NEWS UPDATE :
BERITA TERKINI :

Berita Terbaru

Berita Terhangat

DPD PKS Samarinda

Fiqh & Syariah

Keluarga Sakinah

Kiprah DPC Samarinda Ulu

DPRD Provinsi KALTIM

Tausiyah dari Ustadz Kita

Opini Kiriman Pembaca

Kolom Kesehatan ( Akh Haris )

Blog PKS Samarinda Ulu, Hanya Blog biasa dan Sederhana tapi tetap bersemangat memberi informasi kepada para pembaca

17/03/12


Blog DPC Ulu baru dua bulan lebih aktif menyajikan berbagai informasi. sebulan masa penyusunan tanpa memasang alat penghitung pengunjung. dan sebulan dengan alat menghitung lama, dan baru seminggu ini ditambahkan alat penghitung pengunjung versi lain di kolom sebelah kiri. hasilnya memberikan harapan kepada kami untuk terus melanjutkan pengelolaan blog kecil ini.

Melalui catatan Statistik pada Dasbor Blog ini dari awal blog ini dibuat sampai sekarang (17/3/12) tercatat pengunjung tertinggi dari INDONESIA sebanyak 911 pemirsa ( berbeda dengan alat penghitung pengunjung karena alat tersebut baru saja di pasang). Pengunjung tertinggi kedua dari United State ( Amerika serikat ) sebanyak 90 Pemirsa. sisanya 45 pemirsa tersebar di Australia, jepang, kanada dan mesir.

Sedangkan penayangan menurut sistem informasi adalah: pemirsa yang menggunakan Windows 916 pemirsa, Blacberry 37 pemirsa, Linux 4 pemirsa, Nokia 3 pemirsa, iPad 2 Pemirsa. Dan sisanya terbagi lagi menjadi beberapa media.

Tentu ini awal yang baik. Blog ini di kelola satu orang admin (Sarjana Komputer) yang dengan ikhlas tanpa kompensasi mengelola blog ini. Setiap hari kami berharap dapat mencari berita dari situs-situs terpercaya dan berita-berita PKS terbaru. Kami juga menunggu kiriman berita dari kader, pengurus PKS, anggota DPRD Kab/Kota maupun Provinsi Di seluruh kalimantan Timur melalui email : ulu.hatiku@gmail.com.

Ketua DPC PKS Samarinda Ulu saat di tanya latar belakang pembuatan blog DPC menyatakan; "Di Kota-kota besar termasuk Samarinda, 10 tahun yang akan datang akan terjadi pergeseran minat membaca berita dari koran ke media on line (walau porsentasinya tidak besar). Tentu kita tidak ingin baru membuatkan 10 tahun yang akan datang. maka kita harus menyiapkan bibitnya sekarang. bibit itu sekarang adalah blog kita."Pungkas Bang Sani.

Semoga Blog ini bisa bertahan dan istiqomah. Dan harapannya seluruh sahabat/kawan/pengunjung dapat mendukung usaha kecil kami dengan sering mengunjungi blog sederhana ini. Kami pun akan selalu berusaha menyajikan berita-berita terbaru, InsyaAllah.

Ahmad Abdullah Pimpin Komisi IV


SAMARINDA. Politisi Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS), Ahmad Abdullah, terpilih sebagai Ketua Komisi IV DPRD Kaltim melalui pemungutan suara tertutup,senin 13 februari 2012.
Dalam pemilihan di ruang Komisi IV yang dipimpin Wakil Ketua DPRD Kaltim, H Hadi Mulyadi, paket yang terdiri atas Ahmad Abdullah (FPKS/Ketua), Hj Encik Widyani (Fraksi Partai Golkar/Wakil Ketua) dan Mudiyat Noor (Fraksi Partai Hanura - PDS/Sekretaris) berhasil meraih enam suara, unggul atas paket Hj Puji Astuti (Fraksi Partai Demokrat/Ketua), Maria Margaretha Rini Puspa (Fraksi Partai Hanura - PDS/Wakil Ketua) dan Mudiyat Noor (Fraksi Partai Hanura - PDS/Sekretaris) yang mendapatkan empat suara. Sedangkan satu suara sisanya abstain.



Dari 12 anggota Komisi IV, hanya 11 orang yang melakukan pemilihan karena satu anggota, yakni Yakob Ukung berhalangan hadir. Mereka yang menggunakan hak suara adalah Hj Encik Widyani SJ SKM MQih (Fraksi Partai Golkar), H Abdul Djalil Fatah SH (Fraksi Partai Golkar), Dra Hj Puji Astuti (Fraksi Partai Demokrat), H Datu Yasir Arafat (Fraksi PDIP), Ir H Ahmad Abdullah MPd (Fraksi PKS), Lelyanti Ilyas SPdi (Fraksi PKS), Masitah SSos (Fraksi PPP), Zain Taufik Nurrohman SHut (Fraksi PAN), Mudiyat Noor SHut (Fraksi Partai Hanura -PDS), Maria Margaretha Rini Puspa (Fraksi Partai Hanura - PDS) dan Drs HA Waris Husain (Fraksi Patriot Bintang Demokrasi).

"Pimpinan Komisi IV telah terpilih, siapa pun ketuanya semoga Komisi IV tetap rukun, saling berkerja sama dan berbuat maksimal demi kesejahteraan rakyat," kata Wakil Ketua DPRD Kaltim, H Hadi Mulyadi.

Meskipun sebelumnya ada persaingan dalam pemilihan, namun semua anggota Komisi IV yang hadir tampak akrab satu sama lain. Ketua Komisi IV terpilih, Ahmad Abdullah, memohon dukungan dari seluruh koleganya di komisi yang membidangi kesejahteraan rakyat tersebut.

"Jabatan ketua ini adalah amanah yang berat. Mohon dukungan dan bantuan dari seluruh rekan di Komisi IV agar saya dapat menjalankan amanah tersebut dengan baik," kata Ahmad Abdullah.

DPRD Kaltim melaksanakan pemilihan pimpinan alat-alat kelengkapan dewan menyusul pengesahan penempatan anggota delapan fraksi pada alat-alat kelengkapan DPRD dalam rapat paripurna.

Mekanisme ini juga sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Peraturan DPRD tentang Tata tertib DPRD dan Keputusan DPRD No. 28 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Keputusan DPRD Provinsi Kalimantan Timur No. 06 Tahun 2010 tentang Peraturan Tata Tertib DPRD Provinsi Kalimantan Timur, di mana pada 2,5 tahun periode jabatan dilaksanakan penempatan/perpindahan anggota DPRD pada alat-alat kelengkapan dewan yang terdiri atas Komisi, Badan Anggaran, Badan Musyawarah, Badan Legislasi Daerah dan Panitia Teknis Pemilihan Anggota Badan Kehormatan (BK). (hms3)

sumber : http://dprd-kaltimprov.go.id/berita/517/ahmad-abdullah-pimpin-komisi-iv.html

Heryawan Ingin Wujudkan Jabar Provinsi Teraman


Bandung - Gubernur Jabar Ahmad Heryawan memberikan apresiasi terhadap komitmen Forum Ormas Jabar yang menolak semua bentuk terorisme, radikalisme, dan separtisme.

Komitmen itu, katanya, sejalan dengan misi Pemprov yang ingin mewujudkan Jawa Barat sebagai provinsi teraman di Indonesia.

“Saya apresiasi dengan apa yang dilakukan forum ormas hari ini. Komitmen ini sebagai perwujudan kepedulian elemen masyarakat terhadap daerahnya sendiri. Insya Allah dengan tekad bersama, kita akan wujudkan Jabar sebagai provinsi paling aman dan damai di Indonesia,” kata Heryawan usai memimpin apel Forum Ormas Jabar di Lapangan gasibu Jalan Diponegoro Kota Bandung, Sabtu (17/3/2012).

Heryawan berharap, deklarasi pernyataan sikap Forum Ormas Jabar akan membuat setiap jengkal wilayah Jabar benar-benar kondusif. Bahkan tujuan Jabar sebaga provinsi teraman dan terdamai di Indonesia bakal terwujud.

“Kita sepakat menolak segala bentuk terorisme, radikalisme dan separatisme yang merongrong kondusivitas negara karena merupakan kejahatan kemanusiaan,” paparnya.



Ormas se-Jabar Nyatakan Perang Terhadap Terorisme-Radikalisme-Separatisme

Ratusan massa yang tergabung dalam Forum Organisasi Masyarakat dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) se-Jabar membubuhkan tanda tangan di atas kain sepanjang 1.000 meter sebagai komitmen menolak terorisme, radikalisme, dan separatisme.

Penandatanganan bersama itu dilakukan usai pelaksanaan apel besar Forum Ormas Jabar di Lapangan Gasibu Jalan Diponegoro Kota Bandung, Sabtu (17/3/2012).

Penandatanganan diawali oleh Gubernur Jabar Ahmad Heryawan yang memimpin apel itu, lalu diikuti anggota Forum Ormas.

Koordinator Forum Ormas Jabar Hendra mengatakan Forum Ormas Jabar juga akan melakukan koordinasi dan melapor ke instansi berwenang dan terkait jika melihat atau mendengar indikasi aktivitas radikalisme, terorisme, dan separatisme.

“Forum Ormas Jabar bertekad ikut serta menjaga dan memelihara keamanan dari gangguan dan ancaman. Kita akan lakukan koordinasi dan melaporkan kepada pihak berwenang jika mendengar atau melihat tindakan berbau terorisme, radikalisme, dan separatisme,” tegasnya.

Sementara itu, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan memberikan apresiasi terhadap komitmen Forum Ormas Jabar yang menolak semua bentuk terorisme, radikalisme, dan separtisme. Komitmen itu sejalan dengan misi Pemprov Jabar yang ingin mewujudkan sebagai provinsi teraman di Indonesia.

“Saya apresiasi dengan apa yang dilakukan Forum Ormas hari ini. Komitmen ini sebagai perwujudan kepedulian elemen masyarakat terhadap daerahnya sendiri. Insya Allah dengan tekad bersama, kita akan wujudkan Jabar sebagai provinsi paling aman dan damai di Indonesia,” kata Heryawan.(inilah.com)

Mewaspadai Penyakit Miopi dalam Pergerakan Dakwah

16/03/12


Oleh: Cahyadi Takariawan


"Salah satu penyakit yang berbahaya dalam pergerakan dakwah adalah Miopi Dakwah. Penyakit ini dapat menyebabkan gerakan dakwah kehilangan arah, karena hanya disibukkan oleh hal-hal yang bersifat praktis dan kekinian. Aktivis dakwah sangat sibuk, menyita seluruh waktu dan perhatian, namun seluruhnya hanya terkait dengan menjawab persoalan dan target sesaat, karena tidak mampu melihat jarak jauh."
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Menurut Wikipedia, miopi (dari bahasa Yunani : myopia, penglihatan-dekat) atau rabun jauh adalah sebuah kerusakan refraktif mata dimana citra yang dihasilkan berada di depan retina ketika akomodasi dalam keadaan santai. Penyakit ini menyebabkan seseorang hanya mampu melihat obyek dalam jarak dekat, dan tidak dapat melihat dalam jarak jauh.

Penyebab miopi dapat bersifat keturunan (herediter), ketegangan visual atau faktor lingkungan. Faktor herediter pada miopi pengaruhnya lebih kecil dari faktor ketegangan visual. Terjadinya miopi lebih dipengaruhi oleh bagaimana seseorang menggunakan penglihatannya, seperti seseorang yang lebih banyak menghabiskan waktu di depan komputer atau televisi, atau seseorang yang menghabiskan banyak waktunya dengan melihat obyek dekat tanpa istirahat.

Faktor lingkungan juga dapat memengaruhi misalnya pada rabun malam yang disebabkan oleh kesulitan mata untuk memfokuskan cahaya dan membesarnya pupil, keduanya karena kurangnya cahaya, menyebabkan cahaya yang masuk ke dalam mata tidak difokuskan dengan baik.

Dapat juga terjadi keadaan pseudo-miopi atau miopi palsu disebabkan ketegangan mata karena melakukan kerja jarak dekat dalam waktu yang lama. Penglihatan mata akan pulih setelah mata diistirahatkan.

Miopi bisa disembuhkan dengan beberapa model terapi. Pemakaian lensa kontak kacamata dengan lensa sferis negatif merupakan pilihan utama untuk mengembalikan penglihatan. Beberapa tindakan bedah juga dapat dilakukan seperti photorefractive keratectomy (PRK) atau laser assisted in-situ keratomileusis (LASIK). Dapat juga dilakukan orthokeratologi atau terapi penglihatan (vision therapy).




Miopi Dakwah


Salah satu penyakit yang berbahaya dalam pergerakan dakwah adalah Miopi Dakwah. Penyakit ini dapat menyebabkan gerakan dakwah kehilangan arah, karena hanya disibukkan oleh hal-hal yang bersifat praktis dan kekinian. Aktivis dakwah sangat sibuk, menyita seluruh waktu dan perhatian, namun seluruhnya hanya terkait dengan menjawab persoalan dan target sesaat, karena tidak mampu melihat jarak jauh.

Angka-angka, hitungan bilangan, posisi dan kedudukan, memang penting dan diperlukan dalam perjalanan dakwah. Seperti misalnya menetapkan target peningkatan jumlah kader, “bertambahnya satu juta kader pada tahun 2012”. Atau menetapkan target politik, “menjadi tiga besar pemenang Pemilu nasional”. Atau menetapkan target dalam Pilkada, “memenangkan Pilkada provinsi”. Semua target itu penting, dan harus diusahakan dengan sekuat kemampuan untuk mencapainya.

Ada pula yang hanya bercorak lima tahunan, sesuai ritme dan ritual demokrasi. Mereka hanya berbicara apa target 2014, menghitung hari menuju rivalitas politik di tahun 2014, menghitung resources yang diperlukan untuk memenangkan pertempuran politik di 2014. Tentu saja ini sebuah keharusan untuk menang, namun tidak boleh terjebak hanya berhitung pada waktu yang sangat pendek, 2014 saja. Seakan itu adalah segalanya, tanpa melihat ada hal yang di balik angka dan target kemenangan politik tersebut.

Jangan sampai gerakan dakwah hanya berhenti pada pencapaian target-target bilangan dan posisi “sesaat” tersebut. Karena ada hal yang sangat penting, untuk apa satu juta kader baru tersebut ? Akan diarahkan kemana potensi mereka ? Bagaimana pula dengan penataan kader-kader lama? Bagaimana mengoptimalkan potensi kader yang sangat beragam jenis dan kondisinya?





Menjadi pemenang Pemilu dan Pilkada tentu sangat penting, namun ada hal yang sangat penting, bagaimana mengelola kemenangan Pemilu? Bagaimana mengelola kemenangan Pilkada? Apa korelasi kemenangan Pemilu dengan penguatan dakwah? Apa korelasi kemenangan Pilkada dengan pengokohan kader dan struktur dakwah? Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang harus dijawab, setelah target-target angka dan kedudukan tersebut tercapai.



Gejala Miopi Dakwah

Ketika saya menulis tentang bahaya miopi dakwah ini, bukan berarti bahwa kita sudah terkena atau terjangkiti. Ini adalah sebuah peringatan dini dan sebuah upaya menjaga orisinalitas dakwah yang sangat kita cintai, agar tidak terjatuh ke dalam penyakit miopi yang bisa menghancurkan dakwah. Jadi, ini lebih merupakan sebuah tindakan pencegahan sebelum terjadinya hal yang tidk diinginkan.

Para pemimpin gerakan dakwah dan para aktivis harus mewaspadai berjangkitnya penyakit miopi dalam menjalankan agenda dakwah. Di antara gejala Miopi Dakwah adalah:



1. Kehilangan Visi

Visi (vision) merupakan ungkapan yang menyatakan cita-cita atau impian (want to be) yang ingin dicapai di masa depan. Visi memberikan pernyataan tentang tujuan akhir dari perjalanan kehidupan pribadi atau organisasi. Visi adalah pernyataan luhur tentang cita-cita yang hendak dicapai. Bisa dalam bentuk visi pribadi, visi keluarga, visi organisasi, bahkan visi negara. Visi menjadi penunjuk arah yang pasti, ke mana langkah mesti diarahkan. Visi menjadi pemandu perjalanan dalam kehidupan pribadi, keluarga, organisasi dan negara.





Maka, gerakan dakwah harus memiliki visi yang jelas dalam sepanjang perjalanannya. Semakin jelas dan kuat visi yang dimiliki gerakan dakwah, akan semakin jelas dan kuat pula pilihan jalan yang harus dilalui. Semakin jelas pula gerakan dakwah memandang dan mendefinisikan penyimpangan yang terjadi. Semakin lemah visi, semakin kabur pula pandangan tentang tujuan, sehingga memudahkan terjatuh ke dalam penyimpangan.

Organisasi yang tidak memiliki visi, atau kehilangan visi, akan membuat perjalanannya mengalir begitu saja, terbang bersama angin yang berhembus. Menuju apapun, dimanapun, entah namanya apapun. Lalu kapan dakwah akan sampai tujuan, sementara tidak pernah mendefinisikan tujuan akhir ? Gerakan dakwah melakukan pemborosan potensi, karena kegiatan yang dilakukan tidak mengarah kepada suatu visi yang jelas.

Dalam pergerakan dakwah, pada awalnya visi telah ditetapkan dengan sangat kuat. Namun saat berada dalam perjalanan, bertemulah dengan berbagai macam jenis godaan. Tidak seluruh godaan itu pahit, bahkan sebagian dari godaan itu bercorak sangat menarik. Jika gerakan dakwah tergoda untuk mengejar target-target sesaat semata, akan menyebabkan pelemahan visi, bahkan dalam jangka waktu lama, bisa terjatuh ke dalam kehilangan visi.

Begitu terjadi pelemahan visi, maka semua pandangan dan perhatian hanya akan terfokus menatap jarak dekat. Gerakan dakwah jatuh dalam penyakit rabun jauh yang sangat membahayakan. Seluruh aktivitas yang dilakukan, terlepas dari bingkai visi yang telah dicanangkan dari awal. Miopi bisa menghinggapi gerakan dakwah, sehingga tidak mampu menatap visi yang sesungguhnya sudah ditetapkan dengan jelas.



2. Tidak Memiliki Rencana Strategis (Renstra)

Rencana Strategis (Renstra) dibuat oleh organisasi dan lembaga untuk menyongsong visi masa depan seperti yang dicita-citakan. Ada profil ideal yang jelas, kondisi seperti apa yang ingin diwujudkan duapuluh tahun ke depan, atau limapuluh tahun ke depan, atau bahkan seratus tahun ke depan. Dari profil ideal tersebut, pergerakan dakwah kemudian menterjemahkan ke dalam sejumlah rencana strategis jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek.




Ada sangat banyak metodologi untuk membuat dan menetapkan renstra. Ilmu manajemen organisasi sudah sangat berkembang, sehingga banyak pilihan teori dan metodologi pembuatan renstra. Tentu saja semua pilihan itu bersifat ijtihad yang perlu diuji kesahihannya di lapangan, dan tidak ada satupun yang terbebas dari kekurangan. Namun, menggunakan sebuah metodologi tertentu akan memudahkan gerakan dakwah membuat, menetapkan, mengimplementasikan serta mengevaluasi renstra.

Mungkin bagi sebagian kalangan aktivis, membuat renstra itu pekerjaan “berat” yang tidak menyenangkan. Karena harus mengumpulkan berbagai data, harus “melukis” gambaran ideal masa depan, pada kurun waktu duapuluh tahun ke atas. Beberapa kalangan aktivis bahkan menganggap renstra sebagai momok yang harus dihindari, karena membuat kepala pusing saat membuat. Gejala ini menandakan miopi sudah menghinggapi mereka, karena terlalu lama menatap obyek dekat yang memikat.

Saya sangat miris melihat gerakan dakwah yang berjalan tanpa renstra. Karena jika berjalan tanpa renstra, pasti hanya melaksanakan agenda-agenda rutin yang menjebak, dan melaksanakan rencana sesaat sebagai reaksi atas situasi dan kondisi sekitar. Untuk sekedar menang pada tahun 2014 memang tidak memerlukan renstra, karena program yang bercorak praktis saja bisa membuahkan kemenangan. Namun kemenangan dakwah bukan hanya tahunan, yang diinginkan adalah tertanamnya nilai kebaikan secara kokoh pada berbagai sisi kehidupan.


3. Tidak Memiliki Program Jangka Panjang

Visi dakwah direalisasikan dengan pembuatan rencana strategis, sedangkan renstra diwujudkan secara lebih membumi dalam bentuk Program Jangka Panjang (PJP). Jika sudah kehilangan visi, menyebabkan gerakan dakwah gagal menyusun renstra, dan akhirnya tidak memiliki PJP. Ini adalah konsekuensi logis yang sambung menyambung, karena PJP diturunkan dari renstra dan renstra diturunkan dari visi.

Merekrut kader dalam jangka waktu tertentu dan jumlah tertentu adalah program jangka pendek. Memenangkan Pemilu 2014 adalah program jangka pendek. Memenangkan pilkada adalah program jangka pendek. Karena terbatas oleh waktu yang sangat pendek, dan sering memaksa mengeluarkan resources yang luar biasa besarnya.


Di antara program jangka panjang adalah pendidikan dan pembinaan kader sesuai potensi yang dimilikinya, serta menyiapkan lahan aktivitas bagi para kader sesuai dengan kepentingan dakwah dalam jangka panjang. Mengelola negara memerlukan banyak potensi, keahlian, dan harus menyiapkan sejumlah persyaratan formal sesuai ketentuan. Untuk sukses mengelola negara dan pemerintahan, tidak cukup dicapai dengan memenangkan pemilu dan pilkada.

Kadang program jangka panjang ini kurang menarik dan dianggap kurang menantang. Lebih menarik dan lebih menantang sesuatu yang jelas di depan mata, seperti pertempuran politik dalam pemilu dan pilkada. Adapun penyiapan berbagai potensi untuk menyongsong kemenangan jangka panjang, dianggap sebagai sesuatu yang “ngawang-awang” atau utopis. Minimalnya dianggap sebagai “bisa ditunda” dan berkategori “tidak mendesak”, dengan alasan “kita berjamaah masih lama”.


4. Gerakan Dakwah Menyempit pada Satu Sektor

Salah satu gejala miopi adalah menyempitnya perhatian gerakan dakwah kepada satu sektor saja dengan mengabaikan sektor lainnya. Sebagai contoh gerakan dakwah disempitkan hanya pada sektor tarbiyah atau pembinaan saja, seakan-akan dakwah hanya mengurus pembinaan sumber daya manusia. Seakan-akan dakwah hanya urusan mengaji dan membina diri menjadi pribadi salih. Padahal dakwah itu adalah upaya menebarkan nilai-nilai kebajikan dalam seluruh sisi dan dimensi kehidupan, bukan hanya pribadi, tapi juga keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Bukan hanya individu, namun juga sistem.

Contoh lainnya, gerakan dakwah diseret mengikuti ritme politik praktis, sehingga menyempitkan pandangan hanya pada urusan politik saja. Seakan-akan harus menang mutlak sekarang, harus menguasai kemenangan pilkada di berbagai propinsi, kabupaten dan kota sekarang, harus unggul dalam pemilihan umum legislatif sekarang, dan seterusnya. Seakan-akan kalau tidak menang dalam rivalitas politik sekarang, dakwah akan hancur selama-lamanya. Inilah gejala miopi dakwah yang membahayakan, karena hanya mengurus politik saja dengan mengabaikan sisi-sisi strategis lainnya.


Jika gerakan dakwah menyempit hanya fokus pada satu sisi saja, berarti telah melawan fitrah dakwah yang bersifat utuh menyeluruh. Doktrin pemahaman dakwah yang dibangun selama ini bisa runtuh, karena dakwah tidak menyentuh seluruh sisi kehidupan, namun hanya satu sisi saja dengan meninggalkan lainnya.


5. Mengabaikan Aset Masa Depan Gerakan

Jika gerakan dakwah hanya fokus kepada satu sisi saja, berdampak mengabaikan banyak aset masa depan. Kader-kader dakwah yang tersebar di berbagai wilayah dan pelosok-pelosok daerah, memiliki potensi yang sangat beragam. Mereka adalah aset masa depan pergerakan yang tidak ternilai harganya. Kesetiaan, pengorbanan, perjuangan yang telah mereka lakukan setiap hari setiap saat, sungguh tidak dapat dinilai dengan materi.

Sebagai contoh, jika dakwah hanya fokus pada sisi tarbiyah, maka sekian banyak potensi akan termubadzirkan karena tidak memiliki saluran berkegiatan. Hanya para ustadz dan para kader yang berlatar belakang pendidikan serta pembinaan akan terserap dalam program-program tarbiyah, sementara kader yang memiliki potensi ekonomi, politik, budaya dan lain sebagainya akan terabaikan.

Demikian pula jika dakwah menyempit hanya fokus mengurus politik, akan menyebabkan sekian banyak kader yang tidak memiliki minat dan peluang politik menjadi terbengkelai. Mereka terdiri dari kader yang berpotensi dan berdedikasi tinggi, namun tidak bisa terlibat dalam kancah politik praktis dengan berbagai alasan. Akhirnya mereka menjadi “pengangguran” di jalan dakwah, karena potensinya tidak tersalurkan. Padahal merekalah yang sangat diperlukan dalam menyusun kemenangan dakwah.





Langkah Terapi

Sebagaimana miopi pada umumnya, miopi dakwah juga bisa disembuhkan dengan serangkaian terapi. Yang paling sederhana adalah pemakaian “lensa sferis negatif” untuk mengembalikan penglihatan jarak jauh. Tindakan “bedah mata” juga dapat dilakukan seperti model photorefractive keratectomy (PRK) atau laser assisted in-situ keratomileusis (LASIK). Dapat juga dilakukan orthokeratologi atau terapi penglihatan (vision therapy).


Dalam konteks miopi dakwah diperlukan langkah terapi yang menyeluruh. Bukan sekedar menggunakan lensa sferis negatif atau bedah mata dan terapi penglihatan. Miopi dakwah tidak sekedar urusan mata fisik, namun mata hati, bashirah dan ruhaniyah. Dengan demikian terapinya pun memerlukan sentuhan yang menyeluruh, baik secara ruhiyah, fikriyah maupun idariyah (manajemen).

Kita mulai dari pembersihan jiwa yang kontinyu. Aktivis dakwah tidak boleh terbelenggu oleh motivasi duniawi, karena itu yang mengotori hati. Bersihkan jiwa dengan kemurnian penghambaan kepada Allah. Kemudian mencerahkan pemikiran, menajamkan konsep pergerakan. Kita bergerak berdasarkan visi yang jelas, dipandu oleh rencana strategis yang jelas, dan mengemban program jangka panjang yang jelas. Ditindaklanjuti dengan perbaikan manajerial, agar mampu mengoptimalkan semua potensi kader dengan penataan yang serasi dan seimbang.

Semoga Allah membimbing langkah dakwah kita, dan menjauhkan kita dari miopi dakwah. Amin.

KulTwit @SalimAfillah : Ayat-Ayat #Semut


Salim A. Fillah
Muwajih Nasional DPP PKS
Pembina Majelis Jejak Nabi Masjid Jogokariyan Jogja





1.Di antara ucapan paling menakjubkan ialah kata-kata seekor #semut ketika bala tentara Sulaiman yang agung merambah negerinya.


2.Bala tentara jin, insan, burung, & hewan tertata rapi dalam barisan {QS 27: 17}, lalu ayat ke-18 mengabadikan ucap si #semut.


3."Wahai para #semut; masuklah ke dalam rumah tinggal kalian; agar Sulaiman & pasukannya tak menginjak kalian sedang mereka tak menyadari."


4.Sungguh berlimpah pelajaran dari kata-kata sang #semut ini. Pertama; ucapan indah ini ditujukan untuk menyelamatkan kaumnya.


5.Ucapan yang bertujuan menyelamatkan kehidupan sangat mahal nilainya. Mari kita berlatih untuk bicara hal sedemikian.


6.Seorang muslim bicara hal yang baik; benar isinya, indah caranya, tepat waktunya, bermanfaat, & berpahala. Atau diam.


7.Atau setidaknya; selamatkan sesama dari gangguan tangan & lisan kita. Mari bicara mulia, menjaga jiwa, menyelamatkan hidup.


8.Pelajaran ke-2; Yang hendak diselamatkan #semut adalah sesama semut; yang andaipun mati, tiada kan mempertanggungjawabkan 'amal.


9.Kalimat #semut menyelamatkan semut ini dimuliakan Al Quran. Maka betapa lebih mulia lagi kalimat manusia tuk selamatkan manusia.


10.Sebab hidup #semut hanya soal hajat; sedang hidup manusia adalah soal amanah ibadah yang kan dipertanggungjawabkan dengan rinci.


11.Pelajaran ke-3; ucapan #semut ditujukan untuk menyelamatkan hidup kawan-kawannya di dunia. Ini mulia & Allah mengabadikannya.


12.Maka alangkah lebih mulia lagi tiap ucapan manusia yang ditujukan untuk menyelamatkan sesama di kehidupan akhiratnya.


13.Inilah dakwah; ucapan yang merayu-rayu sesama tuk ber-ihsan dalam 'amal & ber-ikhlas dalam hati; mengesakan Allah.


14.Pelajaran ke-4; #semut pemimpin itu mengatakan, "..Masuklah kalian ke dalam rumah tinggal (maskanah~>masakin) kalian.."


15.Berkata @dr_almuqbil; Hatta #semut-pun memiliki tempat berdiam & berlindung bagi yang dipimpinnya. Maka hendaklah demikian..


16...tiap insan berusaha agar mampu menyediakan tempat berteduh & bernaung bagi mereka yang ada dalam tanggungjawabnya.


17.Sebab bagi insan beriman; rumah bukan cuma tempat tinggal; ia juga tempat menyembah Allah, membina keluarga, & menanamkan tauhid.


18.Firman Allah; "Dan Kami wahyukan kepada Musa & saudaranya, 'Ambillah olehmu berdua beberapa rumah di Mesir untuk tempat tinggal..


19...bagi kaummu. Jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat & dirikanlah olehmu sembahyang serta gembirakanlah..


20...orang-orang yang beriman." {QS 10: 87}. #Semut berlindung bagi hidup di bumi; insan mengguna rumahnya bagi hayat dunia-akhirat.


21.Pelajaran ke-5 dari ucapan #semut ialah prasangka baik. Simaklah kalimat, "..Agar Sulaiman & pasukannya tak menginjak kalian..


22...sedang MEREKA TAK MENYADARINYA" {QS 27: 18}. Alangkah mulia si #semut yang berprasangka baik bahwa jikapun mereka terinjak..


23...pastilah itu tanpa sengaja; sebab Sulaiman & bala tentaranya tak menyadari kehadiran para #semut di bawah kaki mereka.


24.Betapa jelita prasangka baik pada sesama hamba Allah; sebab buruk sangka pada saudara hakikatnya adalah menuduh diri sendiri.


25.Yakni; membayangkan bahwa seandainya kita berada di posisi beliau; kita akan melakukan hal buruk yang kita tuduhkan.


*https://twitter.com/#!/salimafillah

PKS Dukung Pemotongan dan Efisiensi Anggaran


JAKARTA- Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), M Sohibul Iman menyatakan apresiasinya terhadap pemotongan anggaran yang dilakukan pemerintah. Kebijakan pemerintah tersebut dinilainya sebagai efisiensi anggaran. "Kami mendukung upaya pemerintah untuk melakukan pemotongan anggaran dalam rangka efisiensi anggaran," kata Iman.

Namun, kata Iman, pemotongan anggaran yang dilakukan pemerintah ini jangan sampai menjadi penghambat bagi pertumbuhan industri. Target pertumbuhan industri sebesar 7 persen harus tercapai sepanjang tahun 2012.

"Industri dalam negeri harus selalu didukung oleh pemerintah, salah satunya dengan alokasi anggaran yang tepat," lanjut Iman. Iman juga menyambut baik upaya pemerintah untuk mempertahankan beberapa program pengembangan industri pengolahan rotan dan kakao di Sulawesi Barat, pembangunan tangki timbun minyak kelapa sawit di Kalimantan Timur dan kegiatan dekonsentrasi pengembangan IKM di 33 provinsi.

"Program pengembangan industri pengolahan rotan dan kakao harus didukung oleh anggaran yang memadai, sehingga produktivitasnya meningkat," kata Iman. Kementerian perindustrian telah menyusun anggaran perubahan yang berfokus mengurangi dampak negatif terhadap kinerja industri prioritas dan pelaksanaan tugas pokok kementerian.

"Inti dari pemotongan anggaran ini adalah efisiensi dan optimalisasi," pungkasnya. Anggaran pengeluaran belanja negara Kemenperin tahun 2012 sebesar Rp 2,548 triliun rencananya akan dikurangi Rp 168 miliar menjadi Rp 2,380 triliun. Rencana perubahan anggaran ini masih akan dibahas di badan anggaran bersama Kementerian Keuangan pekan depan. (http://www.indopos.co.id)

Penyatuan Zona waktu di Seluruh Indonesia menjadi GMT + 8

15/03/12


Rencana pemerintah di tahun 2012 ini untuk menyatukan 3 zona waktu di indonesia,yakni WIB, WIT, & WITA menjadi GMT +8 atau menjadi waktu Indonesia bagian tengah. Penyatuan zona waktu ini didukung oleh beberapa pihak, diantaranya adalah mulai dari menteri Koordinator Perekonomian, menteri Keuangan, menteri Perhubungan, Bursa Efek Indonesia (BEI), Bank Indonesia (BI), dan bahkan Menteri Agama.

Ide penyatuan zona waktu ini merupakan ide dari Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa. Indonesia yang memiliki tiga zona waktu dinilai menghambat kenaikan produktivitas. Dengan penyatuan zona waktu diharapkan produktivitas ekonomi bisa meningkat.

Menurut wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono menyambut baik rencana pemerintah menyatukan tiga zona waktu menjadi GMT +8 tahun ini. Menurut Bambang, bandara dan pelabuhan laut siap melayani 24 jam sebagai penunjang bisnis. Namun, Bambang meminta pemerintah mensosialisasikan rencana penyatuan ini untuk menghindari kesimpangsiuran di masyarakat. Secara keseluruhan, Kementerian Perhubungan mendukung rencana penyatuan waktu ini untuk memperkuat jaringan Indonesia dengan negara-negara lain.

Menurut Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo, mengaku setuju jika penyatuan zona waktu dilakukan. Tapi menjadi dua zona waktu atau satu, ini harus dibicarakan lebih lanjut. Rencana penyatuan zona waktu mengemuka sejak akhir pekan lalu. Rencananya, pemerintah kemungkinan besar akan menyatukan seluruh waktu di Indonesia mengikuti waktu Wilayah Indonesia Tengah atau GMT+8.

Menurut Menteri Agama Suryadharma Ali, mengatakan ide penyatuan zona waktu bisa saja direalisasikan. Menurut dia, kalau ide itu direalisasikan, umat Islam mudah menyesuaikan sebab salat lima waktu patokannya matahari, bukan jarum jam. Suryadharma menjelaskan, patokan waktu salat adalah posisi matahari. Dia mengilustrasikan, saat ini, waktu subuh di Pulau Jawa sekitar pukul 05.00. Saat bersamaan, di Papua karena selisih dua jam, sudah pukul 07.00.

“Yang menjadi patokan tetap posisi matahari, waktu subuh itu saat fajar”. Jadi, “waktu shalat menyesuaikan waktu setempat.”

Menurut sobat blogger sendiri bagaimana dengan rencana pemerintah mengenai penyatuan zona waktu di Indonesia ini yang akan menyatukan 3 zona waktu menjadi GMT +8? Dan bagaimana dampak atau pengaruh yang akan terjadi jikalau penyatuan zona waktu ini memang di laksanakan?

Sumber:
slametux.blogdetik.com
http://nasional.vivanews.com
http://www.metrotvnews.com
http://www.republika.co.id

Anis Matta: Soal BBM, Sikap PKS Tak Akan Berubah


KOMPAS.com — Sikap Partai Keadilan Sejahtera tak akan berubah menyikapi rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi. Fraksi PKS di DPR tetap akan menolak kenaikan harga BBM.

”Sikap kami umumnya tidak jauh berbeda dari sebelumnya,” kata Sekretaris Jenderal PKS Anis Matta di Kompleks DPR, Jakarta, Kamis (15/3/2012). Sebelumnya, PKS telah menyatakan menolak kenaikan harga BBM.

Anis mengatakan, pihaknya tengah menyusun pandangan partai mengenai alasan-alasan penolakan terhadap rencana pemerintah itu. Menurut dia, tidak ada pelanggaran apa pun di dalam koalisi jika PKS berbeda sikap dengan pemerintah.

”Ini lebih berorientasi pada kepentingan nasional, yang penting dibicarakan,” kata Wakil Ketua DPR itu.

Ketua Fraksi PKS Mustafa Kamal mengatakan, dalam APBN Perubahan nanti, pihaknya akan mendorong penghematan anggaran belanja pemerintah, meningkatkan pendapatan negara, mempercepat konversi BBM ke bahan bakar gas, mengurangi ketergantungan pada minyak dunia, dan langkah lainnya selain menaikkan harga BBM.

”Momentum ini harus kita jaga bersama dalam koalisi agar jangan mengorbankan rakyat kecil. Mudah-mudahan ada jalan tengah dan ada solusi,” kata Kamal.

Seperti diberitakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada pertemuan konsultasi dengan para pemimpin partai politik yang tergabung dalam Sekretariat Gabungan, Rabu (14/3/2012) malam, di Cikeas, meminta dukungan terkait rencana harga BBM.

Pemerintah berencana menaikkan harga BBM per 1 April 2012. Pemerintah telah mengajukan usulan kenaikan harga BBM bersubsidi Rp 1.500 per liter dalam Rancangan APBN Perubahan 2012 .

*http://nasional.kompas.com/read/2012/03/15/15081259/Soal.BBM.Sikap.PKS.Tak.Akan.Berubah

Sukses yang Bermutu


Oleh : Bang Sani

Menang adalah kata yang paling identik dengan sukses. Padahal kalau kita mau mengkaji lebih mendalam, tidak setiap kemenangan adalah kesuksesan. Dan tidak setiap kekalahan adalah kegagalan. Kenapa kemudian setiap penilaian kita mengenai indikasi sukses sering keliru. Boleh jadi hal itu di sebabkan alat ukur kita yang kurang tepat. Kita lebih sering melihat “hasil” sebagai nilai akhir ketimbang “proses”-nya.

Padahal waktu dan tenaga yang di gunakan untuk melalui proses jauh lebih tinggi daripada waktu dan tenaga yang di gunakan untuk menikmati hasilnya. Kalau kita meminjam neraca abstrak untuk menimbang antara proses dan hasil tentu proses jauh lebih berat daripada hasil. Itulah sebabnya menurut Al Quran, Allah lebih cendrung menilai suatu perbuatan lewat proses daripada hasil. Walaupun memang di satu sisi hasil juga sangat penting dalam suatu perbuatan. Islam menilai sukses dari aspek pekerjaan itu sesungguhnya terletak pada dua parameter. Pertama adalah ketika kita berada dalam posisi memperjuangkan kebenaran.Dan yang kedua adalah ketika kita berada dalam posisi mencegah kemungkaran. Selama kita berada dalam kedua parameter tersebut maka kita adalah orang yang sukses, tidak perduli menang atau kalah sekalipun.

Sukses dinilai dalam takaran waktu, adalah peningkatan kwalitas diri setiap saat. Indikasinya terletak pada perubahan menuju lebih baik dari waktu ke waktu. Hanya saja kita sering berbeda pendapat mengenai hal yang menjadi titik acuan perubahan tersebut. Boleh jadi perbedaan itu timbul karena perbedaan sudut pandang dan disiplin ilmu.

Tapi marilah kita coba melihat empat titik acuan perubahan yang Allah sampaikan dalam Surah Al Ashr. Yang pertama adalah peningkatan iman secara kontinyu. Kedua adalah adalah peningkatan amal sholeh yang merupakan buah dari keimanannya. Ketiga adalah memposisikan diri dalam kebenaran dan menjadi penyampai nilai-nilai kebenaran. Serta yang terakhir adalah berkomitmen meningkatkan kesabaran dan saling menyemangati dalam kesabaran. Sehingga dengan demikian, sukses menurut takaran waktu bukan diartikan kemampuan untuk hidup lebih lama, tetapi Anda baru dikatakan sukses setelah terjadi peningkatan iman, amal sholeh, memperjuangkan kebenaran dan saling menguatkan dalam kesabaran.

Sukses di tinjau dari arah orientasinya, adalah bergerak mendekati sumber tujuan penciptaan. Karena evaluasi penciptaan manusia sangat di tentukan oleh maksud awal manusia di ciptakan. Bagaimana kemudian manusia menggunakan perangkat hidup yang Allah berikan sesuai dengan misinya di dunia. Fenomena yang terjadi di masyarakat saat ini adalah peralihan orientasi dari menggunakan perangkat hidup untuk mencapai tujuan, menjadi menggunakan kehidupan untuk mengejar kelengkapan perangkat. Hal ini wajar terjadi karena sifat dasar manusia yang cendrung puas dengan hal kecil asalkan di depan mata daripada hal besar tapi masih dalam janji, sekalipun janji itu pasti terjadi. Itulah mengapa dalam hal ini iman menjadi berperan sangat penting mengantarkan manusia pada orientasi tugasnya. Dan boleh jadi di situlah letak ujiannya.

Sehingga dengan demikian kesuksesan bukanlah perkara mendapatkan atau tidak mendapatkan, tapi lebih jauh dari itu adalah bagaimana kita menjadi semakin dekat dengan Sang Pencipta.

Corak kesuksesan sangat tergantung bagaimana kita mewarnai proses dalam pencapaiannya. Dalam konteks ini warna sangat mempengaruhi “rasa” yang tercipta dari kesuksesan tersebut. Kadangkala sukses terasa hambar , dan kebanyakan di sebabkan oleh pilihan warna yang kurang sesuai. Kehidupan ini memiliki begitu banyak ragam warna. Ibadah adalah salah satu warna kehidupan yang selalu berhasil memberi rasa luar biasa terhadap kesuksesan. Itu menjadi penting karena kestabilan rasa menjamin eksistensi kesuksesan itu sendiri. Sehingga tidak berlebihan kiranya, jika kita simpulkan bahwa kesuksesan yang tidak di topang oleh ibadah yang disiplin seperti rumah mewah dan megah tapi dengan pondasi yang sangat lemah dan rapuh.

Awal mula dari kekuatan menuju sukses itu adalah mengendalikan diri. Dalam kendali maksimum sering kita merasakan akan timbul kehati-hatian yang kuat. Kehati-hatian yang kuat akan membuat kita memilih dan memilah setiap peluang. Karena tidak setiap peluang dalam hidup ini mengantarkan kita pada kesuksesan. Boleh kita simpulkan sesungguhnya sukses itu di bangun dengan semangat antisipasi. Sukses itu dimiliki oleh orang-orang yang terampil memobilisir masalah-masalah besar, sehingga tidak menimbulkan efek yang merusak konsistensi dan ritme gerak hidupnya. Bahkan kadang orang menemukan sukses dari mempelajari masalah lalu membaliknya 180 derajat menjadi potensi untuk bangkit. Selalu bangkit dari kegagalan itu tabiat dari kesuksesan. Tapi yang jauh lebih penting kesuksesan itu harus bermutu. Dan bermutu itu indikatornya bukan seberapa banyak yang engkau miliki, tapi pada seberapa besar pengaruh sesuatu yang engkau miliki tersebut menghantarkanmu semakin dekat dengan Sang Pencipta.

Kontribusikan Semua Potensi untuk Dakwah dan Jama’ah


“Semua yang dimiliki kader harus bisa dikontribusikan untuk dakwah dan jama’ah. Jika kita punya rumah, harus ada kontribusi rumah untuk kegiatan dakwah dan jama’ah. Jika punya mobil, harus ada kontribusinya untuk dakwah dan jama’ah. Jika punya motor, harus ada kontribusinya untuk dakwah dan jama’ah. Dengan cara itulah kegiatan dakwah akan terus berjalan dengan lancar dan berkesinambungan”, demikian tausiyah dari ustadz Subaryanto, dalam acara Forum Silaturahmi Kader Dakwah Banguntapan, Bantul, DIY, Senin 13 Februari 2012.

Tausiyah ini sangat penting dan mendalam. Ada pertanyaan besar yang sering disampaikan orang, mengapa kita bisa memiliki banyak kegiatan, bersambung dari satu kegiatan ke kegiatan berikutnya, seakan tidak pernah berhenti dan istirahat. Pertanyaan mereka lebih ke arah, “Berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk berbagai kegiatan tersebut?” Ternyata kita sendiri bahkan tidak pernah menghitungnya, karena kita melakukan saja, bekerja saja, berkegiatan saja, tanpa pernah menghitung dengan rinci semua pengeluaran kita.

Lihatlah tradisi dakwah dan jama’ah yang sudah kita bangun selama ini. Pertemuan dilakukan dari rumah ke rumah, sekaligus silaturahim antar kader dakwah. Saat menghadiri pertemuan, kita datang dengan mengendarai motor, mobil, atau menggunakan angkutan umum. Kita tidak pernah meminta ganti atas semua yang kita keluarkan secara pribadi, demi kelancaran kegiatan dakwah. Inilah salah satu cara untuk mengkontribusikan semua potensi yang kita miliki untuk dakwah dan jama’ah.


Coba jika dihitung dengan teliti, berapa banyak dana yang telah kita keluarkan untuk satu pertemuan. Tempat pertemuan gratis, karena tidak perlu menyewa. Rumah kader bisa kita gunakan sebagai tempat pertemuan, bahkan di garasi atau di halaman belakang rumah pun bisa. Tuan rumah dengan suka rela menyediakan minuman dan makanan, sebagaimana tradisi menjamu tamu pada umumnya. Masih ditambah berbagai sarana seperti tikar, karpet, atau kursi dan meja, serta fasilitas pertemuan ala kadarnya yang dimiliki tuan rumah. Tempat pertemuan gratis, jamuan gratis, fasilitas gratis.

Para peserta datang sendiri, tanpa meminta ganti ongkos transport. Jika harus mengganti ongkos transport, maka akan terkumpul jumlah yang cukup besar, karena kader datang dari berbagai tempat yang berjauhan. Namun kehadiran kader dalam sebuah pertemuan dakwah, lebih sering tidak dikaitkan dengan ongkos transport, karena sudah menjadi tradisi rutin yang berjalan selama ini. Semua datang dengan kecintaan, semangat, pengorbanan dan harapan. Dengan demikian untuk satu pertemuan, hampir tidak ada dana yang perlu dikeluarkan karena semua sudah ditanggung oleh masing-masing kader yang menjadi peserta.

Kecuali untuk acara tertentu yang berskala nasional, memang ada sedikit “hitungan” yang berbeda, karena ada renik-renik dan unsur publisitas tertentu yang ingin dimunculkan. Secara umum, sekian banyak agenda dakwah yang telah berjalan rutin selama ini, menjadi tanggungan setiap kader, tanpa ada “hitungan” ganti. Semua kader memahami, ganti akan diberikan secara langsung oleh Allah dalam jumlah yang berlipat, jauh lebih banyak dari apa yang mereka kontribusikan.

Logika seperti ini sepertinya sulit dipahami masyarakat pada umumnya, bahwa ada banyak agenda kegiatan organisasi bisa berjalan dengan baik dan rutin, tanpa perlu kucuran dana dari organisasi. Biasanya, pada organisasi secara umum, setiap agenda kegiatan, selalu menimbulkan anggaran. Semakin banyak kegiatan, semakin besar pula anggaran yang harus dikeluarkan. Kenyataannya, ketika tidak disediakan anggaran, kegiatan tidak bisa berjalan. Tidak begitu dengan organisasi dakwah. Logika yang berkembang adalah tadhiyah, sedangkan tadhiyah muncul dari kepahaman dan keikhlasan.

Tausiyah ustadz Subaryanto tersebut mengingatkan kita semua tentang urgensi kontribusi. Kader telah terbiasa dengan jalan kontribusi, bahkan bagi mereka, hal ini sudah tidak memerlukan pemikiran dan pertimbangan lagi. Kontribusi sudah menjadi akhlak, sudah menjadi aktivitas spontan, dan harian. Tidak perlu berpikir apakah akan meminjamkan ruangan untuk pertemuan, tidak perlu pertimbangan apakah akan meminjamkan mobil untuk perjalanan dakwah, tidak perlu merenung untuk memberikan fasilitas guna kelancaran kegiatan dakwah dan jama’ah. Semua sudah berjalan dengan sendirinya, tanpa dihitung-hitung dan diingat-ingat.


Setiap kader dakwah tidak pernah mengingat dan tidak memiliki catatan pribadi, berapa ratus ribu liter bensin telah dikeluarkan untuk kegiatan dakwah dan jamaah. Berapa juta kilometer jalan pernah ditempuh dalam menunaikan amanah dakwah. Berapa ribu kali meminjamkan motor atau mobil untuk kepentingan dakwah dan jama’ah. Berapa ribu kali menyediakan rumahnya untuk tempat kegiatan dakwah dan jama’ah. Berapa banyak uang telah dikeluarkan untuk kelancaran dakwah. Berapa banyak tenaga telah dikeluarkan guna menunaikan amanah dakwah.

Semua tidak dihitung, semua tidak diingat, semua tidak dicatat. Semua dikerjakan sepenuh kecintaan, sepenuh kesadaran, sepenuh kepahaman. Semua dikeluarkan dengan harapan akan mendapatkan balasan terbaik dari sisi Allah. Semua dikeluarkan tanpa perasaan menyesal. Hal ini bisa terjadi, karena kader memahami bahwa kontribusi adalah kunci keberlanjutan dakwah dan jama’ah. Kontribusi adalah jalan menuju kemenangan. Kontribusi adalah kekuatan.

Sungguh, kontribusi telah menjadi jalan hidup kami.

Selain pandai membuat Puisi, ternyata Ustadz Hadi Juga jago Memasak


Beragam acara dapat dilakukan saat libur hari-hari besar Nasional. Antara lain adalah mengikuti lomba memasak nasi goreng, seperti dilakukan Wakil Ketua DPRD Kaltim, H Hadi Mulyadi dan anggota Komisi III, Zaenal Haq.

Hasilnya ternyata tak mengecewakan. Dari 12 orang peserta koki yang pandai memasak nasi goreng, Hadi Mulyadi berhasil menyabet juara pertama, sedangkan Zaenal Haq kebagian juara favourit.

"Saya sejak SMP memang sudah bisa memasak. Bikin sayur bening, sayur santan dan masakan khas Kaltim lainnya. Dilanjut sampai menjadi mahasiswa di Unhas Makassar, memasak sendiri kemudian menjadi kebiasaan," kata Hadi Mulyadi yang juga Ketua DPP PKS Wilayah Dakwah (Wilda) Kalimantan, sambil tersenyum.

Sedangkan Zaenal Haq tak menyangka menjadi juara favourit. "Tapi nasi goreng Pak Zaenal enak kok rasanya. Racikan bumbunya pas," kata Hadi Mulyadi.

Lomba nasi goreng teri, telur dan sosis (TTS) itu digelar untuk memperingati Hari Ibu. Kriteria penilaian, bahan tidak boleh lebih dari Rp20 ribu, waktu pengerjaan maksimal 30 menit dan cita rasanya lezat. (mir)

Sumber : http://dprd-kaltimprov.go.id/berita/467/hadi-mulyadi-juara-satu-zaenal-juara-favourit.html

Mengajak Bukan Memvonis

14/03/12


Oleh Ust. Farid Nu’man

Mukadimah


Ada seorang bertanya kepada ulama, “Adakah sihir yang dibolehkan?”, jawab ulama itu, “ Ada , yaitu senyummu kepada saudaramu.”

Diriwayatkan tentang Imam Sufyan ats Tsauri, bahwa dia amat sering menangis di tengah malam dalam sujud panjangnya dan dikegelapan kamarnya. Namun ia amat murah senyum di siang harinya ketika berinteraksi dengan manusia. Hatinya lembut kepada manusia, sehingga mereka mencintainya, mendengarkan petuahnya, dan menunggu nasihatnya. Itulah balasan yang Allah ‘Azza wa Jalla berikan untuknya, lantaran sikapnya yang mempesona di mata manusia.

Imam Aun menceritakan tentang gurunya, yaitu Imam Muhammad bin Sirrin radhiallahu ‘anhu, bahwa ia adalah orang yang amat keras dan ketat terhadap dirinya sendiri, namun begitu fleksibel dan banyak memberikan kemudahan kepada orang lain. Begitu pula Imam Muzani (murid Imam Syafi’i), ia disifati manusia sebagai, “Seorang yang sangat mempersempit dirinya sendiri dalam kewara’an, sedangkan terhadap orang lain ia memberikan kelonggaran yang seluas-luasnya.”

Imam Sufyan ats Tsauri pernah berkata –sebagaimana yang dikutip Imam an Nawawi dalam Majmu’ Syarah al Muhadzdzab, “Sesungguhnya fiqih itu adalah keringanan yang datang dari orang yang dapat dipercaya, sedangkan berlaku keras dan menyulitkan itu dapat saja dengan mudah dilakukan setiap orang.”

Imam Hasan al Bashri berkata, “Sesungguhnya sejelek-jeleknya hamba Allah adalah yang mendatangkan persoalan-persoalan yang buruk, dan dia menyusahkan hamba Allah yang lain dengan hal itu.”

Imam al Auza’i berkata, “Jika Allah hendak mencegah hambaNya dari berkah ilmu, ia memberikan persoalan-persoalan ruwet di mulut orang itu.”

Imam Atha’ berkata, “Jika kalian dihadapkan pada dua perkara, bawalah kaum muslimin kepada yang lebih mudah di antara keduanya.”

Imam Asy Sya’bi berkata, “Sesungguhnya seseorang diberi dua pilihan, lalu dia memilih yang paling mudah di antara keduanya, dia akan disenangi Allah.”

Demikianlah para salafus shalih. Mereka begitu menghargai kemanusiaannya manusia, mengetahui sisi kejiwaan para mad’u, dan terlebih dari itu, mereka amat piawai dalam menerapkan dan menempatkan syariat ini sebagaimana mestinya. Amat berbeda dengan manusia (baca: sebagian para da’i) sekarang, lebih banyak menyulitkan dibanding memberikan kemudahan, mengancam dibanding kabar gembira, menyempitkan dibanding toleransi, melarang-larang dibanding memberikan alternatif, menuduh dibanding berbaik sangka, memvonis dan menghakimi dibanding mengajak dengan lembut. Memanggilnya dengan panggilan yang mengerikan seperti mubtadi’ kabir (gembongnya pelaku bid’ah), mudhill (orang yang sesat), dan lain-lain, dibanding mendoakannya seperti hadanallahu wa iyyah (semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita dan dia) atau saddaddallahu khuthahu (semoga Allah meluruskan langkahnya). Mereka mencaci memaki kegelapan, dibanding menyalakan lilin.

Menguasai Hati Orang Lain

Objek da’wah, walau ia ahli maksiat dan pelaku kesesatan, adalah manusia yang memiliki hati sebagaimana lainnya. Hati adalah pintu pertama kegoncangan jiwa, sebagaimana menjadi pintu pertama terhadap petunjuk. Ia bisa berontak jika ditusuk, melawan jika disakiti, dan menjauh jika dikeraskan. Maka jagalah perasaan manusia, rebutlah hati mereka dengan lembutnya seruan, hikmahnya lisan, dan santunnya akhlak. Anda tidak bisa menguasai orang lain kecuali dengan senyuman, tutur kata yang sopan, kedermawanan, dan keteladanan. Berikan mereka harta yang banyak, namun dengan cara melempar, kasar dan di ungkit-ungkit, maka ia akan menolak harta tersebut walau amat membutuhkannya. Sekalipun menerima, ia amat terpaksa dan menerima dengan air mata dan hati yang perih.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya kalian tidak mampu menguasai manusia dengan harta kalian, namun mereka dapat dikuasai dengan manisnya wajah dan akhlak yang baik.” (HR. Abu Ya’la, Imam Hakim menshahihkannya. Bulughul Maram, Bab At Targhib min Musawi al Akhlaq. no. 1341)

Tidak sedikit mad’u yang lari meninggalkan da’i lantaran luka dihati, kekecewaan, dan kesempitan yang ditawarkan kepada mereka. Sehingga pertemuan dengan da’I bukan suatu yang dirindukan, namun bagaikan pertemuan dengan jaksa penuntut umum yang siap memberikannya tuntutan dan sanksi, atau reserse yang siap menginterogasi dan membawanya ke penjara, atau guru killer yang siap memberinya setumpuk Pekerjaan Rumah. Tidak demikian wahai ikhwah, jangan begitu wahai da’i ….. Apakah kita mau da’wah ini justru menjadi fitnah menyeramkan bagi mereka lantaran kegarangan para du’at?

Mengikuti Uslub (metode) Al Qur’an

Al Qur’an hendaknya menjadi pedoman utama para da’i. Uslub tarbiyah dan da’wahnya amat indah dan mempesona, dan memberika keberuntungan yang amat besar bagi da’wah. Al Qur’an mengajarkan kita kelembutan dan menjauhi kekasaran dalam menghadapi manusia, agar ia mau mendekat, menerima seruan, dan mengikuti ajakan. Simaklah.

Allah Jalla wa ‘ Ala berfirman:
“Oleh karena rahmat dari Allah engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Jadi, maafkanlah mereka dan memohonkan ampun bagi mereka.” (QS. Ali Imran: 154)

FirmanNya yang lain:
“Tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. Al Fushilat: 34-35)

Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun ‘Alaihimassalam untuk menggunakan kata-kata yang lembut (Qaulan layyinan) ketika menda’wahi manusia paling zalim, Fir’aun, sebagaimana yang dikisahkan dalam surat Thaha ayat 44.

Selain itu, Al Qur’an yang ada ditangan kita telah mengajarkan, jika ia mengharamkan sesuatu pastilah diberikan alternatifnya. Al Qur’an telah mengharamkan riba dengan pasti, tetapi ia menghalalkan jual beli. Al Qur’an telah mengharamkan zina dan menilainya sebagai perbuatan amat keji, tetapi ia menghalalkan pernikahan, Al Qur’an melarang dengan tegas membunuh manusia dengan cara tidak haq, tetapi ia memerintahkan jihad dan mengagungkannya. Demikianlah Al Qur’an, tidaklah ia melarang sesuatu dan mencelanya melainkan ia juga memberikan alternatif dan solusinya. Ambillah ini sebagai pelajaran.

Tidak dibenarkan da’i melarang-larang manusia dari ini dan itu, tetapi ia tidak mendorongnya kepada hal yang lebih baik dan selamat, yang tentunya tidak bertentangan dengan syariat. Tidak dibenarkan ia melarang-larang anak-anak band dari hobinya itu, tanpa memberikan alternatif hiburan yang dibenarkan syariat. Tidak benarkan da’i mencaci maki para peminat media jahiliyah, tanpa menyodorkan media Islami. Tidak dibenarkan pula menuding film atau sinetron murahan dan picisan, tanpa memberikan gantinya yang lebih baik.


Mengikuti Uslub Rasulullah

Petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah sebaik-baiknya petunjuk. Bahkan jika manusia dalam kondisi fatrah (baca: futur) namun tetap di atas sunnahnya, beliau katakan ‘faqadihtada’ ( ia telah di atas petunjuk). Maka wajib bagi para da’i mengikuti jejaknya yang mulia, dan meneladani uslub da’wahnya yang bersinar.

Terhadap kaum yang menolak da’wahnya, ia berkata, “Allahummaghfirli qaumi fainnahum laa ya’lamun” (Ya Allah, ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka kaum yang tidak mengetahui).

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah itu lembut, menyukai kelembutan dalam segara urusan.” (HR. Muttafaq ‘Alaih. Riadhusshalihin. no. 631)

Dari ‘Aisyah pula, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya kelembutan itu tidaklah menjadikan sesuatu kecuali menambah indah, dan tidaklah dicabut dari sesuatu (kelembutan itu) kecuali menambah kejelekan.” (HR. Muslim. Ibid. no. 633)

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Siapa yang diharamkan dari sifat lembut, maka telah diharamkan dari semua kebaikan.” (HR. Muslim. Ibid. no. 636)

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda; “Sesungguhnya kalian tidak mampu menguasai manusia dengan harta kalian, tetapi mereka dapat dikuasai dengan manisnya wajah dan akhlak yang baik.” (HR. Abu Ya’la, Imam Hakim menshahihkannya. Bulughul Maram, bab. At Targhib min Musawi al Akhlaq. No. 1341)

Rasulullah pernah ditimpuki batu di Thaif ketika berda’wah kepada Bani Tsaqif, namun begitu beliau tetap tabah dapat mampu menahan diri, tidak emosional untuk membalas. Bahkan ketika malaikat penjaga gunung berkata kepadanya, “Apakah engkau meminta kepadaku agar membalikkan bumi tempat mereka tinggal ini?” Nabi menjawab, “Tidak, aku hanya memohon kepada Allah agar dari tulang sulbi mereka nanti akan lahir generasi yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukanNya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Bukhari meriwayatkan, pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ada seorang pemuda yang menjadi ‘pelanggan’ hukuman hudud lantaran hobinya meminum khamr. Acapkali orang ini diserahkan kepada nabi, beliau melaksanakan hudud atasnya.

Sebagian sahabat ada yang berkata, “Semoga Allah merendahkannya, selalu saja dia dilaporkan kepada Nabi karena kasus khamr.”

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam marah seraya berkata, “Jangan berkata demikian, jangan menolong syetan lebih mudah memperdayakannya. Demi Zat yang jiwaku ada di tanganNya, aku tidak mengetahui dari orang ini kecuali bahwa dia mencintai Allah dan RasulNya.” (HR. Bukhari dari Umar radhiallahu ‘anhu dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Alangkah indahnya Rasulullah mendidik dan menyeru umatnya. Maka janganlah kita membuat manusia berputus asa dari rahmat Allah ‘Azza wa Jalla, walau sebesar apapun kesalahan dan dosa yang dilakukan. Hendaknya kita tetap menganggap mereka sebagai umat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka memiliki potensi untuk berubah dan kembali kepada jalan yang benar. Bukankah dahulu kita pernah mengalami masa-masa jahiliyah sebagaimana mereka, atau mungkin kejahiliyahan yang melebihi mereka? Betapa sabar para pembimbing (murabbi) dan ustadz terhadap diri kta. Maka, jangan buat umat lari dari ampunan Allah Ta’ala yang teramat luas.

Mengikuti Uslub Para Sahabat

Para sahabat adalah bintang-bintang di antara manusia. Bintang, keberadaannya membuat indah langit di malam hari, begitu pula para sahabat Nabi di tengah-tengah umat. Adakah manusia yang membenci bintang? Petuah-petuah mereka adalah petunjuk yang lahir dari madrasah nabawiyah.

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata, “Orang-orang yang benar-benar faqih itu adalah orang yang tidak membuat manusia berputus asa dari rahmat Allah, namun tidak juga memberi keringanan kepada mereka untuk melakukan maksiat kepada Allah.” (diriwayatkan oleh Imam Ad Darimi secara mauquf, secara marfu’-nya terdapat dalam Jami’ al Ahadits wal Marasil)

Umar bin al Khathab radhiallahu ‘anhu berkata, “Ada tiga hal yang bisa membuat saudaramu mencintaimu, yaitu: memanggilnya dengan nama yang paling dia sukai, melapangkan tempat duduk baginya dalam suatu majelis, dan memulai ucapan salam.”

Ikhwah …. tidak sedikit para da’i yang memboikot manusia lantaran maksiat kecil yang dibuatnya. Ia tidak menyapanya, apalagi salam, tidak mau duduk satu majelis dengannya, tidak memanggilnya dengan panggilan kesukaannya. Justru di belakang ia menggunjingnya dengan mengatakan, ia jahil, ahlul hawa, ahlul ma’shiyah, dan lainnya. Tentu ini bertantangan dengan sunah Umar radhiallahu ‘anhu, dan akan membuat manusia semakin menjauhinya.


Mengikuti Uslub Para Ulama Rabbani

Imam Abdullah bin Mubarak pernah membuat syair:

Pada saat engkau bergaul dengan masyarakat yang penuh cinta kasih
Bersikaplah kepada mereka seolah-olah engkau saudara mereka
Jangan mencela setiap kekurangan kaum,
Atau engkau tidak akan pernah memiliki teman

Menjelang wafatnya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dihadapkan ke kiblat dan berkata, “Aku bertobat dari perbuatanku yang mengkafirkan ahli kiblat (muslim).” Dia mengulanginya dua kali. Syaikh Aidh al Qarny berkata, “Ibnu Taimiyah adalah ulama yang sangat jarang mentakfir-kan orang walau ia sangat keras terhadap ahli bid’ah. Namun saat ini orang sangat gampang mentakfirkan karena dangkalnya ilmu fiqih mereka.“

Takfir memang ada dalam konsep Ahlus Sunnah, namun hanya boleh dilakukan jika syarat-syaratnya (dhawabith) terpenuhi, itu pun hanya dilakukan oleh ulama mumpuni atau sekelompok ulama yang melakukan ijtihad kolektif.

Imam Ibnul Qayyim dalam I’lamul Muwaqi’in-nya menyebutkan bahwa Imam Ahmad jika ditanya tentang masalah yang diharamkan dia berkata, “Aku tidak suka ini, aku takut ini diharamkan.”
Begitu pula ulama lainnya. Mereka lebih suka mengatakan ghairu masyru’ (tidak disyariatkan), lebih baik jangan, aku benci ini, mungkin engkau lupa. Dibanding mengatakan ini haram, sesat, kafir, Allah tidak menyelamatkanmu, kembalinya ke neraka, engkau pendusta, dan vonis menyeramkan lainnya. Namun demikian, mereka juga tidak segan akan mengatakan hal yang demikian itu jika permasalahannya jelas dan tidak samar keharamannya, kesesatannya, dan kekafirannya.

Dari Ibnul Junaid, dia berkata, bahwa Imam Yahya bin Ma’in mengatakan, “Pengharaman air anggur (nabidz) itu adalah shahih. Akan tetapi aku tidak mau berkomentar dan aku tidak mengharamkannya. Karena ada orang-orang shalih yang meminumnya dengan dalil hadits-hadits yang shahih. Dan ada orang shalih lainnya yang mengharamkannya, juga dengan hadits-hadits shahih.” (Siyar 11/87-88)

Imam Ahmad pernah ditanya tentang orang yang shalat sunah setelah ashar, ia menjawab, “Kami tidak melakukannya, namun kami tidak akan mencela orang yang melakukannya.”

‘Aisyah radhiallahu ‘anha pernah mengomentari ucapan Ibnu Umar yang melarang manusia menangisi mayit anggota keluarganya. Katanya, “Mudah-mudahan Allah mengampuni Ibnu Umar. Aku yakin ia tidak berdusta, tetapi dia lupa atau salah.” (HR. Malik dalam Muwatha’ Bab Al Janazah)

Demikianlah, manusia yang ilmunya luas akan mampu menahan lisan kotor dan kasar dalam mengomentari kesalahan manusia. Ada manusia yang amat keras terhadap saudaranya yang minum sambil berdiri, padahal manusia berselisih paham tentangnya. Ada yang menyebutnya makruh tahrim (makruh yang mendekati haram) seperti Syaikh al Albany dan Imam Ibnu Hazm, lantaran ada riwayat dari Anas bin Malik yang melarang minum sambil berdiri, katanya, “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melarang manusia minum sambil berdiri.” Qatadah bertanya: “Kalau makan bagaimana?” Dijawab, “Kalau makan berdiri itu lebih busuk dan jahat.” (HR. Muslim)
Adapun jika terlanjur minum sambil berdiri hendaknya memuntahkannya. (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Namun ada pula yang menyebutnya mubah (boleh). Sebab dari Ibnu Umar ia berkata, “Dahulu kita di masa Rasulullah, adakalanya makan sambil berjalan, dan kita minum dengan berdiri.” (HR. At Tirmidzi, ia menshahihkannya) Amir bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, berkata: “Saya telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam minum sambil berdiri dan juga pernah melihatnya minum sambil duduk.” (HR. Tirmidzi). atau Imam Malik meriwayatkan bahwa Umar, Utsman, dan Ali pernah minum dengan berdiri. Ada pula yang mengatakan semuanya bisa benar, tergantung kondisi. Sedangkan Imam an Nawawi dalam kitabnya yang terkenal Riyadhushshalihin menulis Bab Bolehnya minum sambil berdiri, namun lebih sempurna (akmal) dan utama (afdhal) sambil duduk. (Lihat Riyadhusshalihin. Hal. 220. Maktabatul Iman – Al Manshurah. Tahqiq oleh Muhammad ‘Ishamuddin Amin)

Ada pula manusia yang keras dan melotot tajam terhadap saudaranya yang kencing sambil berdiri Abu Wail menceritakan bahwa Abu Musa al Asy’ary pernah bersikap keras dalam hal kencing berdiri. Dia berkata, “Sesungguhnya Bani Israel itu, apabila ada kencing yang mengenai baju mereka, maka mereka mengguntingnya.” Maka Hudzaifah berkata, “Sebaiknya engkau tidak berkata demikian, karena Rasulullah pernah datang ke sebuah kandang milik suatu kaum, dan beliau kencing sambil berdiri.” (HR. Bukhari dan Abu Daud)

Ucapan Hudzaifah,” Sebaiknya engkau tidak berkata demikian..”, ketika mengomentari ucapan Abu Musa mencerminkan bahwa Abu Musa telah berlebihan dalam menyikapi sesuatu yang dianggapnya salah, dan ternyata justru Rasulullah pernah melakukannya.

Sikap Imam Adz Dzahabi yang Amat Elegan dan Objektif

Imam Adz Dzahabi rahimahullah adalah salah satu murid Imam Ibnu Taimiyah. Ia amat piawai dalam ilmu hadits dan sirah. Hati manusia menjadi tenang, ketika membaca hadits riwayat Imam Hakim lalu setelah itu tercantum ‘Wafaqahu Adz Dzahabi” (Telah disepakati Adz Dzahabi) yaitu keshahihannya, lantaran Imam Hakim termasuk yang mutasahil (menggampangkan) dalam menshahihkan hadits, karena itulah Imam Adz Dzahabi merasa perlu untuk meninjau kembali.

Ia memiliki karya yang amat brilian dan monumental yakni Siyar A’lamin Nubala, karya yang berisi tentang biografi tokoh ulama, khalifah, satrawan, serta peristiwa-peristiwa yang melingkupinya. Sengaja kami kutipkan komentar-komentarnya yang objektif, khususnya komentarnya tentang kekeliruan yang dilakukan manusia dan tokoh ternama, sebab di dalamnya terdapat pelajaran yang amat berharga bagi orang yang menghargai ilmu, mencintai ulama, objektifitas dan menjunjung akhlak Islam. Berikut akan kami uraikan beberapa contoh dan simak baik-baik.

A. Sikap Imam Adz Dzahabi terhadap seorang ahli hadits terkenal, Imam Ibnu Hibban, yang pernah mengucapkan ucapan berbahaya, “Kenabian adalah ilmu dan amal.” Mendengar itu manusia menuduhnya zindik, karena ucapan seperti itu pernah diucapkan seorang filosof bahwa kenabian itu bisa diusahakan dengan ilmu dan amal, bukan karena pilihan Allah. Lalu manusia mengadukannya kepada khalifah, maka khalifah membuat keputusan untuk membunuhnya. Bagaimana komentar Imam Adz Dzahabi?

Ia berkata dalam Siyar A’lamin Nubala (16/92-104), “Ibnu Hibban merupakan salah seorang ulama besar. Namun demikian, kita tidak menilainya terpelihara dari kesalahan. Apa yang diucapkannya itu dapat saja dilakukan oleh seorang muslim atau oleh filosof zindik. Seorang muslim tentu tidak diperkenankan bicara demikian.. namun bila terlanjur, maka ia diamaafkan.”

Kemudian Adz Dzahabi menjelaskan bahwa Ibnu Hibban sebenarnya tidak bermaksud membatasi kenabian sebatas ilmu dan amal saja. Beliau hanya ingin menjelaskan bahwa keduanya merupakan sifat paling sempurna bagi seorang nabi. Adapun ucapan filosof, “Kenabian itu bisa diusahakan sebagai hasil dari ilmu pengetahuan dan amal.” Maka ucapan inilah yang disebut kekafiran, dan ini bukan sama sekali yang dimaksud Imam Abu Hatim Ibnu hibban. Tidak mungkin ia bermaksud seperti itu.”

Ikhwah … lihatlah komentar ini, begitu indah dan santun, tanpa mengurangi nilai kritiknya. Apa jadinya seandainya bukan Imam Adz Dzahabi yang memberikan komentar? Niscaya Imam Ibnu Hibban akan dituduh sebagai zindik, kafir, dan lain-lain.

B. Sikap Adz Dzahabi tentang Al Aswad bin Yazid yang telah melakukan puasa sepanjang tahun (shaum ad dahr). Padahal shaum ad dahr itu terlarang dalam syariat Islam. Imam Adz Dzahabi membenarkan kabar tersebut. Lalu ia mengomentari: “Sepertinya, larangan tentang shaum ad dahr belum sampai ke telinga Ibnu Yazid, atau ia bertakwil di dalamnya.” (Siyar 4/50-53). Seperti itulah Adz Dzahabi, ia mencarikan dalih bagi Al Aswad bin Yazid dengan mengatakan bahwa kemungkinan Al Aswad belum mendengar hadits yang melarangnya, atau sudah mendengar tetapi ia tidak memahami adanya keharaman di dalamnya.

C. Sikap Adz Dzahabi terhadap Ulama hadits, Salah seorang Imam Jarh wa Ta’dil, yakni Imam Yahya bin Ma’in. beliau adalah kawan dari Imam Ahmad bin Hambal. Dikutip dari Al Hushain bin Fahm, bahwa Yahya bin Ma’in pernah berkata: “Dulu aku pernah berada di Mesir, lalu akau lihat seorang budak wanita dijual dengan harga seribu dinar. Aku belum pernah melihat wanita secantik dia, semoga Allah memberinya keselamatan.” Lalu aku (Al Hushain ) berkata: “Wahai Abu Zakaria, orang sepertimu berbicara seperti itu? Beliau berkata: “Ya, semoga Allah memberinya keselamatan dan juga pada setiap orang yang cantik.”

Ikhwah …. Apa komentar Imam Adz Dzahabi? Ia berkata, “Cerita ini dapat diterima sebagai sebuah lelucon (gurauan) belaka dari Abu Zakaria (Yahya bin Ma’in).” Demikianlah, menurut Imam Adz Dzahabi itu hanyalah lelucannya Imam Yahya bin Ma’in. ia tidak benar-benar bermaksud mengatakan demikian terhadap wanita dalam keadaan serius. Jika bukan Adz dzahabi yang mengomentari, mungkin Imam Yahya bin Ma’in akan dituduh fasiq. Koq, ulama memuji-muji kecantikan wanita.

D. Sikap Adz Dzahabi terhadap Jarh (celaan) Imam Al Qadhy Abu Bakar bin al Araby al Maliki terhadap Imam Abu Muhammad bin Hazm azh Zhahiry dengan celaan yang amat merendahkan. Di dalam kitabnya, Al Qawashim wal Awashim, Ibnul Araby menyebut Ibnu Hazm sebagai orang tolol dari isybiliyah (sevila sekarang, Spanyol), tidak mengerti mazhab-mazhab, sesat dan ahli bid’ah. Nah, bagaimana komentar Imam Adz Dzahabi terhadap celaan Imam Ibnul ‘Araby ini?

Ia berkata, “Al Qadhy Abu Bakar rahimahullah kurang bersikap adil dalam menilai guru dari ayahnya (maksudnya Ibnu Hazm). Beliau juga tidak fair dalam membicarakannya, dan terlalu merendahkan. Padahal Al Qadhy Abu Bakar, walau kedudukannya tinggi dalam ilmu pengetahuan, ia belum mencapai derajat Abu Muhammad (Ibnu hazm), dan masih terlalu jauh. Semoga saja, Allah memberikan maghfirah kepada keduanya.”

Imam Izzuddin bin Abdussalam berkata, “Aku tidak pernah mendapatkan kitab-kitab Islam mengenai keilmuan yang lebih bagus daripada kitab Al Muhalla karya Ibnu Hazm dan Al Mughni karya Syaikh Muwafaqqud Din (Ibnu Qudamah).” Adz Dzahabi berkata, “Syaikh Izzuddin telah berkata benar. Kitab ketiga adalah As Sunan Al Kubra karya Al Baihaqi. Keempat , At Tamhid, karya Ibnu Abdul Barr. Maka siapa saja yang memperoleh karya-karya tersebut, dan ia seorang yang cerdas dan telah melakukan kajian mendalam terhadap kitab-kitab tersebut, maka dialah ulama yang sebenarnya.” (Siyar 18/188-192)

Ikhwah fillah …, sebenarnya masih banyak lagi keindahan akhlak Imam Adz Dzahabi dalam memberikan penilaian objektif terhadap orang dan tokoh yang keliru, seperti sikapnya yang adil terhadap Imam al Ghazaly antara yang merendahkannya dan mengkultuskannya, atau sikapnya yang adil terhadap Imam Waki’ (gurunya Imam Syafi’i) yang juga melakukan puasa dahr dan meminum air anggur.

Demikianlah seorang da’i, seharusnya mengajak manusia yang keliru menuju kearah kebaikan, serta memperhatikan kedudukan orang tersebut di hati masyarakat, agar bisa menyikapinya secara bijak dan bajik. Bukan menghakimi dan merendahkan kedudukannya di mata manusia, yang justru melahirkan perlawanan keras dan penyimpangan yang lebih jauh.

Wallahu A’lam wa Lillahil ‘Izzah


*)http://abuhudzaifi.multiply.com/journal/item/42

Menumbuhkan Kemampuan Menguasai Masyarakat


Taujih Ustadz Hilmi Aminuddin
(Ketua Majelis Syuro PKS)

Penguasaan masyarakat akan sangat tergantung pada tumbuhnya lima jenis kader dakwah sebagai berikut,


Pertama, al khotib al jamahiriy, tumbuhnya para khuthoba yang bersemangat, yaitu mereka yang mampu menyampaikan pesan-pesan Islam dengan jelas dan terang, penuh gairah dan dinamika. Para khotib bersemangat muda yang menyampaikan hikmah (pengetahuan) orang-orang tua yang penuh pengalaman (hikmatus syuyukh fi hamasatus syabab). Bukan semangat orang tua dengan pengetahuan pemuda yang cetek.

Para khutoba ini hendaknya mampu melakukan tahridh (pengerahan massa) dan menumbuhkan tahmis (semangat) berdasarkan iman dan pengetahuan bukan emosi dan kebencian.

Kedua, al faqih asy sya’biy, orang-orang faqih di tengah masyarakat, yaitu para ulama yang takut pada Allah dan hidup di tengah-tengah masyarakat, memberikan bimbingan dan fatwa-fatwa yang lurus dan benar tentang masalah yang dihadapi masyarakat. Menjadi pendidik dan tempat bertanya yang tidak menimbulkan keraguan dan perpecahan. Selalu menghidupkan toleransi antar mazhab (fiqh) yang menjadi titik temu yang mempersatukan ummat. Dari itu ia senantiasa dicintai, didukung dan dibela oleh masyarakatnya. Khotib jamahiriy menjadi pendorong masyarakat ke jalan Alloh sedang faqih sya’biy membimbing masyarakat dalam jalan Alloh. Dia bukan faqih jetset yang memberi fatwa berdasarkan order, tetapi benar-benar menyuarakan pimpinan Allah dan RasulNya.

Ketiga, al-Amal atau at ta’awuni al khoiriy, aktifitas kejama’ahan sosial. Tujuan utama dari aktifitas ini adalah memfungsikan masjid-masjid sesuai dengan bimbingan Rasululloh. Untuk itu harus dibuat kerjasama sosial dengan berbagai lapisan masyarakat untuk mendekatkan ummat pada masjid. Sasaran program ini adalah ta’zizud da’iyah, memperkuat para da’i sebagai pelopor di berbagai bidang. Para da’i kita hendaknya disokong sepenuhnya agar mampu menyantuni massa umat sehingga ia memiliki gengsi dan prestise yang tinggi yang membuat umat ikut pada arahannya. Biasanya masyarakat kita sangat patuh bila dakwah dimulai dengan santunan yang memperhatikan kebutuhan mereka.

Keempat, masyru’ al iqtishodis sya’biy, menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil. Harakah dakwah harus turut meningkatkan taraf ekonomi umat Islam yang pada umumnya masih sangat lemah. Usaha-usaha ekonomi hendaknya usaha yang ringan, mudah dijangkau dan memasyarakat. Berbagai klub, perhimpunan atau organisasi ekonomi kecil perlu ditumbuhkan dan dibimbing oleh para da’i yang sekaligus menjadi pembimbing rohani mereka. Sasaran program ini adalah agar masyarakat pendukung da’wah dapat iktifa’ dzati (berdikari) di satu sisi dan di sisi lain bisa mengendalikan laju ekonomi secara keseluruhan.

Kelima, al i’lam as sya’biy, penerangan yang memasyarakat. Potensi i’lam hendaknya tumbuh dari orang-orang yang memahami aqidah, fikrah dan manhaj serta mundhobith (disiplin) kebijaksanaan jama’ah, agar pembentukan ro’yul ‘aam (opini umum) sesuai dengan rancangan da’wah. Sebab bidang ini merupakan titik rawan amni suatu gerakan da’wah. Pers yang ditumbuhkan dari dalam adalah pers yang murah dan mudah dibaca oleh masyarakat. Bukan penampilan elite yang membuat umat enggan membacanya atau menyedot potensi harakah dalam mengerjakannya. Yang penting bukan nama besar tetapi kemampuan menyebar dan meluas dengan cepat dalam berbagai bentuknya yang ringan; buletin, brosur, maklumat, majalah, koran dan aneka bentuk lainnya yang murah dan terjangkau, menyebar dari berbagai sumber dan dikerjakan cukup oleh setiap rumah tangga.

Selain itu perlu juga menyokong pers umat Islam yang telah ada agar memiliki ruh dan fikroh Islami. Para pakar jama’ah dakwah hendaknya menyumbangkan tulisan-tulisan bermutu pada pers yang dimiliki umat Islam. Bila perlu kita mampu menumbuhkan pers kaum muslimin menjadi pers harakah. Yaitu pers yang dikendalikan oleh personil harakah kita.

Dalam i’lam sya’bi perlu pula dimunculkan pendidikan Islam melalui radio-radio, televisi dan sebagainya. Tentu melalui thoriqoh yang mungkin bisa ditempuh dengan tidak meninggalkan unsur-unsur syar’i dalam penyajiannya. [ ]

*)http://al-intima.com/taujih-ust-hilmi-aminuddin/menumbuhkan-kemampuan-menguasai-masyarakat

MPW PKS Papua : Dinamika di Tengah Berjuta Kendala


Oleh : Cahyadi Takariawan
(Sekretaris MPP PKS)


Sangat naif gurauan yang suka memplesetkan MPW menjadi “Majelis Pensiunan Wilayah”, yang mengesankan lembaga ini hanya tempat berkumpulnya para “pensiunan” dan melakukan reuni atau kangen-kangenan semata. MPW PKS Papua menolak “plesetan” semacam ini, dan mereka telah menunjukkan kerja nyata yang sangat bermanfaat bagi wilayah Papua.

Saya merasa surprise diundang oleh rekan-rekan PKS Papua dalam acara Pelatihan Pengembangan Kepemimpinan, Sabtu 19 Nopember 2011 di Jayapura. Acara itu sendiri sejatinya diagendakan sebagai program MPW (Majelis Pertimbangan Wilayah) PKS Papua, untuk peningkatan kapasitas kepemimpinan para pengemban struktur PKS di tingkat propinsi dan kabupaten, para anggota legislatif PKS, serta para bupati dan walikota dukungan PKS.

Multikultur PKS Papua

Saya selalu menikmati pemandangan yang “berbeda” setiap kali menghadiri acara kepartaian di wilayah Papua. Berbeda dari suasana di wilayah lainnya, yaitu tampak keragaman etnik dari peserta. Di antara yang hadir adalah pengurus DPD PKS wilayah pegunungan, yang rata-rata adalah masyarakat asli Papua, beserta para anggota legislatif di kabupaten tersebut yang juga warga asli “kelas satu” Papua. Sementara para pengurus DPD PKS wilayah pantai, rata-rata adalah kelompok pendatang, dari Jawa atau Sulawesi atau propinsi lainnya.



Di sinilah letak uniknya. PKS Papua adalah simbol sebuah penyatuan keragaman budaya, etnik dan warna kulit. Anggota dan pengurus PKS di wilayah PKS Papua memberikan potret penggambaran bagaimana penyebaran partai dakwah telah meluas ke semua wilayah Indonesia tanpa terkecuali. Saya menyaksikan bagaimana mereka berbaur tanpa canggung, berkomunikasi secara wajar dalam berbagai macam kegiatan kepartaian.

Saya sempat berdialog dengan para pengurus DPD PKS Jayawijaya, DPD Nabire, DPD Paniai dan beberapa kabupaten pemekaran baru. Mereka dengan antusias hadir mengikuti acara Pelatihan tersebut sebagai bekal mengelola partai di kabupaten. Hadir pula para anggota legislatif PKS se wilayah Papua yang berjumlah 26 orang, 12 di antara mereka adalah warga asli Papua. Hadir pula Bupati Kerom dukungan PKS, bapak Jusuf Waly yang juga berkesempatan berbagi pengalaman mengelola partai dan pemerintahan.

Prestasi MPW PKS Papua

Yang lebih memberikan nilai surprise adalah format dan pelaksana acara Pelatihan Pengembangan Kepemimpinan tersebut. Pelatihan ini menyatukan pengurus tingkat wilayah dan daerah, beserta para pejabat publik dari lingkungan legislatif dan eksekutif dukungan PKS. Dengan demikian diharapkan akan memunculkan sinergitas visi dan langkah membangun Papua. Sekitar 70 peserta Pelatihan tersebut merupakan jajaran elite PKS di wilayah Papua, yang apabila mampu melakukan konsolidasi secara intensif akan mampu menghadirkan kerja nyata bagi kemajuan Papua.

Pelaksana acara tersebut adalah MPW PKS Papua. Ini bisa digunakan untuk menakar dinamika lembaga MPW di sebuah wilayah, apalagi ini terjadi di wilayah nan jauh dari ibukota yang kerap terlupakan media. Sebelum melaksanakan Pelatihan ini, MPW PKS juga telah menggelar Bedah Platform PKS di Jayapura yang dihadiri para pakar, akademisi, politisi dan praktisi. Hasil bedah Platform PKS tersebut ditindaklanjuti dengan pembuatan Platform Pembangunan Papua yang diawaki oelh MPW PKS beserta para pakar dan akademisi yang terlibat dalam bedah Paltform tersebut.

Surprise, MPW PKS Papua berhasil menyusun bahan Platform Pembangunan Papua. Bahan itu kini telah diserahkan kepada MPP (Majelis Pertimbangan Pusat) PKS untuk mendapatkan koreksi.

Jika ada MPW PKS di suatu wilayah yang masih mencari bentuk kegiatan, maka MPW PKS Papua telah bekerja dan menunjukkan produktivitas hasil. Dari Papua kita berkaca, sangat banyak hal bisa kita lakukan, walau di tengah jutaan kendala. Mengelola dan memahami 29 Kabupaten dengan medan yang sangat sulit dan persoalan masyarakat yang sangat kompleks, tidak pernah menyurutkan semangat para aktivis di Papua. Mereka eksis di tengah berjuta kendala.

Wawasan Kebangsaan bagi Papua

PKS Dorong Pemerintah Buka Perwakilan di Palestina


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PKS mendorong Indonesia untuk membuka perwakilannya di Palestina. Selama ini Indonesia belum memiliki perwakilan di sana. Sementara, Indonesia perlu memberikan perhatian terhadap Palestina sesuai amanat Pendiri Bangsa.

"Selama ini, kita seperti belum maksimal mendukung kemerdekaan Palestina," jelas Ketua Komisi I DPR, Mahfudz Siddiq, kepada Republika, Selasa (13/3).

Dukungan Indonesia baru berupa lobi-lobi internasional, bahkan hanya sebatas pada retorika. Mahfudz mendukung adanya langkah kongkrit mendukung Palestina bersatu antara faksi Presiden Mahmud Abbas dan Perdana Menteri Ismail Haniyah.

Salah satu caranya adalah membangun kantor perwakilan disana. Hal ini penting agar Indonesia dapat terjun langsung menjalankan amanat pendiri bangsa untuk mendukung Palestina bersatu dan merdeka. Keberadaan kantor perwakilan di sana juga diperlukan untuk mendorong negara-negara lain melakukan hal yang sama.

"Pada gilirannya ini akan menjadi tekanan politik besar bagi Israel untuk tidak bertindak semaunya terhadap Palestina," kata politisi PKS tersebut.

Indonesia, menurutnya, harus bereaksi keras terhadap aksi militer Israel terhadap rakyat sipil Palestina. Dia menilai serangan ini ditargetkan untuk menghancurkan proses rekonsiliasi dua faksi utama Palestina yang sudah disepakati. Dan, ini bukti bahwa Israel tidak akan pernah memberi jalan bagi hadirnya negara Palestina bersatu.


Sumber: Republika

Oknum Partai yang Korupsi versi KOMPAS. Bagaimana Nasib PKS?


KOMPAS cetak hari ini (Rabu, 29/2/12) kembali menyoroti kasus-kasus korupsi di DPR dengan liputan utama berjudul 'Korupsi di DPR Makin Ganas'.

Liputan dilengkapi tabel kasus-kasus korupsi yang melibatkan beragam partai, alhamdulillah PKS tidak tercantum alias tak ada aleg PKS yang terlibat korupsi.

Kasus-kasus yang diangkat KOMPAS antara lain:


•Pembangunan Wisma Atlet Palembang (Rp 200 Milyar - yang melibatkan PD dan PDIP)
•Kasus cek perjalanan terkait pemilihan Miranda S Goeltpm sebagai Deputi Gubernur Senior BI (Rp 24 Milyar - yang melibatkan PPP, PDIP, Golkar)
•Kasus Cek perjalanan terkait proyek alih fungsi hutan lindung Pantai Air Telang, Sumatera Selatan, untuk Pelabuhan Tanjung Api-api (Rp 5 Milyar - yang melibatkan Partai Golkar, PD, PBB)
•Kasus Proyek pengadaan mobil pemadam kebakaran di Riau (Rp 15,2 Milyar - yang melibatkan partai Golkar)
•Kasus Alih fungsi hutan lindung di Pulau Bintan (Rp 2,25 Milyar - yang melibatkan PPP)
•Kasus Proyek pembangunan bandara dan pelabuhan kawasan Indonesia Timur (Rp 1 Milyar - yang melibatkan PAN)

Dalam liputannya harian KOMPAS menulis:


Praktik korupsi di lembaga legislatif saat ini ditengarai semakin ganas. Politisi instan juga semakin banyak. Perbaikan partai politik, terutama terkait transparansi keuangan partai dan pengukuran kinerja kadernya, menjadi jalan utama memperbaiki kondisi Dewan Perwakilan Rakyat.




"Kalau ada yang lebih baik dari PKS, saya pindah ke partai lain"

"Kalau ada yang lebih baik dari PKS, saya pindah ke partai lain". Itulah ucapan Pak Amin Bunyamin, saat pertama kali kader DPRa PKS Pesanggrahan berkenalan dengan salah seorang tokoh masyarakat yang fenomenal di Jl H Gari RW 03, Kelurahan Pesanggrahan, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, sebagaimana ditulis PKS Pesanggrahan di webnya http://pkspesanggrahan.blogspot.com/2012/02/pak-amin-kalau-ada-yang-lebih-baik-saya.html


Semoga ini menjadi ibroh kita semua, khususnya bagi aleg-aleg PKS baik di tingkat DPR pusat maupun DPRD di pelosok nusantara untuk tetap menjaga PARTAI PUTIH ini TETAP BERSIH. Buktikan bahwa 'Harapan itu masih ada'. Ini juga menjadi warning bagi kita semua, jangan sekali-kali 'bermain-main' dengan amanah dakwah.

Kami yang di lapisan bawah hanya bisa berharap sambil terus berdoa agar para aleg-aleg PKS dan juga para pejabat dari PKS dijaga Allah SWT, tetap istiqomah, dimudahkan dan diberi kekuatan olehNYA untuk mengemban amanah, yang bukan hanya akan ditanyakan konstituen, tapi yang lebih dahsyat amanah itu kelak harus dipertanggungjawabkan di Mahkamah Ilahi.

Untuk selengkapnya anda bisa baca langsung di koran KOMPAS edisi Rabu 29/2/12.

Atau edisi online disini:

- http://nasional.kompas.com/read/2012/02/29/09421864/Korupsi.di.DPR.Makin.Ganas

- Tabel disini: http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2012/02/29/0349154p.jpg


*by: ADMIN PKSPiyungan

BidPuan DPC Ulu memberikan bantuan pada Ibu-Ibu yg telah di tinggal wafat lebih dahulu oleh pasangannya.

12/03/12


Dalam rangka selalu menghormati jasa para Ibu yang tidak pernah akan dapat dibalas oleh apapun, maka Bidang Perempuan DPC Samarinda Ulu memberikan Bingkisan kepada Ibu-Ibu yang telah di tinggal wafat lebih dahulu oleh para pendampingnya. Ibu-Ibu tersebut seorang diri mengurus dan membiayai anak-anak mereka yang kebanyakan masih dalam proses Pendidikan dasar dan menengah.
Pemberian bingkisan tersebut hasil kerjasama Bidang Perempuan dengan beberapa Lembaga Zakat yang bersedia memberikan Donasinya untuk mendukung Program kegiatan sosial ini.
Pelaksanaan acara dilaksanakan bertempat di jalan Wiratama Gang Ontel Rt.17,Rt. 18 dan beberapa lokasi di sekitarnya. di sela-sela pemberian Bingkisan tersebut Ibu Vivi yang di daulat memberikan bingkisan tersebut menyatakan bahwa membantu dan menolong sesama manusia bukan hanya perintah Allah tetapi juga kewajiban seorang muslim terhadap muslim yang lain. bahkan berbuat baik itu boleh pada siapapun termasuk berbeda agama tidak menghalangi kita untuk berbuat baik padanya, apalagi memang mereka membutuhkan bantuan" Pungkas Bu Vivi.
Bidang Perempuan DPC Ulu memiliki beragam kegiatan yang sangat padat. hampir setiap minggu terdapat kegiatan-kegitan baru. semoga Bidpuan dapat istiqomah memberikan kontribusi bagi da'wah dan kebaikan di masyarakat.

Kompensasi Kenaikan BBM Tidak Menjangkau Rakyat Miskin


Jakarta (12/3) Penolakan terhadap rencana kenaikan BBM semakin kencang. Dari Senayan, Anggota Komisi VII DPR Muhammad Idris Lutfi tegas mengungkapkan penolakannya. Menurut Idris, kompensasi kenaikan BBM dengan adanya Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) atau yang dulu bernama Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan sejenisnya, tidak akan menyelesaikan masalah dan justru menambah permasalahan baru. “Kenaikan BBM hanya akan menambah jumlah rakyat yang masuk dalam kategori miskin dan mereka yang masuk kategori miskin akan jatuh pada kategori sangat miskin,” ungkapnya di Jakarta, Senin (13/3).

Dalam pandangan Politisi PKS ini, kebijakan kenaikan BBM hanya jalan pintas yang diambil pemerintah dari sekian banyak pilihan kebijakan. Terlebih lagi, survei terbaru yang dilaksanakan oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI), penolakan terhadap kebijakan BBM sangat besar mencapai 86,6 %. “Ini angka yang cukup besar atas penolakan suatu kebijakan. Pemerintah harus berani cari solusi lain, jangan hanya berpikir jalan pintas,” tegas Idris.

Menurut Idris, dengan 40% keluarga Indonesia berpenghasilan di bawah rata-rata dan 20% merupakan golongan yang rentan terhadap kemiskinan, maka jika BBM naik hanya 18,5 juta Kepala Keluarga (KK) atau 74 juta jiwa saja yang dapat BLSM. Jumlah ini hanya sekitar 30% dari mereka yang berpenghasilan di bawah rata-rata.”Lalu bagaimana dengan 10% lagi masyarakat Indonesia yang berpenghasilan di bawah rata-rata dan 20%(12,4juta) masyarakat yang rentan terhadap kemiskinan. Pasti mereka semakin terpuruk,” jelasnya.

Karena itu, lanjut Idris, jika pemerintah serius menggunakan BLSM sebagai kompensasi atas kenaikan BBM, maka berdasarkan data di atas, jumlah yang mendapatkan BLSM seharusnya mencapai 40% masyarakat Indonesia, atau sekitar 24, 7 juta KK, dengan nominal rupiahnya mencapai Rp 33,3 triliun untuk BLSM sebesar Rp 150.000 selama 9 bulan. Jumlah ini ditambah BLSM untuk golongan rentan dengan jumlah Rp 11,16 triliun untuk BLSM sebesar Rp. 100.000 selama 9 bulan. “Totalnya mencapai 44,46 triliun. Artinya, jumlah ini tidak telampau jauh dengan penghematan APBN dari kenaikan BBM yang dicanangkan pemerintah sebesar Rp 51 triliun. Karena itu, pemerintah harus cari jalan lain, karena kompensasi BLSM yang dihitung pemerintah masih jauh dari sasaran,” jelas Idris.

Hal lain yang juga menguatkan penolakan Idris terkait kenaikan BBM, adalah janji pemerintah yang tidak kunjung terealisasi untuk membangun infrastruktur sebagai kompensasi kenaikan BBM. Padahal, infrastruktur berperan penting dalam menciptakan sistem transportasi massal yang murah dan nyaman bagi masyarakat sehingga konsumsi BBM bisa dihemat. Menurutnya, Kebijakan kenaikan BBM tahun ini adalah bukti bahwa pemerintah gagal membangun infrastruktur dan transportasi publik yang nyaman dan menarik masyarakat.

“Selama 7 tahun saya di DPR, pemerintah selalu berdalih bahwa kenaikan BBM akan dikompensasi dengan perbaikan dan pembangunan infrastruktur. Nyatanya jauh panggang dari api. Padahal, infrastruktur berperan penting dalam pembangunan transportasi umum yang nyaman sehingga masyarakat beralih dari mobil pribadi ke transportasi umum dan bisa menghemat konsumsi BBM,” tutupnya.


Sumber: Fraksi PKS DPR RI

[Analisis] Angka Misterius dalam RAPBNP 2012


Oleh Iman Sugema, Phd
Analis ekonomi dan perbankan
Akademisi yang meraih doktor bidang moneter dari ANU University




Sesuai dengan judulnya, analisis kali ini memang ditujukan untuk `membongkar' sejumlah angka dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBNP) yang dianggap `meragukan' kebenarannya. Disebut `meragukan' karena alasan-alasan yang mendasarinya kurang logis atau tidak cukup kuat untuk dipercayai kebenarannya.

Karena penyebab utama yang paling banyak disebut adalah kenaikan harga minyak mentah, kita akan memfokuskan analisis terhadap berbagai komponen APBN yang dipengaruhinya. Tentunya masih banyak isu lain yang ingin dikemukakan. Tetapi, mari kita konsentrasikan diskusi kita kepada empat hal berikut ini.

Pertama, sebagaimana tercantum dalam RAPBNP 2012, target penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari gas diperkirakan akan turun sebesar 14,8 persen dibanding yang ditetapkan dalam APBN 2012. Hampir tidak ada penjelasan mengenai mengapa target tersebut harus diturunkan.

Kenaikan harga minyak mentah biasanya diikuti dengan kenaikan harga gas dan batu bara. Dengan demikian, perubahan asumsi harga minyak mentah dari 90 dolar AS per barel menjadi 105 dolar AS per barel seharusnya diikuti dengan kenaikan penerimaan negara dari PPh migas dan PNBP dari minyak, gas, dan batu bara.Komponen tersebut di atas memang ditetapkan akan mengalami kenaikan kecuali PNBP dari gas.

Bisa jadi, penurunan PNBP dari gas ini diakibatkan oleh penurunan target produksi gas. Kalau demikian, harus ada penjelasan kenapa produksi gas akan turun dan sejauh mana penurunannya. Konteksnya adalah sementara ini pemerintah mengeluhkan terjadinya pembengkakan belanja negara akibat kenaikan beban subsidi.

Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan menggali semua potensi penerimaan semaksimal mungkin. Jangankan kerja keras untuk memaksimalkan penerimaan negara, komponen yang seharusnya mengalami kenaikan kok dibiarkan turun. Ada apa?

Kedua, kenaikan belanja subsidi BBM dan LPG tabung tiga kilogram dari Rp 123, 6 triliun menjadi Rp 137,4 triliun adalah sangat tidak logis. Seharusnya, beban subsidi BBM mengalami penurunan walaupun harga minyak mentah mengalami kenaikan sebesar 15 dolar AS per barel. Berikut adalah penjelasannya.

Besaran perubahan subsidi BBM akan dipengaruhi oleh dua hal, yakni kenaikan harga pokok tanpa subsidi dan kenaikan harga jual bersubsidi. Yang pertama akan menaikkan beban, sedangkan yang kedua akan menurunkan beban subsidi. Pengaruh bersihnya akan sangat bergantung pada berapa besar perbandingan keduanya.

Yang paling gampang adalah menghitung komponen yang kedua. Dengan kenaikan harga eceran dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.000 per liter, akan ada penghematan subsidi sebesar Rp 1.500 per liter. Karena volume yang disubsidi diperkirakan mencapai 40 juta kiloliter atau 40 miliar liter, penghematan yang terjadi adalah sebesar Rp 60 triliun. Angka ini pasti dijamin kebenarannya.

Komponen yang pertama dapat dihitung sebagai berikut.

Kenaikan subsidi terjadi karena dua hal, yaitu kenaikan Indonesia crude price (ICP) sebesar 15 dolar AS per barel dan depresiasi nilai tukar dari Rp 8.800 menjadi Rp 9.000 per dolar AS.

Kenaikan beban subsidi BBM dapat dihitung sebagai berikut.

Kenaikan ICP 15 dolar AS per barel akan sebanding dengan 9,4 sen dolar AS per liter.
Ditambah dengan komponen biaya produksi, biaya distribusi, keuntungan Pertamina dan pajak, harga pokok akan meningkat menjadi 13 sen dolar AS per liter atau ekuivalen dengan Rp 1.132 per liter. Maka itu, beban tambahan untuk menyubsidi 40 miliar liter adalah Rp 45,3 triliun.

Dengan demikian, karena faktor yang dapat mengurangi subsidi adalah lebih besar dibanding faktor yang meningkatkan subsidi, seharusnya beban subsidi dalam RAPBNP 2012 mengalami penurunan. Beban subsidi seharusnya turun sebanyak Rp 15 triliun dan bukannya naik Rp 14 triliun.

Selisih perhitungan saya dengan angka yang ada di RAPBNP mencapai Rp 29 triliun. Sebuah besaran yang tidak mungkin terjadi akibat salah ketik. Mestinya ada kesengajaan untuk membengkakkan perhitungan beban subsidi. Alasannya apa? Harap para anggota DPR mencermati angka ini.

Ketiga adalah sangat sulit untuk memahami pembengkakan subsidi listrik dari Rp 44,9 triliun menjadi Rp 93 triliun. Ini merupakan pembengkakan subsidi dua kali lipat lebih dan tak mungkin hanya merupakan akibat dari kenaikan harga minyak dunia.

Dalam RAPBNP 2012 hanya disebutkan membengkaknya subsidi listrik merupakan akibat dari risiko perubahan berbagai parameter subsidi listrik, seperti penyesuaian commercial operation date (COD) PLTU, keterlambatan pengoperasian Floating Storage Regasification Unit (FSRU), kenaikan harga batu bara, dan kekurangan pembayaran subsidi listrik tahun 2010.

Kenaikan harga batu bara akan linier dengan kenaikan harga minyak mentah yang sekitar 16,7 persen. Kalaupun harga batu bara naik 20 persen, tetap sangat sulit untuk menyebutnya sebagai faktor yang menyebabkan kenaikan subsidi. Dengan harga ICP 105 dolar AS per barel, ongkos pembangkitan PLTU batu bara hanya sekitar delapan atau sembilan sen per kwh. Tanpa subsidi sekalipun, PLTU batu bara tetap bisa beroperasi secara komersial.

Jadi, yang paling mungkin menjadi penyebab pembengkakan subsidi listrik adalah keterlambatan COD dan FSRU. Dalam bahasa sederhananya, terjadi keterlambatan dalam pengalihan energi primer dari PLTU BBM ke PLTU gas dan batu bara. Kalau ini yang terjadi, wajib dipertanyakan siapa yang bertanggung jawab atas keterlambatan ini.


Jangan sampai masyarakat dibebani kenaikan TDL karena pihak-pihak tertentu masih mempertahankan inefisiensi di tubuh PLN akibat menggunakan energi yang mahal, yakni BBM. Ada yang menangguk untung besar dari dipertahankannya BBM sebagai sumber energi PLTU. Padahal, kita bisa mempercepat pemakaian gas dan batu bara yang lebih murah.

Mohon para anggota DPR membongkar siapa yang akan diuntungkan. Yang jelas rakyatlah yang dirugikan.


[REPUBLIKA, 12/3/12]

Berita Terpopuler

DPW PKS KALTIM

Arsip Blog

Tahukah Kita

Renungan & Hikmah

Bidpuan DPC ULU

Dapur Bidpuan Samarinda Ulu


Fraksi DPRD Smd ( Oleh : Utomo Puji )

 
© Copyright PKS Samarinda Ulu 2012 | Design by PKS TEMPLATE | Powered by Blogger.com.