BERITA TERKINI :
Berita Terbaru
Berita Terhangat
DPD PKS Samarinda
Fiqh & Syariah
Keluarga Sakinah
Kiprah DPC Samarinda Ulu
DPRD Provinsi KALTIM
Tausiyah dari Ustadz Kita
Opini Kiriman Pembaca
Kolom Kesehatan ( Akh Haris )
Tampilkan postingan dengan label oase. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label oase. Tampilkan semua postingan
5/23/2012
Ia hanyalah seorang anak perempuan yang berumur sepuluh tahun. Tubuhnya kurus dan kulitnya hitam. Sejak dua tahun yang lalu ia berhenti mengenyam bangku pendidikan untuk mengurus ketiga adiknya. Ibunya meninggal sesaat setelah melahirkan adiknya yang ketiga. Sebulan setelah kepergian ibnunya, Ayahnya mempersunting seorang perempuan yang otomatis menjadi Ibu tirinya. Karena sayangnya sang Ayah kepada istri barunya, maka anak kecil itu ditinggalkan bersama dua orang kakaknya yang masih remaja. Kartini kecil, begitu kami biasa memanggilnya. Setelah kepergian sang Ibu dan di tinggalkan sang Ayah, kartini kecil harus menggantikan peran ibunya untuk merawat dan mengurusi adik-adiknya. Dua tahun sejak kepergian ibunya, kartini kecil di tinggal pula oleh kedua kakaknya untuk menikah. Maka mulai saat itu kartini kecil harus mengurus dan membesarkan ketiga adiknya seorang diri.
Beberapa tetangga dan saudara yang berada di sekitar rumahnya memang sering membantu untuk memenuhi kebutuhan mereka, namun kartini kecil memiliki rasa malu yang besar dan ia bertekad tidak ingin menjadi beban bagi orang lain. Untuk anak seusianya memang terlihat tidak wajar memiliki sikap seperti itu, yang pasti seorang anak kecil dapat menjadi lebih dewasa dalam kondisi tertentu. Kartini kecil ini salah satu contohnya. Pada awal-awal ia di tinggal kedua orang kakaknya, Kartini kecil berusaha mendapatkan uang dengan cara membantu salah seorang tetangga di dekat rumahnya. Sebelum padi atau gabah di giling menjadi beras, gabah tersebut harus di keringkan melalui proses penjemuran di tempat yang lapang. Namun saat padi tersebut di jemur biasanya ada ayam atau burung yang memakan padi tersebut, dan tugas kartini kecil adalah untuk menjaga padi tersebut agar tidak di makan oleh ayam dan burung. Sebagai upahnya sang pemilik padi akan memberikan satu Liter beras tiap padi tersebut digiling.
Suatu ketika saat ia sedang menunaikan kewajibannya untuk menjaga padi, ia melihat seorang nenek yang sedang mencari dan mengumpulkan siput, ya siput. Penasaran dengan yang dilakukan nenek itu, kartini kecilpun bertanya kepada nenek itu, Mbah kagem nopo simbah ngempalaken bekicot niku? (Nek, untuk apa nenek mengumpulkan siput yang berlendir itu?). Si nenek mengatakan bahwa ia mengumpukan siput itu untuk ia makan karena ia tidak memiliki beras untuk di masak, dan ia pun tidak memiliki uang. Mendengar jawaban itu, kartini kecil segera pulang kerumahnya untuk mengambil satu plastik beras yang ia simpan dirumahnya. Pada saat ia kartini kecil menyerahkan beras itu kepada nenek tadi, sang pemilik padi melihat apa yang kartini kecil lakukan. Setelah nenek itu meninggalkan kartini kecil, pemilik padi memanggil kartini dan menuduhnya telah mencuri beras di gudangnya. Ia sudah berusaha untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi namun pemilik padi tadi tidak mau mempercayainya. Pada hari itu ia tidak mendapatkan beras sedikitpun dan mulai saat itu pula si pemilik padi tidak mempekerjakan kartini kecil.
Ia hanya pasrah dan menerimanya dengan hati yang berat. Sesampainya di rumah ia baru tersadar kalau beras yang ada di rumahnya tinggal sedikit. Terlalu sedikit hingga ia harus memask nasi tersebut menjadi bubur agar dapat dimakan bersama ketiga adiknya. Di luar perkiraannya setelah bubur tersebut masak, bubur tersebut sudah habis untuk makan ketiga adiknya, walaupun demikian ia sudah sangat bersyukur karena adik-adiknya tidak kelaparan seperti dirinya. Hari itu ia tidak makan sesuap nasi pun. Pada hari berikutnya, adik-adiknya sudah merengek dan menangis karena tidak tahan lagi menahan rasa laparnya. Untuk sementara hari itu ia dan adik-adiknya makan dengan singkong rebus sebagai pengganjal rasa laparnya. Ia mulai bingung dengan keadaan ini. Ia sangat bisa menahan rasa laparnya, namun ia sangat tidak tahan melihat adik-adiknya harus menangis karena kelaparan. Meminta adalah hal yang tabu baginya, karenanya ia pergi kekebun peninggalan ibunya untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa di makan selain singkong.
Ketika gelap sudah sangat pekat sungguh pagi sudah dekat, mungkin kalimat ini bisa menggambarkan kondisi saat itu. Saat dimana ia berada dalam kondisi kepayahan dan tiada sesuatu untuk dimakan, ia melihat pohon pisang. Walaupun belum berbuah tapi ia menemukan hal lain. Daun pisang. Saat itu Kartini kecil berpikir mengapa ia tidak menjual daun pisang itu untuk kemudian di belikan beras. Seketika itu pula ia ambil daun-daun pisang di kebun peninggalan ibunya dan ia jual kepasar. Ternyata dari hasil penjualan daun pisang tersebut ia tidak hanya bisa membeli beras tapi juga membelikan susu untuk adiknya yang paling kecil. Mulai saat itu pula ia menemukan cara yang lebih baik untuk mendapatkan uang. Dengan berjualan, ia dapat mengatur waktunya sendiri dan yang jelas ia tidak lagi menjadi buruh dan di perlakukan tidak adil sebagaimana sebelumnya.
Dari berjualan, mulai dari daun pisang hingga gorengan dan berkat kegigihannya kartini mampu menhidupi dirinya dan ketiga adiknya, bahkan semua adik-adiknya dapat mengenyam pendidikan hingga bangku Sekolah Menengah Atas. Walaupun sampai saat ini kartini tetap tidak bisa membaca dan menulis sebgaimana adik-adiknya, Ia sangat bersyukur akan apa yang telah ia capai. Ia masih menjalankan usahanya sebagai pedagang hingga saat ini, dan Alloh membalas kebaikan-kebaikan yang telah lakukan, tidak hanya dari segi materi tapi yang lebih berharga dari itu. Alloh SWT telah mengarunia kartini dengan anak-anak yang sholih. Anak-anak yang selalu mendoakannya. Dan itulah balasan yang terbaik untuknya. Semoga pengalaman kartini kecil ini dapat kita ambil pelajarannya. Sesungguhnya di balik setiap kesusahan terdapat kemudahan yang telah Alloh siapkan. Semoga tetap Semangat dan Istiqomah.
--------------------------------------
sumber Gambar : Klinik Fotografi Kompas
Kebaikan Yang Tergantikan
23/05/12
Ia hanyalah seorang anak perempuan yang berumur sepuluh tahun. Tubuhnya kurus dan kulitnya hitam. Sejak dua tahun yang lalu ia berhenti mengenyam bangku pendidikan untuk mengurus ketiga adiknya. Ibunya meninggal sesaat setelah melahirkan adiknya yang ketiga. Sebulan setelah kepergian ibnunya, Ayahnya mempersunting seorang perempuan yang otomatis menjadi Ibu tirinya. Karena sayangnya sang Ayah kepada istri barunya, maka anak kecil itu ditinggalkan bersama dua orang kakaknya yang masih remaja. Kartini kecil, begitu kami biasa memanggilnya. Setelah kepergian sang Ibu dan di tinggalkan sang Ayah, kartini kecil harus menggantikan peran ibunya untuk merawat dan mengurusi adik-adiknya. Dua tahun sejak kepergian ibunya, kartini kecil di tinggal pula oleh kedua kakaknya untuk menikah. Maka mulai saat itu kartini kecil harus mengurus dan membesarkan ketiga adiknya seorang diri.
Beberapa tetangga dan saudara yang berada di sekitar rumahnya memang sering membantu untuk memenuhi kebutuhan mereka, namun kartini kecil memiliki rasa malu yang besar dan ia bertekad tidak ingin menjadi beban bagi orang lain. Untuk anak seusianya memang terlihat tidak wajar memiliki sikap seperti itu, yang pasti seorang anak kecil dapat menjadi lebih dewasa dalam kondisi tertentu. Kartini kecil ini salah satu contohnya. Pada awal-awal ia di tinggal kedua orang kakaknya, Kartini kecil berusaha mendapatkan uang dengan cara membantu salah seorang tetangga di dekat rumahnya. Sebelum padi atau gabah di giling menjadi beras, gabah tersebut harus di keringkan melalui proses penjemuran di tempat yang lapang. Namun saat padi tersebut di jemur biasanya ada ayam atau burung yang memakan padi tersebut, dan tugas kartini kecil adalah untuk menjaga padi tersebut agar tidak di makan oleh ayam dan burung. Sebagai upahnya sang pemilik padi akan memberikan satu Liter beras tiap padi tersebut digiling.
Suatu ketika saat ia sedang menunaikan kewajibannya untuk menjaga padi, ia melihat seorang nenek yang sedang mencari dan mengumpulkan siput, ya siput. Penasaran dengan yang dilakukan nenek itu, kartini kecilpun bertanya kepada nenek itu, Mbah kagem nopo simbah ngempalaken bekicot niku? (Nek, untuk apa nenek mengumpulkan siput yang berlendir itu?). Si nenek mengatakan bahwa ia mengumpukan siput itu untuk ia makan karena ia tidak memiliki beras untuk di masak, dan ia pun tidak memiliki uang. Mendengar jawaban itu, kartini kecil segera pulang kerumahnya untuk mengambil satu plastik beras yang ia simpan dirumahnya. Pada saat ia kartini kecil menyerahkan beras itu kepada nenek tadi, sang pemilik padi melihat apa yang kartini kecil lakukan. Setelah nenek itu meninggalkan kartini kecil, pemilik padi memanggil kartini dan menuduhnya telah mencuri beras di gudangnya. Ia sudah berusaha untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi namun pemilik padi tadi tidak mau mempercayainya. Pada hari itu ia tidak mendapatkan beras sedikitpun dan mulai saat itu pula si pemilik padi tidak mempekerjakan kartini kecil.
Ia hanya pasrah dan menerimanya dengan hati yang berat. Sesampainya di rumah ia baru tersadar kalau beras yang ada di rumahnya tinggal sedikit. Terlalu sedikit hingga ia harus memask nasi tersebut menjadi bubur agar dapat dimakan bersama ketiga adiknya. Di luar perkiraannya setelah bubur tersebut masak, bubur tersebut sudah habis untuk makan ketiga adiknya, walaupun demikian ia sudah sangat bersyukur karena adik-adiknya tidak kelaparan seperti dirinya. Hari itu ia tidak makan sesuap nasi pun. Pada hari berikutnya, adik-adiknya sudah merengek dan menangis karena tidak tahan lagi menahan rasa laparnya. Untuk sementara hari itu ia dan adik-adiknya makan dengan singkong rebus sebagai pengganjal rasa laparnya. Ia mulai bingung dengan keadaan ini. Ia sangat bisa menahan rasa laparnya, namun ia sangat tidak tahan melihat adik-adiknya harus menangis karena kelaparan. Meminta adalah hal yang tabu baginya, karenanya ia pergi kekebun peninggalan ibunya untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa di makan selain singkong.
Ketika gelap sudah sangat pekat sungguh pagi sudah dekat, mungkin kalimat ini bisa menggambarkan kondisi saat itu. Saat dimana ia berada dalam kondisi kepayahan dan tiada sesuatu untuk dimakan, ia melihat pohon pisang. Walaupun belum berbuah tapi ia menemukan hal lain. Daun pisang. Saat itu Kartini kecil berpikir mengapa ia tidak menjual daun pisang itu untuk kemudian di belikan beras. Seketika itu pula ia ambil daun-daun pisang di kebun peninggalan ibunya dan ia jual kepasar. Ternyata dari hasil penjualan daun pisang tersebut ia tidak hanya bisa membeli beras tapi juga membelikan susu untuk adiknya yang paling kecil. Mulai saat itu pula ia menemukan cara yang lebih baik untuk mendapatkan uang. Dengan berjualan, ia dapat mengatur waktunya sendiri dan yang jelas ia tidak lagi menjadi buruh dan di perlakukan tidak adil sebagaimana sebelumnya.
Dari berjualan, mulai dari daun pisang hingga gorengan dan berkat kegigihannya kartini mampu menhidupi dirinya dan ketiga adiknya, bahkan semua adik-adiknya dapat mengenyam pendidikan hingga bangku Sekolah Menengah Atas. Walaupun sampai saat ini kartini tetap tidak bisa membaca dan menulis sebgaimana adik-adiknya, Ia sangat bersyukur akan apa yang telah ia capai. Ia masih menjalankan usahanya sebagai pedagang hingga saat ini, dan Alloh membalas kebaikan-kebaikan yang telah lakukan, tidak hanya dari segi materi tapi yang lebih berharga dari itu. Alloh SWT telah mengarunia kartini dengan anak-anak yang sholih. Anak-anak yang selalu mendoakannya. Dan itulah balasan yang terbaik untuknya. Semoga pengalaman kartini kecil ini dapat kita ambil pelajarannya. Sesungguhnya di balik setiap kesusahan terdapat kemudahan yang telah Alloh siapkan. Semoga tetap Semangat dan Istiqomah.
--------------------------------------
sumber Gambar : Klinik Fotografi Kompas
4/23/2012
Insan adalah seorang pemuda yang hidup dalam kesendirian. Ia terlahir sebatang kara, tidak mengetahui siapa bapak, ibu dan keluarganya. Atas izin Alloh SWT ia dapat bertahan hidup hingga saat ini.
Insan mempunyai tiga kawan. Mereka adalah Aman, Banin dan Tsani. Aman adalah kawan yang menyenangkan, sehingga ia sering membersamai Insan hampir disetiap kegiatan. Insan selalu mengajak Aman ketempat-tempat yang ia sukai. Insan dan Aman tinggal satu kost, sehingga dari bangun tidur hingga tidur lagi mereka selalu bertatap muka.
Hubungan mereka sudah bagaikan saudara. Berbeda dengan Banin, ia adalah orang yang sedikit pendiam, ia hanya akan berbicara jika ada yang mengajaknya bicara. Sehingga dalam benak insan, Banin adalah kawan yang biasa saja. Sedangkan terakhir Tsani, dalam pandangan insan adalah orang yang sangat menyebalkan, sehingga Insan tidak memperhatikan Tsani sedikitpun. Suatu saat Insan terlibat sebuah kasus yang mengharuskan Insan berurusan dengan pengadilan.
Ia sangat ketakutan, ia pun sibuk mecari bantuan kemana-mana. Orang yang pertama kali Insan mintai bantuan adalah Aman, tentu saja dia. Setalah Insan menjelaskan permasalahannya kepada Sahabat dekatnya itu, ia sangat yakin Aman mau membantunya. Ternyata tidak semua yang dia yakini itu benar. Insan sangat terkaget mendengar jawaban Aman. Aman mengatakan kepada Insan, Maaf saya tidak bisa membantumu, dan meninggalkan Insan tanpa simpati sedikitpun. Insan sangat menyesal, ia kecewa, ia menganggap Aman sebagai penghianat. Saat senang saja ia mau dekat, tapi di kala susah ia dengan teganya meninggalkannya.
Dengan masih diliputi ketidak percayaan terhadap Aman, Insan mencoba meminta pertolongan kepada temannya, Banin. Dengan sedikit malu bercampur harap ia mengutarakan apa yang sudah menimpa dirinya. Banin mengetahui betul apa yang dirasakan Insan, tapi karena keterbatasaannya, Banin hanya bisa membantu hanya sebatas mengantar sampai pengadilan, setelah itu Banin akan pulang. Walau sedikit kecewa Iman sudah sangat bersyukur, karena memang saat ini ia sudah tidak ada lagi uang, sehingga untuk mencapai pengadilan itu saja, Insan sudah cukup kerepotan. Banin yang pendiam itu menyarankan Insan agar meminta bantuan kepada teman terakhirnya Tsani, seorang teman yang jarang ia sapa terlebih ia kunjungi.
Dengan dipenuhi keraguan dan kekhawatiran, Insan memberanikan diri untuk menemui Tsani yang rumahnya tak jauh dari Rumah Banin. Sesampainya dirumah Tsani, ia melihat Tsani dalam keadan murung dan terlihat sedang ada masalah. Walau demikian ia tetap memberanikan diri untuk mengutarakan apa yang menimpa dirinya. Tak disangka sebelum Insan memberitahukan perihal yang sedang ia alami, Tsani memeluk Insan dengan sangat erat, matanya berkaca-kaca dan dari bibirnya yang bergetar, banin mengucapkan perkataan yang membuat Insan lunglai lemah.
“Saudaraku”, Kata Tsani, aku sudah tahu apa yang menimpa dirimu, aku sangat ingin membantumu dan kau tentu tahu aku sangat bisa membantumu karena Ayahku adalah seorang pengacara yang selalu memenangkan perkara. Tapi satu hal yang membuatku sedih dan mungkin akan membuatmu bertambah duka. Aku sudah menyampaikan perihal yang menimpamua kepada Ayahku, tapi ia mengatakan seandainya dulu Insan dekat dan berbuat baik kepadamu, Tsani, maka dengan senang hati aku akan membantu menyelesaikan kasusnya. Tapi Karena Insan adalah orang yang dulu menjauhimu, bahkan mengejekmu. Aku hanya bisa membantunya sebagaimana apa yang ia lakukan kepadamu. Penyesalan tinggalah penyesalan.
Insan sangat menyesali apa yang telah ia lakukan dulu, mengapa ia tidak berbuat baik kepada Tsani, terlebih teman yang selalu membersamainya, Aman telah menghianatinya. Insanpun akhirnya kalah dalam kasus tersebut dan ia harus menebus kesalahannya dengan dikurung dalam penjara.
*** *** ***
Bisa jadi Insan adalah potret sebagian besar dari kita. Di pengadilan dunia mungkin kita masih bisa selamat, tapi siapakah yang dapat menyelamatkan dari pengadilan akhirat yang siapapun tidak bisa menyuap hakimnya. Aman adalah simbol harta dan kesenangan dunia lainnya. Di dunia ini hal yang sangat kita sukai adalah harta dunia atau kesenangan dunia, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi kita selalu membayangkan dunia. Namun perlu diingat, saat berada di pengadilan akhirat, apakah harta dan kesenangan dunia bisa membantu kita? Nyatanya sungguh tidak mungkin. Kecuali harta yang di gunakan di jalan Alloh. Banin adalah permisalan keluarga kita. Keluarga yang kadang-kadang kita abaikan dan tidak kita perhatikan. Walaupun begitu keluarga akan tetap mengantar kita hingga di pintu gerbang pengadilan sejati, pemakaman.
Setelah sampai di pintu gerbang atau kubur maka keluarga pun akan pergi meninggalkan kita dalam kesendirian. Tsani, seorang teman yang tidak kita sukai itulah perumpamaan amal baik, amal saleh kita. Sholat Jama’ah yang jarang, salat tahajud yang dilakukan dengan malas, atau sadaqah karena ingin di lihat. Mereka itu, amalan yang jarang kita temui dan kita sapa. Mulai sekarang perbanyaklah bergaul dengan amalan kita agar ketika hari pengadilan itu tiba, amalan salih kita dapat membantu dan menemani dengan setia. Sungguh lakukan kebaikan sekarang juga, berat memang, susah pasti, tapi itu hanya di awal saja, ketika kita sudah rutin, maka ibadah itu akan terasa nikmat. Jangan sampai amalan kita datang dengan mengatakan, saya hanya akan membantumu dengan 1 kali witirmu, dengan sodaqohmu yang hanya 500 per pekan, atau saya akan membantumu dengan sepotong pakaian rombeng yang telah engkau berikan untuk fakir miskin.
“Hanya itu yang dapat saya bantu!” kata amalan kita, na’udzubillahi min dzalik. Jika sudah sedemikian maka siapapun pasti akan kecewa. Sesungguhnya seluruh manusia akan meyesal ketika berada di akhirat kelak, orang yang tidak pernah sedekah akan menyesal kenapa ia tidak bersedekah ketika hidup di dunia. Orang yang bersedekah pun akan menyesal mengapa yang ia sedekahkan hanya sedikit. Maka jangan sampai kita menjadi manusia paling menyesal di akhirat kelak. Mari perbanyak amal untuk menggapai kesenangan yang hakiki, kesenangan di akhirat. Inilah realita hidup kita, berarti kita harus menjadikan dunia ini sebagai kesenangan yang tidak pantas untuk di senangi kecuali senang berbuat amal soleh saja. “Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya atau anak yang shalih yang mendo’akannya”.( Hadits riwayat Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad)
Yang Tinggal dan Yang Meninggalkan.
23/04/12
Insan adalah seorang pemuda yang hidup dalam kesendirian. Ia terlahir sebatang kara, tidak mengetahui siapa bapak, ibu dan keluarganya. Atas izin Alloh SWT ia dapat bertahan hidup hingga saat ini.
Insan mempunyai tiga kawan. Mereka adalah Aman, Banin dan Tsani. Aman adalah kawan yang menyenangkan, sehingga ia sering membersamai Insan hampir disetiap kegiatan. Insan selalu mengajak Aman ketempat-tempat yang ia sukai. Insan dan Aman tinggal satu kost, sehingga dari bangun tidur hingga tidur lagi mereka selalu bertatap muka.
Hubungan mereka sudah bagaikan saudara. Berbeda dengan Banin, ia adalah orang yang sedikit pendiam, ia hanya akan berbicara jika ada yang mengajaknya bicara. Sehingga dalam benak insan, Banin adalah kawan yang biasa saja. Sedangkan terakhir Tsani, dalam pandangan insan adalah orang yang sangat menyebalkan, sehingga Insan tidak memperhatikan Tsani sedikitpun. Suatu saat Insan terlibat sebuah kasus yang mengharuskan Insan berurusan dengan pengadilan.
Ia sangat ketakutan, ia pun sibuk mecari bantuan kemana-mana. Orang yang pertama kali Insan mintai bantuan adalah Aman, tentu saja dia. Setalah Insan menjelaskan permasalahannya kepada Sahabat dekatnya itu, ia sangat yakin Aman mau membantunya. Ternyata tidak semua yang dia yakini itu benar. Insan sangat terkaget mendengar jawaban Aman. Aman mengatakan kepada Insan, Maaf saya tidak bisa membantumu, dan meninggalkan Insan tanpa simpati sedikitpun. Insan sangat menyesal, ia kecewa, ia menganggap Aman sebagai penghianat. Saat senang saja ia mau dekat, tapi di kala susah ia dengan teganya meninggalkannya.
Dengan masih diliputi ketidak percayaan terhadap Aman, Insan mencoba meminta pertolongan kepada temannya, Banin. Dengan sedikit malu bercampur harap ia mengutarakan apa yang sudah menimpa dirinya. Banin mengetahui betul apa yang dirasakan Insan, tapi karena keterbatasaannya, Banin hanya bisa membantu hanya sebatas mengantar sampai pengadilan, setelah itu Banin akan pulang. Walau sedikit kecewa Iman sudah sangat bersyukur, karena memang saat ini ia sudah tidak ada lagi uang, sehingga untuk mencapai pengadilan itu saja, Insan sudah cukup kerepotan. Banin yang pendiam itu menyarankan Insan agar meminta bantuan kepada teman terakhirnya Tsani, seorang teman yang jarang ia sapa terlebih ia kunjungi.
Dengan dipenuhi keraguan dan kekhawatiran, Insan memberanikan diri untuk menemui Tsani yang rumahnya tak jauh dari Rumah Banin. Sesampainya dirumah Tsani, ia melihat Tsani dalam keadan murung dan terlihat sedang ada masalah. Walau demikian ia tetap memberanikan diri untuk mengutarakan apa yang menimpa dirinya. Tak disangka sebelum Insan memberitahukan perihal yang sedang ia alami, Tsani memeluk Insan dengan sangat erat, matanya berkaca-kaca dan dari bibirnya yang bergetar, banin mengucapkan perkataan yang membuat Insan lunglai lemah.
“Saudaraku”, Kata Tsani, aku sudah tahu apa yang menimpa dirimu, aku sangat ingin membantumu dan kau tentu tahu aku sangat bisa membantumu karena Ayahku adalah seorang pengacara yang selalu memenangkan perkara. Tapi satu hal yang membuatku sedih dan mungkin akan membuatmu bertambah duka. Aku sudah menyampaikan perihal yang menimpamua kepada Ayahku, tapi ia mengatakan seandainya dulu Insan dekat dan berbuat baik kepadamu, Tsani, maka dengan senang hati aku akan membantu menyelesaikan kasusnya. Tapi Karena Insan adalah orang yang dulu menjauhimu, bahkan mengejekmu. Aku hanya bisa membantunya sebagaimana apa yang ia lakukan kepadamu. Penyesalan tinggalah penyesalan.
Insan sangat menyesali apa yang telah ia lakukan dulu, mengapa ia tidak berbuat baik kepada Tsani, terlebih teman yang selalu membersamainya, Aman telah menghianatinya. Insanpun akhirnya kalah dalam kasus tersebut dan ia harus menebus kesalahannya dengan dikurung dalam penjara.
*** *** ***
Bisa jadi Insan adalah potret sebagian besar dari kita. Di pengadilan dunia mungkin kita masih bisa selamat, tapi siapakah yang dapat menyelamatkan dari pengadilan akhirat yang siapapun tidak bisa menyuap hakimnya. Aman adalah simbol harta dan kesenangan dunia lainnya. Di dunia ini hal yang sangat kita sukai adalah harta dunia atau kesenangan dunia, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi kita selalu membayangkan dunia. Namun perlu diingat, saat berada di pengadilan akhirat, apakah harta dan kesenangan dunia bisa membantu kita? Nyatanya sungguh tidak mungkin. Kecuali harta yang di gunakan di jalan Alloh. Banin adalah permisalan keluarga kita. Keluarga yang kadang-kadang kita abaikan dan tidak kita perhatikan. Walaupun begitu keluarga akan tetap mengantar kita hingga di pintu gerbang pengadilan sejati, pemakaman.
Setelah sampai di pintu gerbang atau kubur maka keluarga pun akan pergi meninggalkan kita dalam kesendirian. Tsani, seorang teman yang tidak kita sukai itulah perumpamaan amal baik, amal saleh kita. Sholat Jama’ah yang jarang, salat tahajud yang dilakukan dengan malas, atau sadaqah karena ingin di lihat. Mereka itu, amalan yang jarang kita temui dan kita sapa. Mulai sekarang perbanyaklah bergaul dengan amalan kita agar ketika hari pengadilan itu tiba, amalan salih kita dapat membantu dan menemani dengan setia. Sungguh lakukan kebaikan sekarang juga, berat memang, susah pasti, tapi itu hanya di awal saja, ketika kita sudah rutin, maka ibadah itu akan terasa nikmat. Jangan sampai amalan kita datang dengan mengatakan, saya hanya akan membantumu dengan 1 kali witirmu, dengan sodaqohmu yang hanya 500 per pekan, atau saya akan membantumu dengan sepotong pakaian rombeng yang telah engkau berikan untuk fakir miskin.
“Hanya itu yang dapat saya bantu!” kata amalan kita, na’udzubillahi min dzalik. Jika sudah sedemikian maka siapapun pasti akan kecewa. Sesungguhnya seluruh manusia akan meyesal ketika berada di akhirat kelak, orang yang tidak pernah sedekah akan menyesal kenapa ia tidak bersedekah ketika hidup di dunia. Orang yang bersedekah pun akan menyesal mengapa yang ia sedekahkan hanya sedikit. Maka jangan sampai kita menjadi manusia paling menyesal di akhirat kelak. Mari perbanyak amal untuk menggapai kesenangan yang hakiki, kesenangan di akhirat. Inilah realita hidup kita, berarti kita harus menjadikan dunia ini sebagai kesenangan yang tidak pantas untuk di senangi kecuali senang berbuat amal soleh saja. “Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya atau anak yang shalih yang mendo’akannya”.( Hadits riwayat Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad)
4/14/2012
Galau, sebuah kata yang akhir-akhir ini nge-trend dikalangan remaja dan kaum muda di negeri ini. Kata yang menggambarkan suasana hati seseorang yang sedang kacau, bingung, resah, gelisah dan sedih. Merasa ada sesuatu yang ingin diutarakan namun belum tersampaikan, atau sesuatu yang ingin dilakukan namun belum terealisasikan. Apapun definisinya? Galau adalah sebuah penyikapan yang dilakukan oleh seseorang atas masalah yang menimpanya. Setiap orang memiliki masalah dengan kadar yang berbeda, perbedaan itu telah sedemikian sempurna hingga mustahil Allah memberikan masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh hambaNya. Allah menguji kita sesuai tingkat keimanan kita kepada-Nya. Ujian dari Allah bertujuan untuk membuktikan kebenaran keyakinan keimanan seseorang, apakah ia layak disebut orang beriman ataukan orang munafik yang hanya menampakkan zahirnya dan menyembunyikan batinnya.
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah: 155)
Berbagai cara dilakukan untuk menyelesaikan masalah ataupun kegalauan yang menimpa seseorang. Sebagaian besar memanfaatkan jejaring sosial sebagai media mempublikasikan kegalauannya. Mayoritas orang yang galau suka melebih-lebihkan masalah yang menimpanya. Hal yang mereka lakukan ini adalah bukti bahwa mereka adalah orang yang tak mampu menerima ujian yang menimpanya. Penyikapan seseorang atas masalah yang menimpanya menunjukkan tingkat pemahaman mereka terhadap masalah itu sendiri.
“Kepunyaan Allahlah apa yang ada di langit dan di bumi. Apabila kamu menampakkan atau menyembunyikan apa yang ada pada dirimu, maka Allah akan memperhitungkan kamu lantaran perbuatan itu. Lalu Dia mengampuni orang yang dikehendaki-Nya dan mengazab orang yang dikehendaki-Nya. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu” (QS Al Baqarah: 284)
Penggalau adalah sedikit orang yang tak mampu menyalurkan resah mereka dengan cara yang benar, padahal cukuplah Allah bagi kita, tidak ada Tuhan selain diriNya. Hanya kepadaNya kita bertawakkal..”
Status berisi keluhan, kegalauan, kebimbangan kadang ditulis dengan berlebihan, padahal mengeluh tidak menyelesaikan masalah yang menimpanya. Galau tidak memberikan solusi atas masalah seseorang. Galau hanya menambah beban bagi pelakunya. Kegalauan seseorang menunjukkan bahwa ia tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri, padahal Allah telah berjanji bahwa Allah SWT tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Penggalau adalah orang yang tak mampu menemukan solusi yang hakiki. Mereka mencari solusi pada tempat yang mustahil memberikan solusi. Padahal sudah jelas bahwa sabar dan shalat adalah sebaik-baik cara untuk mendapatkan solusi yang hakiki.
“Dan mintalah pertolongan kepada Allah dengan Sabar dan Sholat dan sesungguhnya Sholat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk” (QS Al Baqarah: 45)
Allah SWT adalah Rabb yang Maha Baik, maka apapun yang Dia tetapkan adalah kebaikan. Penggalau tak mampu memahami bahwa semua yang Allah tetapkan kepada makhluk-Nya adalah baik. Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.Orang yang galau adalah orang yang tak mampu mengetahui hakikat dari ujian yang menimpa dirinya padahal sungguh tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada diri kita melainkan telah tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuzh sebelum Allah SWT menciptakan kita. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
Orang-orang yang galau adalah orang yang belum mampu bersyukur, padahal sesungguhnya ujian dan cobaan, susah dan senang, gagal dan sukses semua adalah nikmat yang patut kita syukuri. Nikmat karena sungguh terdapat hikmah bagi orang-orang yang berfikir. Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusan adalah kebaikan baginya, dan hal ini tidak diberikan kepada seorangpun kecuali orang mukmin. Jika mendapat kesenangan ia bersyukur dan itu adalah baik baginya, dan jika ditimpa bencana maka ia selalu bersabar dan itu adalah baik baginya. Kesenangan, kesuksesan dan kenikmatan mengajarkan kita bagaimana bersyukur dan lebih memacu dalam berbuat kebaikan sehingga Allah pun menambahkan nikmat-Nya lebih banyak lagi. Sedangkan ujian, cobaan, kesusahan dan kegagalan akan membuat kita lebih berhati-hati dan merupakan sebuah peringatan dari Allah SWT agar tidak larut dalam kemaksiatan.
Penggalau adalah orang yang tak mampu memahami bahwa masalah yang menimpanya adalah ujian yang dapat meningkatkan derajatnya disisi Allah. Bagai seseorang yang akan naik kelas maka pasti akan diuji terlebih dahulu, jika ia mampu menyelesaikan ujian itu ia akan lulus, namun jika gagal maka ia akan tetap pada kelasnya. Begitupun ujian dalam kehidupan ini, berat dan ringannya ujian di sesuaikan dengan kedudukannya dihadapan Allah. Para nabi adalah orang yang paling banyak mendapat ujian. Seseorang diuji berdasar tingkat ketaatannya kepada Allah SWT. Jika ia adalah orang yang kuat agamanya, maka kuat pula ujian baginya. Bagai sebuah permisalan semakin tinggi pohon semakin besar angin yang menerpanya.
Orang yang sedang galau adalah orang yang tak mampu bersabar atas ujian dari Allah SWT. Merasa diri mereka sebagai orang yang paling menderita, mengumbar seakan-akan lemah tak berdaya. Padahal sesungguhnya musibah dan masalah adalah sarana untuk melatih kesabaran. Kita tidak akan dapat bertahan dalam sebuah kebaikan kecuali dengan bersabar. Kita tidak dapat mentaati Allah SWT dan menjauhi kebatilan kecuali dengan sabar. Surga adalah hadiah tertinggi bagi orang-orang yang sabar dalam ujian.Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaran kamu.
sumber :http://www.fimadani.com/galau-tanda-tak-mampu/
Galau Tanda Tak Mampu
14/04/12
Galau, sebuah kata yang akhir-akhir ini nge-trend dikalangan remaja dan kaum muda di negeri ini. Kata yang menggambarkan suasana hati seseorang yang sedang kacau, bingung, resah, gelisah dan sedih. Merasa ada sesuatu yang ingin diutarakan namun belum tersampaikan, atau sesuatu yang ingin dilakukan namun belum terealisasikan. Apapun definisinya? Galau adalah sebuah penyikapan yang dilakukan oleh seseorang atas masalah yang menimpanya. Setiap orang memiliki masalah dengan kadar yang berbeda, perbedaan itu telah sedemikian sempurna hingga mustahil Allah memberikan masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh hambaNya. Allah menguji kita sesuai tingkat keimanan kita kepada-Nya. Ujian dari Allah bertujuan untuk membuktikan kebenaran keyakinan keimanan seseorang, apakah ia layak disebut orang beriman ataukan orang munafik yang hanya menampakkan zahirnya dan menyembunyikan batinnya.
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah: 155)
Berbagai cara dilakukan untuk menyelesaikan masalah ataupun kegalauan yang menimpa seseorang. Sebagaian besar memanfaatkan jejaring sosial sebagai media mempublikasikan kegalauannya. Mayoritas orang yang galau suka melebih-lebihkan masalah yang menimpanya. Hal yang mereka lakukan ini adalah bukti bahwa mereka adalah orang yang tak mampu menerima ujian yang menimpanya. Penyikapan seseorang atas masalah yang menimpanya menunjukkan tingkat pemahaman mereka terhadap masalah itu sendiri.
“Kepunyaan Allahlah apa yang ada di langit dan di bumi. Apabila kamu menampakkan atau menyembunyikan apa yang ada pada dirimu, maka Allah akan memperhitungkan kamu lantaran perbuatan itu. Lalu Dia mengampuni orang yang dikehendaki-Nya dan mengazab orang yang dikehendaki-Nya. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu” (QS Al Baqarah: 284)
Penggalau adalah sedikit orang yang tak mampu menyalurkan resah mereka dengan cara yang benar, padahal cukuplah Allah bagi kita, tidak ada Tuhan selain diriNya. Hanya kepadaNya kita bertawakkal..”
Status berisi keluhan, kegalauan, kebimbangan kadang ditulis dengan berlebihan, padahal mengeluh tidak menyelesaikan masalah yang menimpanya. Galau tidak memberikan solusi atas masalah seseorang. Galau hanya menambah beban bagi pelakunya. Kegalauan seseorang menunjukkan bahwa ia tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri, padahal Allah telah berjanji bahwa Allah SWT tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Penggalau adalah orang yang tak mampu menemukan solusi yang hakiki. Mereka mencari solusi pada tempat yang mustahil memberikan solusi. Padahal sudah jelas bahwa sabar dan shalat adalah sebaik-baik cara untuk mendapatkan solusi yang hakiki.
“Dan mintalah pertolongan kepada Allah dengan Sabar dan Sholat dan sesungguhnya Sholat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk” (QS Al Baqarah: 45)
Allah SWT adalah Rabb yang Maha Baik, maka apapun yang Dia tetapkan adalah kebaikan. Penggalau tak mampu memahami bahwa semua yang Allah tetapkan kepada makhluk-Nya adalah baik. Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.Orang yang galau adalah orang yang tak mampu mengetahui hakikat dari ujian yang menimpa dirinya padahal sungguh tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada diri kita melainkan telah tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuzh sebelum Allah SWT menciptakan kita. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
Orang-orang yang galau adalah orang yang belum mampu bersyukur, padahal sesungguhnya ujian dan cobaan, susah dan senang, gagal dan sukses semua adalah nikmat yang patut kita syukuri. Nikmat karena sungguh terdapat hikmah bagi orang-orang yang berfikir. Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusan adalah kebaikan baginya, dan hal ini tidak diberikan kepada seorangpun kecuali orang mukmin. Jika mendapat kesenangan ia bersyukur dan itu adalah baik baginya, dan jika ditimpa bencana maka ia selalu bersabar dan itu adalah baik baginya. Kesenangan, kesuksesan dan kenikmatan mengajarkan kita bagaimana bersyukur dan lebih memacu dalam berbuat kebaikan sehingga Allah pun menambahkan nikmat-Nya lebih banyak lagi. Sedangkan ujian, cobaan, kesusahan dan kegagalan akan membuat kita lebih berhati-hati dan merupakan sebuah peringatan dari Allah SWT agar tidak larut dalam kemaksiatan.
Penggalau adalah orang yang tak mampu memahami bahwa masalah yang menimpanya adalah ujian yang dapat meningkatkan derajatnya disisi Allah. Bagai seseorang yang akan naik kelas maka pasti akan diuji terlebih dahulu, jika ia mampu menyelesaikan ujian itu ia akan lulus, namun jika gagal maka ia akan tetap pada kelasnya. Begitupun ujian dalam kehidupan ini, berat dan ringannya ujian di sesuaikan dengan kedudukannya dihadapan Allah. Para nabi adalah orang yang paling banyak mendapat ujian. Seseorang diuji berdasar tingkat ketaatannya kepada Allah SWT. Jika ia adalah orang yang kuat agamanya, maka kuat pula ujian baginya. Bagai sebuah permisalan semakin tinggi pohon semakin besar angin yang menerpanya.
Orang yang sedang galau adalah orang yang tak mampu bersabar atas ujian dari Allah SWT. Merasa diri mereka sebagai orang yang paling menderita, mengumbar seakan-akan lemah tak berdaya. Padahal sesungguhnya musibah dan masalah adalah sarana untuk melatih kesabaran. Kita tidak akan dapat bertahan dalam sebuah kebaikan kecuali dengan bersabar. Kita tidak dapat mentaati Allah SWT dan menjauhi kebatilan kecuali dengan sabar. Surga adalah hadiah tertinggi bagi orang-orang yang sabar dalam ujian.Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaran kamu.
sumber :http://www.fimadani.com/galau-tanda-tak-mampu/
Langganan:
Postingan (Atom)
Berita Terpopuler
-
Jakarta - Perwakilan fraksi PKS di DPR hari ini menyambangi kantor KPK dan menyerahkan Al Quran sebagai bentuk hadiah terkait peringatan ha...
-
Ini adalah sepenggalan singkat dialog Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan bersama AA Gym pada saat Ceramah Subuh on air MQ fm di Mesjid Daar...
-
Oleh : @Kaisar_el_rema Setelah dikejutkan besarnya demonstran pro-Mursi di depan Universitas Kairo, oposisi menyadari bahwa lambat tapi p...
-
Jakarta - PKS tak ingin ikut-ikutan mendesak Presiden SBY melakukan reshuffle sejumlah menteri. Namun PKS siap jika kehilangan menterinya, ...
-
Kamis (26/4/12), Wakil Ketua DPRD Kota Samarinda H.Sarwono,SP.MM mengadakan kegiatan Reses dan Silaturahim yang di hadiri begitu banyak war...
-
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Teguh Setiawan/Wartawan Senior Republika Orang-orang beriman dibimbing Alloh dari gelap menuju cahaya(Q.S. al-Baqo...
-
By: Nandang Burhanudin* NNM News memberitakan, pada saat ini (4/12), Presiden Moursi dievakuasi dari Istana kepresidenan setelah para dem...
-
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi III dari FPKS, Indra menyesalkan pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menyataka...
-
Wacana reshuffle kabinet mencuat seiring mundurnya Andi Mallarangeng dari jabatan menteri pemuda dan olah raga. Sebaiknya Presiden SBY foku...
-
Oleh Iman Sugema, Phd Analis ekonomi dan perbankan Akademisi yang meraih doktor bidang moneter dari ANU University Sesuai dengan jud...
DPW PKS KALTIM
Arsip Blog
-
▼
2012
(215)
-
▼
12/09 - 12/16
(9)
- Siapa Menyulut Api di Istana Ittihadiyah?
- Kisah Siti, Dina dan Umi : Reloaded
- Politisi PKS: Pidato SBY Bisa Bahayakan Pemberanta...
- Dikado Alquran oleh PKS, KPK: Ini Gratifikasi Tapi...
- PKS: Kami Siap di Dalam dan di Luar Kabinet
- Anis Matta : Inspirasi dari kisah Nabi Yusuf, Nabi...
- Dipimpin Hidayat Nurwahid F-PKS Datangi KPK Beri D...
- PKS: Ide Reshuffle Hanya Pengalihan Isu Maraknya K...
- AS dan Zionis Dibelakang Demo Anti Mursi? | Bocora...
- ► 12/02 - 12/09 (6)
- ► 11/25 - 12/02 (2)
- ► 11/18 - 11/25 (4)
- ► 05/20 - 05/27 (4)
- ► 05/06 - 05/13 (8)
- ► 04/29 - 05/06 (3)
- ► 04/22 - 04/29 (19)
- ► 04/15 - 04/22 (14)
- ► 04/08 - 04/15 (13)
- ► 04/01 - 04/08 (19)
- ► 03/25 - 04/01 (11)
- ► 03/18 - 03/25 (16)
- ► 03/11 - 03/18 (29)
- ► 03/04 - 03/11 (55)
- ► 02/26 - 03/04 (3)
-
▼
12/09 - 12/16
(9)
-
►
2011
(4)
- ► 07/24 - 07/31 (3)
- ► 07/17 - 07/24 (1)
Tahukah Kita
Renungan & Hikmah
Bidpuan DPC ULU
Dapur Bidpuan Samarinda Ulu




