NEWS UPDATE :
BERITA TERKINI :

Berita Terbaru

Berita Terhangat

DPD PKS Samarinda

Fiqh & Syariah

Keluarga Sakinah

Kiprah DPC Samarinda Ulu

DPRD Provinsi KALTIM

Tausiyah dari Ustadz Kita

Opini Kiriman Pembaca

Kolom Kesehatan ( Akh Haris )

Tampilkan postingan dengan label kolom Internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kolom Internasional. Tampilkan semua postingan

AS 'Bermain-main' di Pilpres Mesir, Mencari yang Pro-Barat dan tidak Anti Israel

16/04/12


Komisi Tinggi Pemilu Mesir mengumumkan berita mengejutkan dengan mendiskualifikasi sepuluh kandidat calon presiden. Tiga di antaranya adalah kandidat terkuat, yaitu bekas kepala dinas intelijen di bawah rezim Hosni Mubarak, Omar Suleiman, kandidat Ikhwanul Muslimin, Khairat el-Shater, dan politisi Salafi, Hazem Abu Ismail.

Berdasarkan peraturan pemilu Mesir, calon yang didiskualifikasi dapat mengajukan banding dalam waktu 48 jam. Shater dicoret dari bursa capres karena catatan kriminalnya di masa lalu saat menjadi aktivis politik yang menentang rezim Mubarak, sementara Suleiman masih terbilang bagian dari rezim despotik negara itu, adapun Abu Ismail didiskualifikasi karena ibunya memiliki kewarganegaraan Amerika Serikat.

Di antara sepuluh nama yang didiskualifikasi dari bursa capres, ada figur-figur dengan akseptabilitas tinggi seperti, Shater. Kandidat Ikhwanul Muslimin ini memiliki peluang besar untuk menang dalam pemilu presiden Mesir. Meskipun kelompok itu sebelumnya telah mengajukan calon alternatif, namun sepertinya ada "kekuatan tertentu" yang sedang bermain mencegah Ikhwanul Muslimin menduduki jabatan eksekutif di negara itu.

Rakyat Mesir dalam beberapa hari terakhir menggelar protes untuk menentang pencalonan Suleiman. Mereka juga menyebut Shater sebagai orang yang memiliki peluang besar untuk menduduki kursi presiden. Akan tetapi, sekarang muncul isu-isu lain yang mengindikasikan bahwa "kekuatan tertentu" ingin menyetir pemilu Mesir sejalan dengan kehendak AS, terlebih Amr Moussa disebut-sebut sebagai kandidat yang didukung Barat untuk memimpin Mesir.

Beberapa pengamat politik percaya bahwa ada kemungkinan Dewan Tinggi Militer dan lembaga-lembaga yang berafiliasi dengan asing memerintahkan pencoretan beberapa nama dan mempertahankan para kandidat yang didukung Barat, khususnya AS. (a.l.: Ahmed Shafiq mantan perdana menteri era Mubarak, dan Amr Moussa bekas Menteri Luar Negeri pemerintahan Mubarak-ed)

Ini adalah fakta bahwa pemilu presiden Mesir merupakan sebuah momen penting bagi kebanyakan negara Barat, sebab presiden terpilih bertugas mengarahkan kebijakan dalam dan luar negeri Mesir. Setelah tumbangnya rezim Mubarak, AS ingin melestarikan pengaruhnya di negara itu dan sedang mencari tokoh yang tepat untuk didukung. Washington menginginkan pemimpin yang bisa menghidupkan kembali kedudukan AS di kawasan sekaligus tidak begitu bersinggungan dengan rezim Zionis Israel.

Oleh karena itu, AS dan Barat menyusun program untuk memenangkan tokoh yang loyal kepada mereka. Pencoretan nama-nama yang didukung oleh kelompok Islam semakin membuka peluang bagi AS untuk meloloskan jagoannya. Sebuah masalah yang jika terealisasi, akan menjadi sebuah bahaya serius bagi revolusi Mesir. (IRIB Indonesia/RM/NA)

Peta Politik Mesir Pasca Pencapresan Khairat el-Shater

08/04/12


Terjadi perubahan signifikan dalam konstelasi politik Mesir, setelah Khairat el-Shater, Wakil Sekjen Ikhawanul Muslimin mencalonkan dirinya dalam pemilu presiden 23 Mei mendatang. Sebagian analis justru menyebut Khairat el-Shater ini sebagai pemegang kebijakan politik Ikhwanul Muslimin. Sebelumnya tidak ada yang membayangkan Ikhwanul Muslimin akan mengajukan calonnya demi mempertahankan posisi politiknya di antara partai-partai politik dan menarik para penentangnya untuk bergabung dengannya seperti kelompok-kelompok sekular dan liberal. Karena mayoritas mereka lebih mendukung Amr Moussa dalam pilpres Mesir ini. Tapi berita Khairat el-Shater yang mencalonkan dirinya dalam pilpres Mesir mendatang mengindikasikan Ikhwanul Muslimin sejak awal memiliki opsi dan program yang disesuaikan dengan kenyataan politik yang terjadi di Mesir. Mereka sebenarnya tidak punya keinginan untuk bermanis-manis muka dengan partai-partai yang lain, lalu kehilangan kesempatan emas politiknya.

Sekaitan dengan hal ini, surat kabar Lebanon as-Safir menurunkan laporan bahwa dua partai al-Nour dan ad-Dawah yang berafiliasi pada kelompok Salafi ternyata mendukung penuh pencalonan Khairat el-Shater. Sesuai dengan laporan ini, kelompok Salafi tengah berusaha meyakinkan Hazem Salah Abu Ismail, calon mereka sebelumnya yang telah menyatakan kesiapannya untuk ikut dalam pilpres Mesir, agar mengundurkan diri demi terpilihnya el-Shater.

Masih terkait pencalonan Khairat el-Shater disebutkan bahwa ia memutuskan untuk mencalonkan dirinya sebagai kandidat presiden Mesir setelah bertemu dengan senator McCain dari kubu Republik dan setelah melakukan koordinasi dengan kekuatan-kekuatan regional dan internasional.

Pada saat yang sama, aleg-aleg dari partai Kebebasan dan Keadilan Mesir, partai politik Ikhwanul Muslimin mulai melakukan kampanye untuk Khairat el-Sahter dan mencari dukungan pelbagai media Mesir dan Arab. Sebagian pakar Mesir percaya bahwa el-Shater memiliki kemampuan untuk menyatukan kelompok Islam dan juga menciptakan sebuah kebangkitan politik yang memiliki ideologi Islam. Ia juga diprediksikan bakal meraih kesuksesan luar biasa di tengah masyarakat Mesir saat ini.

Sumber-sumber terpercaya di parlemen Mesir juga menyatakan bahwa sudah ada 106 anggota parlemen yang telah mulai melakukan kampanye untuk el-Shater. Sekaitan dengan hal ini, Ahmad Khalil, anggota parlemen dari Fraksi Partai al-Nour mengatakan, "Partai ad-Dawah dan al-Nour dari kelompok Salafi telah memutuskan untuk mendukung penuh el-Shater dan percaya ia mampu menciptakan kebangkitan Mesir yang komprehensif berdasarkan Islam."

Sementara itu, surat kabar New York Times menulis, setelah Hazem Abu Ismail -calon presiden dari kubu Salafi- berhasil menarik simpati rakyat Mesir, Amerika sampai pada satu kesimpulan bahwa mereka harus puas dengan pencalonan seorang pemimpin Ikhwanul Muslimin. Dengan alasan itu, AS akhirnya memberikan lampu hijau atas pencalonan Khairat el-Shater. Karena Hazem Abu Ismail bersikeras untuk membatalkan perjanjian Camp David dan menyebut Iran sebagai contoh satu-satunya negara di dunia yang independen dari Washington dan kebijakan politiknya.

Sesuai dengan laporan New York Times, el-Shater di hari-hari terakhir melakukan pertemuan dengan para pejabat tinggi Amerika di Departemen Dalam Negeri dan Kongres yang baru-baru saja melakukan lawatan ke Mesir. El-Shater juga tetap melakukan hubungan secara kontinyu dengan Anne W. Patterson, Duta Besar AS untuk Mesir. Para pejabat Amerika mengakui kecerdasan dan sikap moderat el-Shater. John McCain yang dikenal sebagai senator garis keras Republikan dalam pertemuannya dengan el-Shater menegaskan bahwa Washington tidak menentang pencalonan seorang tokoh dari Ikhwanul Muslimin.

Pada saat yang sama ada keyakinan bahwa militer Mesir sendiri tidak akan mampu menandingi el-Shater. Karena pertama, militer tidak memiliki tokoh karismatik yang dapat diandalkan menandingi el-Shater. Kedua, Jenderal Mohamed Hussein Tantawi bukan tokoh yang dicintai seperti Abdul Nasser yang mampu menumpas gerakan Ikhwanul Muslimin. Dan ketiga, pengaruh politik dan publik Ikhwanul Muslimin di tengah-tengah masyarakat Mesir sudah demikian mengakar dan meluas.

El-Shater baru-baru ini dalam kunjungannya ke negara-negara Teluk Persia mampu menarik dukungan mereka untuk membantu ekonomi Mesir, sekaligus meyakinkan mereka mendukungnya sebagai calon presiden Mesir.

Sumber :
*http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=7875&type=2

Ikhwanul Muslimin Calonkan Khairat al-Shatir Dalam Pemilu Mesir

01/04/12


Islamedia - Khairat al-Shatir merupakan tokoh Ikhwanul Muslimin yang mempunyai kekuatan finansial besar dan loyal.


Kelompok Persaudaraan Muslim atau Ikhwanul Muslimin kemarin mengumumkan calon presiden yang akan dimajukan dalam pemilu Mesir pada bulan Mei mendatang.


Ikhwanul Muslimin mengatakan mereka mencalonkan Khairat al-Shatir yang merupakan wakil ketua kelompok itu untuk maju dalam pemilu presiden.


Penunjukan Shatir ini membalikkan pernyataan sebelumnya dari petinggi kelompok itu yang sempat mengatakan mereka tidak akan mengikuti proses pemilu presiden.


Pengumuman ini berlangsung hanya beberapa hari sebelum pendaftaran calon presiden di tutup.


Wartawan BBC di Kairo, Yolande Knell mengatakan pengumuman ini mengakhiri spekulasi tentang siapa calon dari Ikhwanul Muslimin yang akan melaju dalam pemilu kali ini.


Shatir sendiri dikenal sebagai seorang pebisnis yang kaya dan telah lama bergabung dengan kelompok itu.


Calon kaya


Dia juga merupakan seorang penyandang dana utama bagi kelompok tersebut.


Shatir juga sempat menjalani hukuman penjara selama 12 tahun karena terlibat dalam kelompok itu saat Presiden Hosni Mubarak masih berkuarak.


Mubarak saat berkuasa memang menempatkan kelompok itu sebagai organisasi terlarang.


Shatir dibebaskan setahun setelah gelombang protes besar berlangsung di Mesir.


Ikhwanul Mulsimin akhirnya memilih untuk mengajukan calonnya untuk pemilu presiden karena alasan kekhawatiran kembali munculnya revolusi di Mesir serta perpindahan kekuasaan dari militer ke sipil akan terganggu.


Ikhwanul Muslimin sebelumnya berhasil meraih mendominasi dalam pemilu legislatif lalu dan kini tengah merancang konstitusi baru.


Perdebatan terjadi saat konstitusi menyinggung soal pembentukan kabinet.


Dewan Militer yang saat ini berkuasa bertentangan dengan Ikhwanul soal proses pengangkatan menteri dalam kabinet nanti.(dtk)

Sumber :
http://www.islamedia.web.id/2012/04/ikhwanul-muslimin-calonkan-khairat-al.html

Raja Versus Presiden

19/03/12


Oleh Ikhwanul Kiram Mashuri*


Revolusi di Timur Tengah telah melindas para penguasa diktator otoriter. Tepatnya para presiden yang telah berkuasa puluhan tahun dan mempertahankan kekuasaannya itu dengan segala cara, termasuk misalnya dengan menyingkirkan, membunuh, dan memenjarakan rakyatnya sendiri.

Ya, mereka adalah presiden dan bukan raja. Penguasa di negara republik dan bukan di kerajaan.Sistem pemerintahannya demokratis dan bukan turun temurun. Dengan kata lain, mereka berkuasa karena dipilih rakyat melalui pemilu. Namun, hebatnya, mereka mampu berkuasa hingga puluhan tahun. Bahkan, ada yang berencana membentuk dinasti keluarga dengan mewariskan kekuasaan pada keluarganya.

Di Tunisia, ada Zainal Abidin bin Ali, jadi presiden lebih dari 20 tahun dan berencana menurunkan kekuasaannya pada istrinya, Laila Trabelsi. Pada 14 Januari 2011, ia melarikan diri ke Arab Saudi ketika berkecamuk demonstrasi besar di negerinya. Kini, ia hidup di pengasingan dengan membawa tuduhan berat: penyalahgunaan wewenang dan menggarong uang rakyat.

Berikutnya Husni Mubarak. Presiden Mesir lebih dari 30 tahun ini mengundurkan diri, menyusul aksi unjuk rasa besar-besaran di seluruh negeri. Ketika berjaya, ia merencanakan mewariskan kekuasaan pada anaknya, Jamal Mubarak. Dalam kondisi sakit-sakitan kini ia sedang menghadapi sidang pengadilan dengan tuduhan: menyalahgunakan kekuasaan, membunuh, dan korupsi.

Penguasa lain yang digilas revolusi adalah Muammar Qadafi. Ia berkuasa lebih dari 40 tahun di negara yang bukan kerajaan bernama Jamahiriyah Arab Libya. Namun, ia lebih suka dijuluki sebagai Raja Diraja alias Malikul Muluk alias King of the Kings, dan berencana mewariskan kekuasaan pada anaknya Saif al-Islam Qadafi. Nasibnya sangat mengenaskan. Ia ditembak mati oleh pejuang revolusi.

Nasib lebih baik dialami Ali Abdullah Saleh. Setelah unjuk rasa dan pergolakan untuk menurunkan dirinya dari kursi Presiden Yaman yang didudukinya selama 33 tahun, ia bisa mundur secara damai. Bahkan, ia mendapatkan kekebalan tuntutan hukum. Di Suriah, Presiden Bashar al-Assad yang mewarisi kekuasaan dari ayahnya, Hafez al-Assad, kini sedang digoncang aksi unjuk rasa besar-besaran. Nasib dia dan juga Suriah ke depan masih belum jelas.

Yang menarik, revolusi di Timur Tengah hingga kini tidak menyentuh para raja. Sejumlah pengamat di Timur Tengah mengistilahkan yang terjadi di dunia Arab sekarang ini adalah raja versus presiden atau kerajaan versus republik. Penguasa Bahrain memang sempat digoyang demonstrasi beberapa kali. Namun, aksi itu tampaknya tak akan menggoyahkan kedudukan Raja Hamad bin Isa al-Khalifah.

Ia masih akan bisa menonton balap mobil Formula 1 di Sirkuit Internasional Bahrain dengan tenang. Sedangkan raja Teluk lainnya-Raja Abdullah bin Abdul Aziz (Arab Saudi), Sheikh Khalifa bin Zayid (Uni Emirat), Sultan Qaboos bin Said al-Said (Oman), Amir Sheikh Hamad bin Khalifa (Qatar), Amir Sabah alAhmad al-Jabir al-Sabah (Kuwait)--bisa dikata nasibnya lebih baik.

Hal serupa juga dialami dua raja Arab lainnya, Raja Yordania Abdullah II dan Raja Maroko Mohammad VI. Kedua raja ini tampaknya cepat tanggap dengan tuntutan rakyatnya. Sejak mulai muncul aksi demo di beberapa negara Arab, mereka segera mengamendemen konstitusi negaranya yang sesuai dengan aspirasi rakyat. Pertanyaannya kini, mengapa revolusi Arab hanya melibas presiden dan bukan raja? Jawabannya ada pada kesejahteraan yang berkeadilan. Negara-negara Teluk memang kaya minyak dan gas sehingga bisa menjamin kesejahteraan rakyat.

Libya juga merupakan negara kaya, tapi rakyatnya miskin. Sementara, Maroko dan Yordania merupakan negara minim sumber alam, tapi rakyatnya relatif lebih baik. Apalagi, tuduhan kepada para presiden terguling dan rezimnya hampir sama: salah kelola negara dan korupsi. Kedua hal inilah yang telah menyebabkan rakyat jadi miskin dan menderita.

Revolusi di Timur Tengah, dengan begitu, telah memberi banyak pelajaran kepada kita tentang hakikat kekuasaan. Yakni, kekuasaan harus untuk rakyat. Rakyat tidak begitu peduli dengan bentuk negara, apakah republik/demokrasi ataukah kerajaan.


Yang penting bagai rakyat kebanyakan adalah jaminan keadilan, kesejahteraan, pendidikan, kesehatan, pekerjaan, keamanan, jaminan hari tua, dan seterusnya. Sistem demokrasi bukannya tidak penting, asal tidak ada rekayasa. Namun, kekuasaan lewat demokrasi harus justru menyejahterakan rakyat. []


*REPUBLIKA (19/3/12)

Akhlak: Modal Sinergi

11/03/12


Sinergi antar gerakan Islam akan mudah diwujudkan, jika masing-masing gerakan—kalangan elit maupun pengikutnya—memiliki modal akhlak yang sama, berdiri di atas landasan moral yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya.

Paling tidak ada 6 modal akhlak yang menjadi syarat terwujudnya sinergi antar gerakan Islam. DR. Yusuf Qaradawi menjelaskan hal ini dalam Fiqhul Ikhtilaf, berikut ringkasannya:


Pertama, ikhlas karena Allah dan terbebas dari hawa nafsu. Menurut beliau, seringkali perselisihan antar kelompok atau pribadi nampak secara lahiriah sebagai perselisihan ilmiah atau mengenai masalah-masalah pemikiran semata-mata. Tetapi sesungguhnya perselisihan tersebut timbul karena faktor egoisme dan memperturutkan hawa nafsu yang dapat menyesatkan seseorang dari jalan Allah.

Seringkali perselisihan itu terjadi karena faktor-faktor pribadi dan popularitas, sekalipun dibalut dengan kepentingan Islam atau jama’ah dan lain sebagainya yang tidak diketahui bahkan oleh manusia itu sendiri.

Banyak perselisihan timbul hanya karena si Zaid menjadi pemimpin atau karena si Umar menjadi komandan, kemudian para pengikut masing-masing mengira sebagai perselisihan mengenai prinsip dan pemahaman. Padahal ia merupakan perselisihan memperebutkan kepemimpinan atau jabatan.

Tarbiyah Islamiah senantiasa menempa agar setiap mu’min menjadikan tujuannya hanyalah mencari ridha Allah, bukan ridha makhluk, kebahagiaan akhirat, bukan kemaslahatan duniawi. Mengutamakan apa yang ada di sisi Allah, bukan apa yang ada di sisi manusia.

“Apa yang di sisimu akan lenyap, sedangkan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Sesungguhnya kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl, 16: 96).



Kedua, meninggalkan fanatisme terhadap individu, madzhab dan golongan. Seseorang bisa berlaku ikhlas sepoenuhnya kepada Allah dan berpihak hanya kepada kebenaran jika ia dapat membebaskan dirinya dari fanatisme terhadap pendapat orang, madzhab, dan golongan.

Dengan kata lain, ia tidak mengikat dirinya kecuali dengan dalil. Jika dilihatnya ada dalil yang menguatkan maka ia segera mengikutinya, sekalipun bertentangan dengan madzhab yang dianutnya atau perkataan seorang Imam yang dikaguminya atau golongan yang diikutinya. Sebab, kebenaran lebih berhak untuk diikuti daripada pendapat si Zaid atau si Umar. Allah tidak memerintahkan kita beribadah mengikuti perkataan seorang ulama atau Imam tertentu, tetapi Allah memerintahkan kita agar beribadah sesuai dengan apa yang terdapat di dalam kitab-Nya dan sunnah Nabi-Nya.

Seseorang harus melepaskan dirinya dari fanatisme terhadap pendapatnya sendiri, mazhab, kelompok, atau partai. Al-Qur’an menceritakan beberapa contoh dari orang-orang fanatik ini sebagai kecaman terhadap mereka dan peringatan kepada kaum muslimin agar tidak mengikuti jejak langkah mereka.

Firman Allah tentang Bani Israil:

Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kepada Al Quran yang diturunkan Allah," mereka berkata: "Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami". Lalu mereka kafir kepada Al Quran yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Quran itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. " (QS. Al-Baqarah, 2: 91).

Firman Allah tentang orang-orang Musyrik:

Apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?". (QS. Al-Baqarah, 2: 170)

Diantara akhlak meninggalkan fanatisme terhadap individu, madzhab dan golongan ialah sikap melihat kepada perkataan bukan kepada orang yang mengatakannya. Hendaknya ia punya keberanian untuk mengkritik diri sendiri, mengakui kesalahan, menerima dengan lapang dada kritik orang lain. Ia tidak segan meminta nasehat dan evaluasi dari orang lain, memanfaatkan ilmu dan hikmah yang dimiliki orang lain, memuji orang yang tidak sependapat jika memang pendapatnya baik, dan membelanya apabila dia dituduh dengan tuduhan yang batil atau dilecehkan dengan tidak benar.



Ketiga, berprasangka baik kepada orang lain. Diantara akhlak dasar yang penting dalam pergaulan sesama aktivis Islam ialah berprasangka baik kepada orang lain dan mencopot kacamata hitam ketika melihat amal-amal dan sikap-sikap mereka. Akhlak dan pandangan seorang mu’min tidak boleh didasarkan pada prinsip memuji diri sendiri dan menyalahkan orang lain.

Allah melarang kita menganggap diri suci. Firman-Nya:

“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (QS. An-Najm, 53: 32)

Seorang mu’min—seperti dikatakan oleh para salaf—lebih keras mengadili diri sendiri ketimbang mengadili penguasa yang zalim atau teman yang bakhil. Ia senantiasa menuduh dirinya sendiri. Tidak memberikan toleransi kepada dirinya dan tidak mencari-cari dalih atas kesalahan-kesalahannya. Ia senantiasa dihantui rasa kurang melaksanakan perintah-perintah Allah dan menunaikan hak-hak hamba Allah.

Di samping itu ia senantiasa mencarikan alasan bagi kesalahan-kesalahan makhluk Allah, terutama para saudaranya dan orang-orang yang berjuang bersama-sama untuk membela agama Allah. Ia senantiasa mengatakan apa yang diucapkan oleh sebagian salaf yang shalih: “Aku mencarikan ‘udzur (alasan) bagi kesalahan saudaraku sampai tujuh puluh alas an, kenudian aku katakana lagi: barangkali dia punya alas an lain yang tidak aku ketahui”.

Diantara cabang iman yang terbesar ialah: Berprasangka baik kepada Allah dan manusia. Kebalikannya ialah: Berprasangka buruk kepada Allah dan hamba Allah.



Keempat, tidak menyakiti dan mencela. Diantara factor penyambung hubungan ialah sikap tidak menyakiti dan mencela orang yang berbeda pendapat serta meminta ma’af kepadanya sekalipun dia salah dalam anggapan Anda. Bisa jadi dia yang benar dan Anda yang salah, sebab dalam masalah ijtihad tidak ada kepastian tentang kebenaran salah satu dari kedua pendapat yang diperselisihkan. Dalam hal ini yang bisa dilakukan adalah tarjih. Sedangkan tarjih itu sendiri tidak berarti sebuah kepastian.

Orang yang keliru dalam masalah-masalah ijtihadiyah juga tidak boleh dicela sama sekali. Kesalahannya harus dimaafkan bahkan mungkin saja dia memperoleh pahala dari Allah sebagaimana ditegaskan dalam hadits Nabi.

Bagaimana mungkin kita mencela dan menyakiti orang yang melakukan ijtihad yang telah diberi pahala oleh Allah, sekalipun hanya satu pahala?

Demikianlah manhaj para salaf dalam berbeda pendapat menyangkut masalah ijtihadiyah. Mereka tidak saling mencela atau menyakiti, tetapi saling memuji, sekalipun tetap berbeda pendapat.



Kelima, menjauhi jidal dan permusuhan sengit. Di lapangan dakwah Islam kita saksikan adanya orang-orang yang tidak punya perhatian kecuali perbantahan dalam segala hal. Mereka tidak punya kesiapan untuk menerik pendapatnya sedikitpun. Mereka hanya menginginkan agar orang lain mengikuti pendapatnya. Mereka merasa selalu benar sedangkan orang lain senantiasa salah.

Diantara mereka ada yang mengecam fanatisme kepada madzhab tetapi mereka sendiri membuat madzhab baru dan menyerang orang lain yang tidak sepaham dan tidak mau mengikutinya.

Diantara mereka ada yang mengaharamkan taqlid tetapi mereka sendiri menuntut orang lain agar mengikutinya. Atau melarang taqlid kepada ulama terdahulu, sementara mereka sendiri bertaqlid kepada ulama sekarang.

Diantara mereka ada yang melakukan konfrontasi demi masalah-masalah furu’iyah (cabang) dan sektoral. Padahal para salaf sendiri pernah memperselisaihkannya, tetapi tidak sampai menimbulkan keruhnya hubungan sesama saudaranya.

Rasulullah SAW mengecam keras perbantahan dan menganjurkan ummatnya agar menjauhinya. Dari Abu Umamah ra bahwa Nabi SAW bersabda:

“Aku menjamnin istana di pinggir sorga bagi orang yang meninggalkan perbantahan sekalipun dia benar…” (HR. Abu Dawud).

“Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapatkan petunjuk, kecuali karena mereka melakukan perbantahan.” (HR. Turmudzi)

Perbantahan dan perdebatan yang paling dibenci ialah perbantahan di sekitar Al-Qur’an yang sesungguhnya diturunkan Allah untuk member kata putus terhadap apa yang diperselisihkan oleh manusia. Jika Al-Qur’an dijadikan sumber perselisihan maka ukuran dan pedoman apa lagi yang akan dijadikan rujukan oleh manusia?

Ibnu Amer berkata: “Aku dan saudaraku pernah duduk dalam sebuah majelis yang lebih aku sukai daripada onta merah. Saat itu aku dan saudaraku datang. Namun ada beberapa orang sahabat Rasulullah SAW duduk di salah satu pintunya. Kami ntidak ingin memisahkan tempat duduk mereka, sehingga kami duduk terpisah di sudut. Tiba-tiba mereka menyebutkan satu ayat Al-Qur’an dan memperdebatkannya sehingga suara mereka semakin keras. Mendengar ini Rasulullah SAW langsung keluar dalam keadaan marah dan merah mukanya. Seraya menaburkan pasir kepada mereka, Rasulullah SAW bersabda:

“Dengan inilah ummat-ummat sebelum kalian binasa. Mereka menentang para Nabi mereka dan mempertentangkan sebagian isi Al-Kitab dengan sebagian yang lain. Sesungguhnya Al-Qur’an tidak diturunkan sebagiannya mendustakan sebagian yang lain. Tetapi justru sebagiannya membenarkan sebagian yang lain. Apa yang telah kamu ketahui darinya hendaklah kamu amalkan dan apayang belum kamu ketahui hendaklah kamu kembalikan (tanyakan) kepada orang yang mengetahuinya.” (Hadits nomor 6702 dari Al-Musnad [1/174-175]. Syakir berkata: sanadnya shahih).



Keenam, dialog dengan cara yang lebih baik.

Allah SWT berfirman:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl, 16: 125).

Dalam ayat ini terdapat perbedaan ungkapan antara apa yang dituntut dalam melakukan nasehat (mau’izhah) dan apa yang dituntut dalam melakukan bantahan (jidal). Dalam melakukan mau’izhah cukup dengan cara yang baik (hasanah), tetapi dalam melakukan jidal tidak dibenarkan kecuali dengan cara yang lebih baik (ahsan).

Ada dua cara dalam jidal. Pertama, ialah cara yang baik dan yang kedua cara yang lebih baik. Kita diperintahkan untuk mengikuti yang lebih baik.

Mau’izhah—biasanya—ditujukan kepada orang-orang yang menerima dan sudah komit dengan prinsip dan fikrah. Mereka tidak memerlukan kecuali nasehat yang meningatkan, memperlembut hati, menjernihkan kekeruhan dan memperkuat tekad mereka. Sedangkan jidal—biasanya—ditujukan kepada orang-orang yang menentang, yang seringkali membuat orang yang berselisih pendapat dengan mereka tidak sabar sehingga mengeluarkan ungkapan kasar dan sikap kaku. Maka dengan bijaksana Al-Qur’an memerintahkan kita agar mengambil cara yang lebih baik dalam berdialog dengan mereka, agar memberikan hasil yang baik. Diantara caranya ialah berdialog dengan memilih ungkapan-ungkapan yang lembut dan sejuk. Al-Qur’an dalam menghadapi orang-orang Yahudi dan Nasrani menggunakan ungkapan yang menyiratkan makna pendekatan antara mereka dan kaum muslimin. Seperti ungkapan ‘Ahlul Kitab’ atau orang-orang yang diberi Al-Kitab.

Bahkan kepada orang-orang musyrik penyembah berhala, Al-Qur’an tidak menggunakan ungkapan, “Wahai orang-orang musyrik”, tetapi memanggil mereka dengan, “Wahai manusia”. Di dalam Al-Qur’an tidak terdapat seruan kepada orang-orang musyrik dengan menggunakan ungkapan kemusyrikan atau kekafiran kecuali di dalam surat Al-Kafirun. Itu pun karena tujuan khusus yaitu memupus harapan kaum musyrikin dalam merayu kaum muslimin agar bersedia mengalah sedikit dalam masalah aqidah mereka, aqidah tauhid. Oleh sebab itu ayat tersebut mengulang-ulang masalah tauhid dengan beberapa ungkapan sebagai peneguhan. Sekalipun demikian surat tersebut diakhiri dengan sebuah ayat yang mencerminkan, puncak toleransi: “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.”

Diantara cara dialog yang baik ialah menekankan pada ‘titik pertemuan’ dan ‘faktor kesepakatan’ antara Anda dan mitra dialog Anda. Cara ini adalah cara Qur’ani yang harus kita kenali dan terapkan. Perdebatan-perdebatan para Rasul dengan kaum mereka, sebagaimana diceritakan di dalam Al-Qur’an, memperjelas sikap ini. Sikap lembut, sopan, dan menggunakan ungkapan yang sejuk dalam dakwah dan dialog.[]

*http://al-intima.com/harakatuna/akhlak-modal-sinergi

Mengenal Pakar Partai Keadilan Sejahtera dari Spanyol


TheGlobeJournal.com - Wajahnya seperti pria muda Spanyol lainnya dengan rambut pirang serta alis yang tebal dan sorot mata yang tajam. Selain itu juga menunjukkan kecerdasan serta perhatiannya terhadap Indonesia khususnya Islam membuat Dr Javier Gil Perez (33) pria langka yang perlu mendapat perhatian.

Ia adalah satu satunya "Indonesianist" (pakar tentang Indonesia) Spanyol yang sangat fasih berbahasa Indonesia dan berhasil memperoleh gelar Doktor dari Instituto Universitario General Gutierrez Mellado dengan tesis tentang Politik Islam di Indonesia yang khususnya membahas PKS pada tahun 2010.

"PKS merupakan partai yang sangat menarik yang tahu bagaimana membangun pengaruh politik di Indonesia," ujar Dr Javier Gil Perez.

Menurut Dr Javier Gil Perez, jika PKS ingin tumbuh maka harus dapat menawarkan solusi yang lebih banyak atas problem riil di masyarakat.

PKS yang merupakan partai menengah ini dulu tahun 1999 adalah partai kecil yang saat ini dapat disebut sebagai partai utama yang mengusung Islam di Indonesia.

"Saya memprediksi bahwa pemilu presiden di tahun 2014 akan sangat terbuka di mana Presiden SBY tidak dapat lagi dipilih," ujar Dr Javier yang beristrikan wanita India.

Dikatakannya tujuan utama PKS adalah mempertahankan posisi saat ini sebagai partai Islam utama dan masuk kembali dengan jumlah menteri yang lebih banyak di pemerintahan baru.

"Pada saat yang sama, jika PKS ingin tumbuh maka harus dapat menawarkan solusi yang lebih banyak atas problem riil di masyarakat," ujar Dr Javier Gil Perez.

Dikatakannya PKS harus melanjutkan peran Islam, namun harus tidak dapat dilupakan bahwa Indonesia adalah negara yang sangat beragam dan dengan itu untuk meraih kemenangan haruslah terbuka.

Ditangan mereka sendiri PKS akan memordernisasikan diri.

Dr Javier Gil Perez yang cinta Indonesia dengan alasan bahwa Indonesia sangat cantik mengakui bahwa ia pertama kali mengenal Indonesia melalui ayah dan teman ayahnya.

"Ayah saya bekerja di pabrik sepatu yang megimpor sebagian besar karet dari Indonesia," ujarnya.

Muda, pintar dan Ketika ditanyakan mengapa memilih isteri dari India, dijawab dengan bergurau karena isteri saya juga cantik seperti Indonesia. Dari situ ia mulai tertarik dengan Indonesia yang disebutnya sebagai suatu negara yang eksotis.

Sementara itu, teman ayahnya yang tinggal di Tangerang, Indonesia, menceritakan berbagai hal menarik tentang Indonesia yang mendorongnya datang ke Indonesia pada tahun 2005.

"Saya tinggal di Jakarta dan di sana saya belajar bahasa Indonesia. Setelah itu saya menjadi 'visiting fellow' di CSIS di Jakarta," ujar Javier.


Satu-satunya

Menurut Counsellor KBRI Madrid Theodorus Satrio Nugroho, Javier merupakan satu-satunya Indonesianist (pakar tentang Indonesia) dari Spanyol.

"Hal ini sangat menarik dan bisa dikatakan Javier merupakan Indonesianist yang pertama, muda dan pintar," ujar Theo, demikian istri Angela Widowati Nugroho, seorang penulis di Kompasiana yang biasa disapa.

Menurut Dr. Javier Gil Perez, memang benar ia sendiri di Spanyol sebagai pakar Indonesia.

Alasan minimnya ketertarikan orang Spanyol terhadap Indonesia karena sejarah, geografis dan ekonomi.

Selain faktor sejarah di mana hubungan kedua negara yaitu Spanyol dan Indonesia dalam jangka panjang masih terbatas.

"Kontak kedua negara juga terbatas dibandingkan dengan negara lainnya di Asia," ujarnya.

Diakuinya secara geografis, jarak kedua negara sangat jauh dan saat ini di Asia kontak yang mendalam Spanyol hanya dengan China, Jepang dan Korsel di mana mereka memiliki potensi ekonomi yang besar.

Namun demikian, katanya, dorongan ekonomi dan politik di Indonesia telah merubah situasi di atas dan untuk itu Indonesia di masa depan akan memperoleh lebih banyak perhatian bagi Spanyol.

Dr. Javier Gil Perez selalu mengikuti perkembangan di Indonesia serta situasi politik dan ekonomi Indonesia setiap hari.

"Bagi saya adalah kewajiban sebagai dosen dan peneliti tentang tema Asia dan khususnya Indonesia," ujarnya.

Dalam waktu yang sama saya berniat pergi ke Indonesia untuk melihat secara langsung realitas Indonesia saat ini.

Bercerita mengenai kisahnya memilih politik Islam kontemporer Indonesia sebagai tema tesis Doktornya, Dr. Javier Gil Perez mengatakan Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia dan sekaligus adalah negara demokratis.

"Ini yang mendorong saya mengambil tesis doktor saya tentang Partai Keadilan Sejahtera (PKS)," ujarnya menambahkan bahwa ia tertarik mengetahui bagaimana partai-partai Islam - terutama tentang PKS.

Ia juga tertarik melakukan penelitian bagaimana politik Islam di Indonesia memordenisasikan dirinya dan mengadopsi demokrasi sebagai sistem politik yang baik. Menurut Dr. Javier Gil Perez, pilihannya atas PKS adalah hal yang tepat di mana ia dapat mempelajari tentang Islam di Indonesia dalam seluruh sisi.

Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa Indonesia adalah negara garda depan dan suatu contoh terbaik bagi negara-negara Muslim di mana untuk saat ini sedang berjuang untuk kebebasan seperti Mesir, Libia dan lainnya.


Sumber: The Globe Journal

PIP PKS Malaysia Gelar Mukhayyam Al-Quran I

07/03/12


Malaysia - Didasari oleh semangat meningkatkan interaksi kader dengan Al-Quran, PIP PKS Malaysia menyelenggarakan Mukhoyyam Al-Quran I pada 17-19 Februari 2012 bertempat di Masjid Al-Ghufran, Damansara.

"Apakah dalam hidup ini kita lebih sibuk daripada Rasulullah dan para sahabat sehingga tidak mempunyai waktu untuk Al-Qur'an? Pertanyaan ini dikemukakan oleh Al-Ustadz Abdul Aziz Abdul Rauf al-Hafiz di bagian awal taujihnya. Beliau menggambarkan bahwa saat ini umat Islam sudah sangat jauh meninggalkan Al-Quran. Jangankan mentadabburi, membacanya saja terkadang sudah tidak sempat lagi lantaran 'kesibukan' sehari-hari. Padahal, Rasulullah dan para sahabat senantiasa berinteraksi secara intensif dengan kitab suci ini di sepanjang kehidupan mereka. Hal ini karena pada hakikatnya, kunci kesuksesan, kemenangan dan kebahagiaan hidup tersimpan di dalam kitab suci tersebut.

Ustadz Abdul Aziz menjelaskan bahwa untuk membangun kedekatan dengan Al-Quran diperlukan kesabaran dan istiqomah (ishthibar atau tashabbur) karena penghalang dan godaannya tidak sedikit, baik yang berasal dari faktor internal (jiwa yang malas dan lemah) maupun eksternal (syaithan dan lingkungan yang tidak kondusif). Namun dengan niat ikhlas karena Allah, usaha terus menerus, dan banyak berdoa insya Allah kedekatan itu akan tercipta hingga pada satu titik tertentu, semua kesulitan dalam perjuangan membangun kebersamaan dengan Al-Quran itu akan berubah menjadi kenikmatan. Bahkan, beliau tambahkan, hal tersebut akan menciptakan efek 'ketagihan' yang positif dimana orang tersebut akan merasa ada yang kurang atau hilang jika satu hari saja tidak berinteraksi dengan Al-Quran dan berusaha untuk menambah intensitas interaksinya dari waktu ke waktu.

Dalam mukhoyam selama 3 hari tersebut, setiap peserta dituntut mengkhatamkan Al-Qur'an sebanyak satu kali dan menyetorkan hapalan mereka sebagaimana yang ditentukan kepada para musyrif dan musyrifah. Tidak mengherankan, jika pada umumnya para peserta hanya tidur kurang dari 2 jam sehari. Meskipun demikian, mereka tetap bersemangat dan ceria hingga menuntaskan kegiatan ini di hari terakhir. Rangkaian taujih, tilawah, qiyamullail, dan tahfiz selama kegiatan ini betul-betul memberikan tambahan spirit ruhiyah dan motivasi kepada para peserta untuk semakin meningkatkan hapalan.

Aksi Kolosal Global March to Jerusalem Harus Tertib & Damai


Amman — Koordinator Global March to Jerusalem (GMJ) Indonesia Ahmad Zainuddin menegaskan, aksi kolosal menembus Jerusalem untuk memberikan dukungan bagi kemerdekaan bangsa Palestina harus berjalan tertib dan damai. Maklum aksi yang akan digelar 30 Maret mendatang itu melibatkan jutaan orang dari beragam kalangan baik, ormas, LSM, maupun individu lintas Negara dan lintas agama dari 20 negara Asia, Eropa, juga Afrika.

“Aksi ini adalah aksi kemanusiaan. Karena itu Panitia Internasional maupun panitia lokal di negara-negara anggota GMJ harus dapat menjaga unsur tertib dan damai dalam setiap aksi yan dilakukan,” tandas Ahmad Zainuddin dalam pidatonya di hadapan peserta International Commitees Conferences of GMJ di Amman, Jordania, Sabtu (26/2).

Menanggapi usulan tersebut, anggota eksekutif GMJ Pusat Zaher Birawi menjelaskan, pihak panitia akan berusaha semaksimal mungkin menjaga kedamaian aksi dan menghindari situasi kekerasan yang mungkin saja terjadi.

Aksi jutaan manusia menembus Jerusalem sedang dimatangkan. Selama dua hari, 26-27 Februari, puluhan delegasi Global March to Jerusalem (GMJ) dari berbagai negara mengkaji beragam langkah untuk mensukseskan agenda. Dalam acara itu Panitia Pusat mengkaji laporan lebih dari 20 negara anggota dan menguraikan langkah-langkah teknis pelaksanaan GMJ,30 Maret 2012 mendatang.

Dalam pertemuan itu GMJ Indonesia diwakili oleh Ahmad Zainuddin selaku Koordinator GMJ Indonesia, dan M. Lili Nur Aulia, Koordinator Humas GMJ Indonesia.

Dalam pertemua teknis (technical meeting) selama dua hari tersebut dibahas beragam tema mulai dari pendanaan aksi, penanganan kebutuhan peserta selama aksi, road map GMJ, titik-titik pertemuan para delegasi dari berbagai negara di Jordania, hingga masalah teknis seperti akomodasi peserta, dan berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi pada hari H, 30 Maret.


Konvoi Darat

Salah satu tema krusial yang menjadi pembahasan adalah soal konvoi darat, yang rencananya akan dilakukan sejumlah negara Asia dan Afrika untuk kemudian bertemu di Jordania. Krisis politik dan keamanan yang terjadi di bebeapa negara seperti Irak dan juga Suriah, menyebabkan sejumlah peserta memandang konvoi darat agak sulit dilakukan.

Mengenai hal ini GMJ Indonesia menyarankan hendaknya agenda konvoi darat itu dijadikan aksi lokal di setiap negara. “Selain lebih menjamin keamanan karena kondisi beberapa negara yang masih berbahaya, juga hal ini akan lebih mengurangi biaya yang harus dikeluarkan,” usulnya di hadapan para peserta.

Panitia Pusat GMJ masih terus mengajak berbagai tokoh internasional yang mendukung agenda GMJ. “Tidak semua yang mendukung pasti ikut dalam aksi ini, tapi setidaknya mereka memberi dukungan moral dan lainnya bagi para peserta yang akan menggelar konvoi menuju Jerussalem,” jelas Zaher Birawi, yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Humas GMJ International.

Karenanya Zaher Birawi berharap, para peserta terus bekerja memperluas jaringan komunikasi dan koordinasi ke berbagai pihak. “GMJ merupakan agenda milik semua orang, lintas agama, paham agama, pemikiran, Negara, dan siapa pun yang memiliki perhatian terhadap pembelaan HAM,” jelasnya.

The Erdogan's Way


Jajak pendapat Universitas Maryland pada 2010 menunjukkan bahwa Erdogan adalah figur paling dikagumi di Dunia Arab.


Karpet merah, pasukan kehor matan, dan tembakan salvo me nyambut kedatangan Recep Tayyip Erdogan--Perdana Men teri (PM) Turki--di Bandara Kairo. Di luar bandara, ribuan orang tak henti meneriakkan, “Erdogan, Erdogan. Seorang Muslim sejati, bukan pengecut.“

Teriakan lain berbunyi, “Mesir dan Turki dalam satu genggaman.“

Jika kerumunan seperti ini terjadi dua atau tiga tahun lalu, orang akan dengan mudah menuduh semua diatur penguasa. Rezim-rezim totaliter di mana pun di muka bumi ini secara rutin mengatur kerumunan massa dalam jumlah besar. Namun, kerumunan ribuan massa yang menyambut Erdogan terjadi secara spontan.

Erdogan menjadi figur populer di Timur Tengah, terutama Mesir, Libya, dan Tunisia, pasca-Arab Springs--kudeta berantai yang mengakhiri rezim totalitarian. Jajak pendapat Universitas Maryland pada 2010 menunjukkan bahwa Erdogan adalah figur paling dikagumi di Dunia Arab.

Setelah Arab Springs, popularitas Erdogan meningkat tajam. Ia menjadi figur ideal generasi muda Arab yang ingin mengakhiri pemerintahan tiran kaum tua. Ini terlihat dari kerumunan massa yang menyambut Erdogan di Bandara Kairo.

Erdogan memanfaatkan situasi ini. Kunjungannya ke Mesir dilibatkan dengan berbagai analis politik sebagai langkah awal membangun pengaruh di negara-negara Afrika Utara yang baru terbebas dari kekuasaan tiran.

Kunjungan ini ditingkahi pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Barrack Obama yang mengabaikan kritik Erdogan soal politik luar negeri Paman Sam di Timur Tengah dan maraknya pertikaian diplomatik dengan Israel yang membuat Erdogan layak mendapat julukan great leadership di kawasan.

Time menulis, tidak setiap saat seorang presiden AS memiliki pemikiran sama dengan orang di jalan-jalan di negara-negara Arab. Obama ingin pemimpin yang muncul dari puing-puing rezim tiran di Libya, Tunisia, dan Mesir adalah figur yang mirip Erdogan.


Erdogan telah sembilan tahun berkuasa di Turki. Ia meningkatkan reputasi interansional Turki yang sekian lama dikekang militer. Ia menerapkan kebijakan ekonomi yang mendongkrak pendapatan per kapita rakyatnya sampai tiga kali lipat, menumbuhkan kelas pengusaha baru, dan di sisi lain mempertahankan kebijakan pro-Barat.

Erdogan memang telah meraih semua yang diimpikan banyak pemimpin. Ia menjadikan Turki kuat secara ekonomi dan menyingkirkan pengaruh Iran di Timur Tengah.


Turki dan Arab Springs

Bagi banyak “penonton“ panggung politik, Timur Tengah model Turki ditempa oleh Islam. Erdogan dan Partai Keadilan dan Pembangunan (disingkat AKP) secara tradisional didukung kelas konservatif dan kelompok-kelompok keagamaan yang kerap dicurigai oleh kaum sekuler absolut. Bagi negara-negara Islam Arab, sukses Turki membuktikan bahwa modernisasi negara bisa dilakukan tanpa harus melepaskan keyakinan terhadap agama. Pengagum Erdogan lainnya melihat semua ini merupakan bukti bahwa politik Islam tidak perlu menjadi musuh modernitas.

Jika butuh bukti lain untuk melihat bagaimana cara Erdogan meraih sukses, tengok saja bagaimana Erdogan memenangkan pemilu ketiga. Namun, apakah cara Erdogan--atau Erdogan Way--bisa membimbing Mesir, Libya, dan Tunisia ke arah stabilitas politik dan penguatan ekonomi?

Erdogan mengatakan, “Saya justru bertanya-tanya apakah negara-negara Arab berniat meniru kesuksesannya?“ Jika ya, menurut Erdogan, Turki akan memberikan bantuan yang diperlukan.

“Kami tidak memiliki mental harus mengekspor sistem,“ kata Erdogan dalam wawancara dengan Time.

Namun, Erdogan tidak membantah dirinya sedang mendekati calon-calon pemimpin di negara-negara yang terkena Arab Springs. “Saya secara intens ingin berbicara lebih banyak dengan para calon presiden dan partai-partai politik baru di Libya, Mesir, dan Tunisia. Saya ingin mendapat kesempatan dengan banyak orang untuk memahami situasi,“ kata Erdogan.

Pesan yang ingin disampaikan Erdogan adalah, “Jadilah Muslim yang baik dan yakinlah dengan konstitusi negara masing-masing.“

Erdogan Way, menurut Michae Werz--pakar Turki dari Center for American Progress--bisa saja menginspirasi partai-partai Islam di negara-negara Arab.

Abdelhamid Jlassi-pemimpin Partai Islam Tunisa Ennahda--mengatakan, “Erdogan berbicara dengan bahasa kami. Kapan pun dia berbicara, kami mendengar.“

Ennahda memenangkan pemilu bebas pertama pada 23 Oktober 2011 dan berhak membentuk majelis rakyat yang bertugas menulis konstitusi baru Tunisia.


Turki dan Uni Eropa

Bagi beberapa pengamat Barat, kebangkitan politik Islam hanya akan memunculkan negara reaksioner, seperti Afghanistan di bawah Taliban dan Iran saat ini serta membiaknya teroris. Kecemasan itu tidak muncul saat ini, tapi sejak AKP memenangkan Pemilu Turki 2002.

Saat itu, kaum sekuler Turki khawatir Erdogan akan berupaya menghapus pemisahan masjid dan agama yang menjadi dasar negara Turki, bangunan Mustafa Kemal Ataturk.

Pada 2003, Erdogan menolak berpartisipasi dalam perang di Irak, yang membuat Barat khawatir sang pemimpin Islam ini akan mengeluarkan Turki dari NATO. Kekhawatiran itu tidak menjadi kenyataan. Turki tidak akan menjadi seperti Iran.

Tahun lalu, Erdogan membuat kaum sekuler Turki kembali tercengang ketika mencabut larangan mengenakan jilbab di semua universitas. Kebijakan Erdogan dianggap merupakan serangan langsung terhadap warisan sekuler Ataturk. Ia tidak melarang alkohol dan rokok, tapi menggandakan pajaknya yang menyebabkan harga minuman keras dan anggur di Turki menjadi sangat mahal.

Pengkritiknya mengatakan, Erdogan kian menjauh dari Barat. Ia menjawab dengan lebih aktif, dibanding pendahulunya yang sekuler melakukan diplomasi agar bisa masuk ke dalam Uni Eropa.

Erdogan memastikan dirinya masih akan berusaha mendapat status keanggotaan Uni Eropa. Namun, kepada Time, Erdogan mengatakan, “Situasi di Uni Eropa saat ini tidak membuat saya tersenyum. Turki yang dulu dikenal sebagai sick man for Europe kini menjadi kekuatan ekonomi. Pada saat yang sama, banyak anggota Uni Eropa--yang tidak menginginkan Turki menjadi anggota Uni Eropa--bangkrut.“

Yunani adalah penentang utama masuknya Turki ke Uni Eropa. Lainnya adalah Spanyol dan Portugal. Kini, Uni Eropa dibuat kalangkabut oleh ketidakbecusan Yunani membayar utang. Portugal dan Spanyol juga merepotkan, akibat perekonomiannya yang tak pernah membaik.

Penolakan mereka didasarkan pada satu hal: Turki adalah Islam. Mereka tidak ingin ada negara Islam di Eropa.


Turki Lebih Religius

"Kami ingin membesarkan pemuda religius," ungkap Erdogan suatu ketika seperti dikutip alarabiya.net, Jum'at (10/2).

Erdogan mengatakan, pihaknya tidak mungkin mencetak generasi ateis. Justru pihaknya mengharapkan lahirnya generasi konservatif yang merangkul nilai-nilai dan prinsip bangsa dalam balutan demokratis.

Semenjak Erdogan memerintah Turki, sejumlah kebijakan terkaitan dengan agama mengalami perubahan. Terakhir, Erdogan mengubah Undang-undang di mana lulusan sekolah agama mendapatkan kesempatan untuk mengakses setiap jurusan di universitas. Di masa lalu, mereka hanya mendapat akses terbatas pada sekolah teologi. []

Franchise Ikhwanul Muslimin


Oleh Ikhwanul Kiram Mashuri*

Dalam dunia bisnis, franchise atau waralaba tentu hal yang biasa. Inti dari franchise adalah menyontek sebuah produk, jasa, atau hasil kreativitas yang terbukti telah berhasil dengan imbalan dan syarat tertentu. Pizza Hut, McDonald, dan Kentucky Fried Chicken sekadar contoh dari franchise itu. Bagaimana dalam dunia politik?

Sejumlah pengamat menyebutkan apa yang kini sedang berlangsung di beberapa negara Arab adalah franchising dari Ikhwanul Muslimin di Mesir. Tentu bukan dalam arti harfiah seperti yang terjadi dalam dunia bisnis. Franchising yang dimaksud adalah bangkitnya Islam politik di negara-negara Arab yang baru saja mengalami revolusi menjatuhkan rezim diktator.

Seperti yang terjadi di Tunisia, Mesir, Libya, dan Yaman. Atau, negara-negara yang mengalami perubahan politik, seperti di Maroko, Yordania, dan Aljazair. Juga negara yang sedang bergejolak, misalnya Suriah. Bahkan, di sebagian besar negara-negara tersebut, partai Islam telah memenangkan pemilu, seperti di Maroko, Mesir, dan Tunisia.

Gerakan Islam politik dan kemenangan partai Islam di sejumlah negara Arab itu tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Pengalamannya pun mirip. Semasa rezim diktator berkuasa, partai Islam dilarang, pimpinannya dipenjarakan dan dikejar-kejar. Sebagian lagi melarikan diri ke luar negeri. Lalu, mereka bergerak di `bawah tanah' untuk menjatuhkan sang diktator.

Ikhwanul Muslimin, biasa disebut al-Ikhwan, didirikan oleh Hasan al-Bana di Mesir pada 1928. Meskipun gerakan Islam politik dalam sejarah modern diawali oleh Jamaluddin al-Afghani (1838-1897) dan kemudian oleh Mohammad Abduh (1849-1905), dalam bentuk organisasi dan kaderisasi yang lebih terstruktur baru dimulai dengan kelahiran al-Ikhwan.

Pada awalnya, gerakan al-Ikhwan hanya sebatas sosial keagamaan. Namun, ketika anggotanya semakin banyak organisasi ini pun menjadi gerakan politik. Pada 1949, al-Bana terbunuh setelah melawan Raja Faruk yang dituduh bekerja sama dengan penjajah Inggris. Sayyid Qutub lalu menggantikannya. Qutub dikenal sebagai penulis produktif.

Kebanyakan bukunya merupakan penjabaran dari ajaran dan ideologi al-Ikhwan. Boleh dikata ia merupakan ideolog al-Ikhwan. Pada awalnya, Qutub bahu-membahu dengan Jamal Abdul Nasir ketika melawan penjajah Inggris. Namun, setelah Mesir merdeka dan Nasir jadi presiden, keduanya pun berselisih paham yang berakibat pada pembunuhan Qutub (1966) dan pelarangan al-Ikhwan.

Pelarangan kemudian berlanjut pada masa Presiden Anwar Sadat dan Husni Mubarak. Pada masa ini, banyak tokoh al-Ikhwan yang dipenjarakan dan yang lainnya melarikan diri ke luar negeri. Ada yang ke negara-negara Arab dan bahkan ke Eropa. Mereka inilah yang kemudian menyebarluaskan pemikiran-pemikiran al-Ikhwan.

Ulama terkenal Sheikh Yusuf Qaradhawi memilih menetap di Qatar. Anak dan menantu al-Bana melarikan diri ke Swiss. Salah seorang cucu al-Bana, Tariq Ramadan, kini jadi ulama terpandang di Eropa. Namun, justru pada masa inilah, al-Ikhwan berkembang pesat dan lebih militan.

Ideologi dan ajaran al-Ikhwan cepat tersebar luas dalam dunia Islam juga berkat buku-buku mengenai Hasan al-Bana dan Sayyid Qutub yang diterjemahkan ke berbagai bahasa. Termasuk bahasa Indonesia.

Tak heran bila kemudian gerakan dan ajaran al-Ikhwan juga mewarnai gerakan politik Islam di sini. Meskipun al-Ikhwan dan beberapa partai Islam di beberapa negara Arab dilarang, ternyata kaderisasi mereka tetap berjalan, baik terang-terangan maupun di bawah tanah. Kaderkader inilah yang menjadi ujung tombak menarik simpatisan.

Jangan heran kalau Anda sedang berada di terminal bus, stasiun kereta api, atau tempattempat umum di Mesir dan negara Arab lainnya menjumpai anak-anak muda menawarkan jasa: menuntun orang tua menyeberangi jalan, membawakan barang bawaan yang berat, membantu korban menghadapi kejahatan, dan bantuan-bantuan sosial lainnya.

Semuanya mereka lakukan tanpa imbalan dan tanpa diliput media. Sebelum menawarkan bantuan, biasanya mereka memperkenalkan identitas terlebih dahulu. Karena itu, meskipun alIkhwan dan partai Islam lainnya dilarang, namun mereka dikenal dekat dengan masyarakat. Tak heran bila mereka kemudian memenangkan pemilu setelah para rezim diktator tumbang.


Dalam demokrasi, seperti halnya bisnis, rakyat adalah penentu. Di beberapa negara Arab yang sedang menyongsong demokrasi, kini rakyat memilih partai-partai Islam yang diketahui selalu prorakyat.[]

*REPUBLIKA (5/3/12)


____________________
*Tentang Penulis:

Ikhwanul Kiram Mashuri - Sejak lulus dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, pria kelahiran Kediri, 5 August 1958 ini memutuskan menggeluti dunia jurnalistik. Kini ia menjadi wartawan senior Harian Republika. Di sela-sela tugasnya sehari-hari sebagai Direktur News dan Konten di Grup Republika, mantan pemred Harian Republika yang juga alumi Pondok Pesantren Modern Gontor ini kerap memberikan siraman rohani, baik di kalangan internal maupun masyarakat luar.

Berita Terpopuler

DPW PKS KALTIM

Tahukah Kita

Renungan & Hikmah

Bidpuan DPC ULU

Dapur Bidpuan Samarinda Ulu


Fraksi DPRD Smd ( Oleh : Utomo Puji )

 
© Copyright PKS Samarinda Ulu 2012 | Design by PKS TEMPLATE | Powered by Blogger.com.