnya mereka menjadi “pengangguran” di jalan dakwah, karena potensinya tidak tersalurkan. Padahal merekalah yang sangat diperlukan dalam menyusun kemenangan dakwah.
Langkah Terapi
Sebagaimana miopi pada umumnya, miopi dakwah juga bisa disembuhkan dengan serangkaian terapi. Yang paling sederhana adalah pemakaian “lensa sferis negatif” untuk mengembalikan penglihatan jarak jauh. Tindakan “bedah mata” juga dapat dilakukan seperti model photorefractive keratectomy (PRK) atau laser assisted in-situ keratomileusis (LASIK). Dapat juga dilakukan orthokeratologi atau terapi penglihatan (vision therapy).
Dalam konteks miopi dakwah diperlukan langkah terapi yang menyeluruh. Bukan sekedar menggunakan lensa sferis negatif atau bedah mata dan terapi penglihatan. Miopi dakwah tidak sekedar urusan mata fisik, namun mata hati, bashirah dan ruhaniyah. Dengan demikian terapinya pun memerlukan sentuhan yang menyeluruh, baik secara ruhiyah, fikriyah maupun idariyah (manajemen).
Kita mulai dari pembersihan jiwa yang kontinyu. Aktivis dakwah tidak boleh terbelenggu oleh motivasi duniawi, karena itu yang mengotori hati. Bersihkan jiwa dengan kemurnian penghambaan kepada Allah. Kemudian mencerahkan pemikiran, menajamkan konsep pergerakan. Kita bergerak berdasarkan visi yang jelas, dipandu oleh rencana strategis yang jelas, dan mengemban program jangka panjang yang jelas. Ditindaklanjuti dengan perbaikan manajerial, agar mampu mengoptimalkan semua potensi kader dengan penataan yang serasi dan seimbang.
Semoga Allah membimbing langkah dakwah kita, dan menjauhkan kita dari miopi dakwah. Amin.
Mewaspadai Penyakit Miopi dalam Pergerakan Dakwah
16/03/12
Oleh: Cahyadi Takariawan
"Salah satu penyakit yang berbahaya dalam pergerakan dakwah adalah Miopi Dakwah. Penyakit ini dapat menyebabkan gerakan dakwah kehilangan arah, karena hanya disibukkan oleh hal-hal yang bersifat praktis dan kekinian. Aktivis dakwah sangat sibuk, menyita seluruh waktu dan perhatian, namun seluruhnya hanya terkait dengan menjawab persoalan dan target sesaat, karena tidak mampu melihat jarak jauh."
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Menurut Wikipedia, miopi (dari bahasa Yunani : myopia, penglihatan-dekat) atau rabun jauh adalah sebuah kerusakan refraktif mata dimana citra yang dihasilkan berada di depan retina ketika akomodasi dalam keadaan santai. Penyakit ini menyebabkan seseorang hanya mampu melihat obyek dalam jarak dekat, dan tidak dapat melihat dalam jarak jauh.
Penyebab miopi dapat bersifat keturunan (herediter), ketegangan visual atau faktor lingkungan. Faktor herediter pada miopi pengaruhnya lebih kecil dari faktor ketegangan visual. Terjadinya miopi lebih dipengaruhi oleh bagaimana seseorang menggunakan penglihatannya, seperti seseorang yang lebih banyak menghabiskan waktu di depan komputer atau televisi, atau seseorang yang menghabiskan banyak waktunya dengan melihat obyek dekat tanpa istirahat.
Faktor lingkungan juga dapat memengaruhi misalnya pada rabun malam yang disebabkan oleh kesulitan mata untuk memfokuskan cahaya dan membesarnya pupil, keduanya karena kurangnya cahaya, menyebabkan cahaya yang masuk ke dalam mata tidak difokuskan dengan baik.
Dapat juga terjadi keadaan pseudo-miopi atau miopi palsu disebabkan ketegangan mata karena melakukan kerja jarak dekat dalam waktu yang lama. Penglihatan mata akan pulih setelah mata diistirahatkan.
Miopi bisa disembuhkan dengan beberapa model terapi. Pemakaian lensa kontak kacamata dengan lensa sferis negatif merupakan pilihan utama untuk mengembalikan penglihatan. Beberapa tindakan bedah juga dapat dilakukan seperti photorefractive keratectomy (PRK) atau laser assisted in-situ keratomileusis (LASIK). Dapat juga dilakukan orthokeratologi atau terapi penglihatan (vision therapy).
Miopi Dakwah
Salah satu penyakit yang berbahaya dalam pergerakan dakwah adalah Miopi Dakwah. Penyakit ini dapat menyebabkan gerakan dakwah kehilangan arah, karena hanya disibukkan oleh hal-hal yang bersifat praktis dan kekinian. Aktivis dakwah sangat sibuk, menyita seluruh waktu dan perhatian, namun seluruhnya hanya terkait dengan menjawab persoalan dan target sesaat, karena tidak mampu melihat jarak jauh.
Angka-angka, hitungan bilangan, posisi dan kedudukan, memang penting dan diperlukan dalam perjalanan dakwah. Seperti misalnya menetapkan target peningkatan jumlah kader, “bertambahnya satu juta kader pada tahun 2012”. Atau menetapkan target politik, “menjadi tiga besar pemenang Pemilu nasional”. Atau menetapkan target dalam Pilkada, “memenangkan Pilkada provinsi”. Semua target itu penting, dan harus diusahakan dengan sekuat kemampuan untuk mencapainya.
Ada pula yang hanya bercorak lima tahunan, sesuai ritme dan ritual demokrasi. Mereka hanya berbicara apa target 2014, menghitung hari menuju rivalitas politik di tahun 2014, menghitung resources yang diperlukan untuk memenangkan pertempuran politik di 2014. Tentu saja ini sebuah keharusan untuk menang, namun tidak boleh terjebak hanya berhitung pada waktu yang sangat pendek, 2014 saja. Seakan itu adalah segalanya, tanpa melihat ada hal yang di balik angka dan target kemenangan politik tersebut.
Jangan sampai gerakan dakwah hanya berhenti pada pencapaian target-target bilangan dan posisi “sesaat” tersebut. Karena ada hal yang sangat penting, untuk apa satu juta kader baru tersebut ? Akan diarahkan kemana potensi mereka ? Bagaimana pula dengan penataan kader-kader lama? Bagaimana mengoptimalkan potensi kader yang sangat beragam jenis dan kondisinya?
Menjadi pemenang Pemilu dan Pilkada tentu sangat penting, namun ada hal yang sangat penting, bagaimana mengelola kemenangan Pemilu? Bagaimana mengelola kemenangan Pilkada? Apa korelasi kemenangan Pemilu dengan penguatan dakwah? Apa korelasi kemenangan Pilkada dengan pengokohan kader dan struktur dakwah? Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang harus dijawab, setelah target-target angka dan kedudukan tersebut tercapai.
Gejala Miopi Dakwah
Ketika saya menulis tentang bahaya miopi dakwah ini, bukan berarti bahwa kita sudah terkena atau terjangkiti. Ini adalah sebuah peringatan dini dan sebuah upaya menjaga orisinalitas dakwah yang sangat kita cintai, agar tidak terjatuh ke dalam penyakit miopi yang bisa menghancurkan dakwah. Jadi, ini lebih merupakan sebuah tindakan pencegahan sebelum terjadinya hal yang tidk diinginkan.
Para pemimpin gerakan dakwah dan para aktivis harus mewaspadai berjangkitnya penyakit miopi dalam menjalankan agenda dakwah. Di antara gejala Miopi Dakwah adalah:
1. Kehilangan Visi
Visi (vision) merupakan ungkapan yang menyatakan cita-cita atau impian (want to be) yang ingin dicapai di masa depan. Visi memberikan pernyataan tentang tujuan akhir dari perjalanan kehidupan pribadi atau organisasi. Visi adalah pernyataan luhur tentang cita-cita yang hendak dicapai. Bisa dalam bentuk visi pribadi, visi keluarga, visi organisasi, bahkan visi negara. Visi menjadi penunjuk arah yang pasti, ke mana langkah mesti diarahkan. Visi menjadi pemandu perjalanan dalam kehidupan pribadi, keluarga, organisasi dan negara.
Maka, gerakan dakwah harus memiliki visi yang jelas dalam sepanjang perjalanannya. Semakin jelas dan kuat visi yang dimiliki gerakan dakwah, akan semakin jelas dan kuat pula pilihan jalan yang harus dilalui. Semakin jelas pula gerakan dakwah memandang dan mendefinisikan penyimpangan yang terjadi. Semakin lemah visi, semakin kabur pula pandangan tentang tujuan, sehingga memudahkan terjatuh ke dalam penyimpangan.
Organisasi yang tidak memiliki visi, atau kehilangan visi, akan membuat perjalanannya mengalir begitu saja, terbang bersama angin yang berhembus. Menuju apapun, dimanapun, entah namanya apapun. Lalu kapan dakwah akan sampai tujuan, sementara tidak pernah mendefinisikan tujuan akhir ? Gerakan dakwah melakukan pemborosan potensi, karena kegiatan yang dilakukan tidak mengarah kepada suatu visi yang jelas.
Dalam pergerakan dakwah, pada awalnya visi telah ditetapkan dengan sangat kuat. Namun saat berada dalam perjalanan, bertemulah dengan berbagai macam jenis godaan. Tidak seluruh godaan itu pahit, bahkan sebagian dari godaan itu bercorak sangat menarik. Jika gerakan dakwah tergoda untuk mengejar target-target sesaat semata, akan menyebabkan pelemahan visi, bahkan dalam jangka waktu lama, bisa terjatuh ke dalam kehilangan visi.
Begitu terjadi pelemahan visi, maka semua pandangan dan perhatian hanya akan terfokus menatap jarak dekat. Gerakan dakwah jatuh dalam penyakit rabun jauh yang sangat membahayakan. Seluruh aktivitas yang dilakukan, terlepas dari bingkai visi yang telah dicanangkan dari awal. Miopi bisa menghinggapi gerakan dakwah, sehingga tidak mampu menatap visi yang sesungguhnya sudah ditetapkan dengan jelas.
2. Tidak Memiliki Rencana Strategis (Renstra)
Rencana Strategis (Renstra) dibuat oleh organisasi dan lembaga untuk menyongsong visi masa depan seperti yang dicita-citakan. Ada profil ideal yang jelas, kondisi seperti apa yang ingin diwujudkan duapuluh tahun ke depan, atau limapuluh tahun ke depan, atau bahkan seratus tahun ke depan. Dari profil ideal tersebut, pergerakan dakwah kemudian menterjemahkan ke dalam sejumlah rencana strategis jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek.
Ada sangat banyak metodologi untuk membuat dan menetapkan renstra. Ilmu manajemen organisasi sudah sangat berkembang, sehingga banyak pilihan teori dan metodologi pembuatan renstra. Tentu saja semua pilihan itu bersifat ijtihad yang perlu diuji kesahihannya di lapangan, dan tidak ada satupun yang terbebas dari kekurangan. Namun, menggunakan sebuah metodologi tertentu akan memudahkan gerakan dakwah membuat, menetapkan, mengimplementasikan serta mengevaluasi renstra.
Mungkin bagi sebagian kalangan aktivis, membuat renstra itu pekerjaan “berat” yang tidak menyenangkan. Karena harus mengumpulkan berbagai data, harus “melukis” gambaran ideal masa depan, pada kurun waktu duapuluh tahun ke atas. Beberapa kalangan aktivis bahkan menganggap renstra sebagai momok yang harus dihindari, karena membuat kepala pusing saat membuat. Gejala ini menandakan miopi sudah menghinggapi mereka, karena terlalu lama menatap obyek dekat yang memikat.
Saya sangat miris melihat gerakan dakwah yang berjalan tanpa renstra. Karena jika berjalan tanpa renstra, pasti hanya melaksanakan agenda-agenda rutin yang menjebak, dan melaksanakan rencana sesaat sebagai reaksi atas situasi dan kondisi sekitar. Untuk sekedar menang pada tahun 2014 memang tidak memerlukan renstra, karena program yang bercorak praktis saja bisa membuahkan kemenangan. Namun kemenangan dakwah bukan hanya tahunan, yang diinginkan adalah tertanamnya nilai kebaikan secara kokoh pada berbagai sisi kehidupan.
3. Tidak Memiliki Program Jangka Panjang
Visi dakwah direalisasikan dengan pembuatan rencana strategis, sedangkan renstra diwujudkan secara lebih membumi dalam bentuk Program Jangka Panjang (PJP). Jika sudah kehilangan visi, menyebabkan gerakan dakwah gagal menyusun renstra, dan akhirnya tidak memiliki PJP. Ini adalah konsekuensi logis yang sambung menyambung, karena PJP diturunkan dari renstra dan renstra diturunkan dari visi.
Merekrut kader dalam jangka waktu tertentu dan jumlah tertentu adalah program jangka pendek. Memenangkan Pemilu 2014 adalah program jangka pendek. Memenangkan pilkada adalah program jangka pendek. Karena terbatas oleh waktu yang sangat pendek, dan sering memaksa mengeluarkan resources yang luar biasa besarnya.
Di antara program jangka panjang adalah pendidikan dan pembinaan kader sesuai potensi yang dimilikinya, serta menyiapkan lahan aktivitas bagi para kader sesuai dengan kepentingan dakwah dalam jangka panjang. Mengelola negara memerlukan banyak potensi, keahlian, dan harus menyiapkan sejumlah persyaratan formal sesuai ketentuan. Untuk sukses mengelola negara dan pemerintahan, tidak cukup dicapai dengan memenangkan pemilu dan pilkada.
Kadang program jangka panjang ini kurang menarik dan dianggap kurang menantang. Lebih menarik dan lebih menantang sesuatu yang jelas di depan mata, seperti pertempuran politik dalam pemilu dan pilkada. Adapun penyiapan berbagai potensi untuk menyongsong kemenangan jangka panjang, dianggap sebagai sesuatu yang “ngawang-awang” atau utopis. Minimalnya dianggap sebagai “bisa ditunda” dan berkategori “tidak mendesak”, dengan alasan “kita berjamaah masih lama”.
4. Gerakan Dakwah Menyempit pada Satu Sektor
Salah satu gejala miopi adalah menyempitnya perhatian gerakan dakwah kepada satu sektor saja dengan mengabaikan sektor lainnya. Sebagai contoh gerakan dakwah disempitkan hanya pada sektor tarbiyah atau pembinaan saja, seakan-akan dakwah hanya mengurus pembinaan sumber daya manusia. Seakan-akan dakwah hanya urusan mengaji dan membina diri menjadi pribadi salih. Padahal dakwah itu adalah upaya menebarkan nilai-nilai kebajikan dalam seluruh sisi dan dimensi kehidupan, bukan hanya pribadi, tapi juga keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Bukan hanya individu, namun juga sistem.
Contoh lainnya, gerakan dakwah diseret mengikuti ritme politik praktis, sehingga menyempitkan pandangan hanya pada urusan politik saja. Seakan-akan harus menang mutlak sekarang, harus menguasai kemenangan pilkada di berbagai propinsi, kabupaten dan kota sekarang, harus unggul dalam pemilihan umum legislatif sekarang, dan seterusnya. Seakan-akan kalau tidak menang dalam rivalitas politik sekarang, dakwah akan hancur selama-lamanya. Inilah gejala miopi dakwah yang membahayakan, karena hanya mengurus politik saja dengan mengabaikan sisi-sisi strategis lainnya.
Jika gerakan dakwah menyempit hanya fokus pada satu sisi saja, berarti telah melawan fitrah dakwah yang bersifat utuh menyeluruh. Doktrin pemahaman dakwah yang dibangun selama ini bisa runtuh, karena dakwah tidak menyentuh seluruh sisi kehidupan, namun hanya satu sisi saja dengan meninggalkan lainnya.
5. Mengabaikan Aset Masa Depan Gerakan
Jika gerakan dakwah hanya fokus kepada satu sisi saja, berdampak mengabaikan banyak aset masa depan. Kader-kader dakwah yang tersebar di berbagai wilayah dan pelosok-pelosok daerah, memiliki potensi yang sangat beragam. Mereka adalah aset masa depan pergerakan yang tidak ternilai harganya. Kesetiaan, pengorbanan, perjuangan yang telah mereka lakukan setiap hari setiap saat, sungguh tidak dapat dinilai dengan materi.
Sebagai contoh, jika dakwah hanya fokus pada sisi tarbiyah, maka sekian banyak potensi akan termubadzirkan karena tidak memiliki saluran berkegiatan. Hanya para ustadz dan para kader yang berlatar belakang pendidikan serta pembinaan akan terserap dalam program-program tarbiyah, sementara kader yang memiliki potensi ekonomi, politik, budaya dan lain sebagainya akan terabaikan.
Demikian pula jika dakwah menyempit hanya fokus mengurus politik, akan menyebabkan sekian banyak kader yang tidak memiliki minat dan peluang politik menjadi terbengkelai. Mereka terdiri dari kader yang berpotensi dan berdedikasi tinggi, namun tidak bisa terlibat dalam kancah politik praktis dengan berbagai alasan. Akhirnya mereka menjadi “pengangguran” di jalan dakwah, karena potensinya tidak tersalurkan. Padahal merekalah yang sangat diperlukan dalam menyusun kemenangan dakwah.
Langkah Terapi
Sebagaimana miopi pada umumnya, miopi dakwah juga bisa disembuhkan dengan serangkaian terapi. Yang paling sederhana adalah pemakaian “lensa sferis negatif” untuk mengembalikan penglihatan jarak jauh. Tindakan “bedah mata” juga dapat dilakukan seperti model photorefractive keratectomy (PRK) atau laser assisted in-situ keratomileusis (LASIK). Dapat juga dilakukan orthokeratologi atau terapi penglihatan (vision therapy).
Dalam konteks miopi dakwah diperlukan langkah terapi yang menyeluruh. Bukan sekedar menggunakan lensa sferis negatif atau bedah mata dan terapi penglihatan. Miopi dakwah tidak sekedar urusan mata fisik, namun mata hati, bashirah dan ruhaniyah. Dengan demikian terapinya pun memerlukan sentuhan yang menyeluruh, baik secara ruhiyah, fikriyah maupun idariyah (manajemen).
Kita mulai dari pembersihan jiwa yang kontinyu. Aktivis dakwah tidak boleh terbelenggu oleh motivasi duniawi, karena itu yang mengotori hati. Bersihkan jiwa dengan kemurnian penghambaan kepada Allah. Kemudian mencerahkan pemikiran, menajamkan konsep pergerakan. Kita bergerak berdasarkan visi yang jelas, dipandu oleh rencana strategis yang jelas, dan mengemban program jangka panjang yang jelas. Ditindaklanjuti dengan perbaikan manajerial, agar mampu mengoptimalkan semua potensi kader dengan penataan yang serasi dan seimbang.
Semoga Allah membimbing langkah dakwah kita, dan menjauhkan kita dari miopi dakwah. Amin.
3/16/2012
Salim A. Fillah
Muwajih Nasional DPP PKS
Pembina Majelis Jejak Nabi Masjid Jogokariyan Jogja
1.Di antara ucapan paling menakjubkan ialah kata-kata seekor #semut ketika bala tentara Sulaiman yang agung merambah negerinya.
2.Bala tentara jin, insan, burung, & hewan tertata rapi dalam barisan {QS 27: 17}, lalu ayat ke-18 mengabadikan ucap si #semut.
3."Wahai para #semut; masuklah ke dalam rumah tinggal kalian; agar Sulaiman & pasukannya tak menginjak kalian sedang mereka tak menyadari."
4.Sungguh berlimpah pelajaran dari kata-kata sang #semut ini. Pertama; ucapan indah ini ditujukan untuk menyelamatkan kaumnya.
5.Ucapan yang bertujuan menyelamatkan kehidupan sangat mahal nilainya. Mari kita berlatih untuk bicara hal sedemikian.
6.Seorang muslim bicara hal yang baik; benar isinya, indah caranya, tepat waktunya, bermanfaat, & berpahala. Atau diam.
7.Atau setidaknya; selamatkan sesama dari gangguan tangan & lisan kita. Mari bicara mulia, menjaga jiwa, menyelamatkan hidup.
8.Pelajaran ke-2; Yang hendak diselamatkan #semut adalah sesama semut; yang andaipun mati, tiada kan mempertanggungjawabkan 'amal.
9.Kalimat #semut menyelamatkan semut ini dimuliakan Al Quran. Maka betapa lebih mulia lagi kalimat manusia tuk selamatkan manusia.
10.Sebab hidup #semut hanya soal hajat; sedang hidup manusia adalah soal amanah ibadah yang kan dipertanggungjawabkan dengan rinci.
11.Pelajaran ke-3; ucapan #semut ditujukan untuk menyelamatkan hidup kawan-kawannya di dunia. Ini mulia & Allah mengabadikannya.
12.Maka alangkah lebih mulia lagi tiap ucapan manusia yang ditujukan untuk menyelamatkan sesama di kehidupan akhiratnya.
13.Inilah dakwah; ucapan yang merayu-rayu sesama tuk ber-ihsan dalam 'amal & ber-ikhlas dalam hati; mengesakan Allah.
14.Pelajaran ke-4; #semut pemimpin itu mengatakan, "..Masuklah kalian ke dalam rumah tinggal (maskanah~>masakin) kalian.."
15.Berkata @dr_almuqbil; Hatta #semut-pun memiliki tempat berdiam & berlindung bagi yang dipimpinnya. Maka hendaklah demikian..
16...tiap insan berusaha agar mampu menyediakan tempat berteduh & bernaung bagi mereka yang ada dalam tanggungjawabnya.
17.Sebab bagi insan beriman; rumah bukan cuma tempat tinggal; ia juga tempat menyembah Allah, membina keluarga, & menanamkan tauhid.
18.Firman Allah; "Dan Kami wahyukan kepada Musa & saudaranya, 'Ambillah olehmu berdua beberapa rumah di Mesir untuk tempat tinggal..
19...bagi kaummu. Jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat & dirikanlah olehmu sembahyang serta gembirakanlah..
20...orang-orang yang beriman." {QS 10: 87}. #Semut berlindung bagi hidup di bumi; insan mengguna rumahnya bagi hayat dunia-akhirat.
21.Pelajaran ke-5 dari ucapan #semut ialah prasangka baik. Simaklah kalimat, "..Agar Sulaiman & pasukannya tak menginjak kalian..
22...sedang MEREKA TAK MENYADARINYA" {QS 27: 18}. Alangkah mulia si #semut yang berprasangka baik bahwa jikapun mereka terinjak..
23...pastilah itu tanpa sengaja; sebab Sulaiman & bala tentaranya tak menyadari kehadiran para #semut di bawah kaki mereka.
24.Betapa jelita prasangka baik pada sesama hamba Allah; sebab buruk sangka pada saudara hakikatnya adalah menuduh diri sendiri.
25.Yakni; membayangkan bahwa seandainya kita berada di posisi beliau; kita akan melakukan hal buruk yang kita tuduhkan.
*https://twitter.com/#!/salimafillah
KulTwit @SalimAfillah : Ayat-Ayat #Semut
Salim A. Fillah
Muwajih Nasional DPP PKS
Pembina Majelis Jejak Nabi Masjid Jogokariyan Jogja
1.Di antara ucapan paling menakjubkan ialah kata-kata seekor #semut ketika bala tentara Sulaiman yang agung merambah negerinya.
2.Bala tentara jin, insan, burung, & hewan tertata rapi dalam barisan {QS 27: 17}, lalu ayat ke-18 mengabadikan ucap si #semut.
3."Wahai para #semut; masuklah ke dalam rumah tinggal kalian; agar Sulaiman & pasukannya tak menginjak kalian sedang mereka tak menyadari."
4.Sungguh berlimpah pelajaran dari kata-kata sang #semut ini. Pertama; ucapan indah ini ditujukan untuk menyelamatkan kaumnya.
5.Ucapan yang bertujuan menyelamatkan kehidupan sangat mahal nilainya. Mari kita berlatih untuk bicara hal sedemikian.
6.Seorang muslim bicara hal yang baik; benar isinya, indah caranya, tepat waktunya, bermanfaat, & berpahala. Atau diam.
7.Atau setidaknya; selamatkan sesama dari gangguan tangan & lisan kita. Mari bicara mulia, menjaga jiwa, menyelamatkan hidup.
8.Pelajaran ke-2; Yang hendak diselamatkan #semut adalah sesama semut; yang andaipun mati, tiada kan mempertanggungjawabkan 'amal.
9.Kalimat #semut menyelamatkan semut ini dimuliakan Al Quran. Maka betapa lebih mulia lagi kalimat manusia tuk selamatkan manusia.
10.Sebab hidup #semut hanya soal hajat; sedang hidup manusia adalah soal amanah ibadah yang kan dipertanggungjawabkan dengan rinci.
11.Pelajaran ke-3; ucapan #semut ditujukan untuk menyelamatkan hidup kawan-kawannya di dunia. Ini mulia & Allah mengabadikannya.
12.Maka alangkah lebih mulia lagi tiap ucapan manusia yang ditujukan untuk menyelamatkan sesama di kehidupan akhiratnya.
13.Inilah dakwah; ucapan yang merayu-rayu sesama tuk ber-ihsan dalam 'amal & ber-ikhlas dalam hati; mengesakan Allah.
14.Pelajaran ke-4; #semut pemimpin itu mengatakan, "..Masuklah kalian ke dalam rumah tinggal (maskanah~>masakin) kalian.."
15.Berkata @dr_almuqbil; Hatta #semut-pun memiliki tempat berdiam & berlindung bagi yang dipimpinnya. Maka hendaklah demikian..
16...tiap insan berusaha agar mampu menyediakan tempat berteduh & bernaung bagi mereka yang ada dalam tanggungjawabnya.
17.Sebab bagi insan beriman; rumah bukan cuma tempat tinggal; ia juga tempat menyembah Allah, membina keluarga, & menanamkan tauhid.
18.Firman Allah; "Dan Kami wahyukan kepada Musa & saudaranya, 'Ambillah olehmu berdua beberapa rumah di Mesir untuk tempat tinggal..
19...bagi kaummu. Jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat & dirikanlah olehmu sembahyang serta gembirakanlah..
20...orang-orang yang beriman." {QS 10: 87}. #Semut berlindung bagi hidup di bumi; insan mengguna rumahnya bagi hayat dunia-akhirat.
21.Pelajaran ke-5 dari ucapan #semut ialah prasangka baik. Simaklah kalimat, "..Agar Sulaiman & pasukannya tak menginjak kalian..
22...sedang MEREKA TAK MENYADARINYA" {QS 27: 18}. Alangkah mulia si #semut yang berprasangka baik bahwa jikapun mereka terinjak..
23...pastilah itu tanpa sengaja; sebab Sulaiman & bala tentaranya tak menyadari kehadiran para #semut di bawah kaki mereka.
24.Betapa jelita prasangka baik pada sesama hamba Allah; sebab buruk sangka pada saudara hakikatnya adalah menuduh diri sendiri.
25.Yakni; membayangkan bahwa seandainya kita berada di posisi beliau; kita akan melakukan hal buruk yang kita tuduhkan.
*https://twitter.com/#!/salimafillah
Langganan:
Postingan (Atom)
Berita Terpopuler
-
Oleh: Suara Kebersamaan Cita cita kita begitu nyata Ingin Indonesia maju sejahtera Ingin sama berdiri di mata dunia Punya harga diri d...
-
DPC PKS Sungai Pinang yang di komandani oleh Ahmad Marzuqi,S.Pdi, Selasa 10/4/12 Serentak melakukan fogging di Perum Artas yang terletak di...
-
TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA--Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menunggu sikap Presiden SBY dalam kapasitasnya sebagai pimpinan Setgab koalisi untu...
-
Galau, sebuah kata yang akhir-akhir ini nge-trend dikalangan remaja dan kaum muda di negeri ini. Kata yang menggambarkan suasana hati seseo...
-
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) secara tegas dan lugas menolak rencana pemerintah menaikkan Bahan Bakar Minyak (BBM) karena bisa menimbulka...
-
Rasulullah adalah sosok suami yang paling mesra terhadap istri-istrinya. Berikut beberapa tips untuk menjaga kemesraan yang dikompilasi dar...
-
Prof. Dr. Didik J. Rachbini Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta pasangan DR. Hidayat Nur Wahid •#JihadTransportasiMassal kita hrs punya g...
-
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) akan mendatangi kantor Komisi Pemberantasan Korupsi pada Senin (10/12/2012) siang ini. Kedatangan F-...
-
Oleh : @Kaisar_el_rema Setelah dikejutkan besarnya demonstran pro-Mursi di depan Universitas Kairo, oposisi menyadari bahwa lambat tapi p...
-
Oleh : Bang Sani , Ketua DPC PKS Samarinda Ulu Provinsi Kalimantan Timur memiliki wilayah paling luas di Indonesia (11% dari total luas ...
DPW PKS KALTIM
Arsip Blog
-
▼
2012
(215)
-
▼
12/09 - 12/16
(9)
- Siapa Menyulut Api di Istana Ittihadiyah?
- Kisah Siti, Dina dan Umi : Reloaded
- Politisi PKS: Pidato SBY Bisa Bahayakan Pemberanta...
- Dikado Alquran oleh PKS, KPK: Ini Gratifikasi Tapi...
- PKS: Kami Siap di Dalam dan di Luar Kabinet
- Anis Matta : Inspirasi dari kisah Nabi Yusuf, Nabi...
- Dipimpin Hidayat Nurwahid F-PKS Datangi KPK Beri D...
- PKS: Ide Reshuffle Hanya Pengalihan Isu Maraknya K...
- AS dan Zionis Dibelakang Demo Anti Mursi? | Bocora...
- ► 12/02 - 12/09 (6)
- ► 11/25 - 12/02 (2)
- ► 11/18 - 11/25 (4)
- ► 05/20 - 05/27 (4)
- ► 05/06 - 05/13 (8)
- ► 04/29 - 05/06 (3)
- ► 04/22 - 04/29 (19)
- ► 04/15 - 04/22 (14)
- ► 04/08 - 04/15 (13)
- ► 04/01 - 04/08 (19)
- ► 03/25 - 04/01 (11)
- ► 03/18 - 03/25 (16)
- ► 03/11 - 03/18 (29)
- ► 03/04 - 03/11 (55)
- ► 02/26 - 03/04 (3)
-
▼
12/09 - 12/16
(9)
-
►
2011
(4)
- ► 07/24 - 07/31 (3)
- ► 07/17 - 07/24 (1)
Tahukah Kita
Renungan & Hikmah
Bidpuan DPC ULU
Dapur Bidpuan Samarinda Ulu











